Employee Engagement

Keterikatan kerja, atau dalam bahasa Inggris disebut “employee engagement,” mengacu pada tingkat keterlibatan, komitmen, dan motivasi karyawan terhadap pekerjaan dan organisasi tempat mereka bekerja. Ini adalah konsep penting dalam manajemen sumber daya manusia dan berdampak besar pada produktivitas, retensi karyawan, dan keberhasilan organisasi secara keseluruhan.

Keterikatan kerja mencakup beberapa aspek, termasuk:

  1. Komitmen terhadap Organisasi: Karyawan yang terikat akan merasa memiliki keterikatan emosional dengan perusahaan mereka. Mereka akan lebih cenderung untuk tetap bekerja dalam jangka panjang dan berkontribusi secara positif terhadap kesuksesan organisasi.
  2. Motivasi: Karyawan yang terikat cenderung lebih termotivasi untuk mencapai tujuan organisasi. Mereka akan lebih bersemangat untuk melakukan pekerjaan dengan baik dan mencari cara untuk meningkatkan hasil kerja mereka.
  3. Keterlibatan dengan Pekerjaan: Keterikatan kerja juga mencakup tingkat keterlibatan karyawan terhadap pekerjaan yang mereka lakukan. Karyawan yang terikat akan lebih fokus, berdedikasi, dan merasa terhubung dengan tugas mereka.
  4. Rasa Kepemilikan: Karyawan yang terikat cenderung merasa bahwa mereka memiliki bagian dalam keberhasilan organisasi. Mereka akan merasa bahwa pekerjaan mereka memiliki arti dan kontribusi yang penting.
  5. Hubungan dengan Rekan Kerja: Hubungan yang baik dengan rekan kerja dan atasan juga dapat memengaruhi tingkat keterikatan kerja. Karyawan yang merasa didukung dan diperlakukan dengan baik oleh rekan kerja dan pimpinan mereka lebih cenderung untuk merasa terikat.
  6. Pengembangan Karir: Persepsi bahwa organisasi memberikan peluang untuk pengembangan karir dan pertumbuhan juga dapat meningkatkan tingkat keterikatan kerja.

Keterikatan kerja yang tinggi dapat memiliki dampak positif pada produktivitas, kualitas pekerjaan, inovasi, dan retensi karyawan. Oleh karena itu, banyak organisasi berusaha untuk meningkatkan keterikatan kerja karyawan mereka melalui berbagai inisiatif, seperti komunikasi yang baik, pelatihan dan pengembangan, program penghargaan, dan perhatian terhadap kesejahteraan karyawan

Gambar : Penulis dalam sebuah acara

Teori paling terkenal tentang keterikatan kerja adalah “Teori Keterikatan Kerja” (Employee Engagement Theory) yang dikembangkan oleh William A. Kahn pada tahun 1990-an. Kahn adalah seorang profesor di Boston University, dan konsepnya tentang keterikatan kerja telah menjadi landasan bagi banyak penelitian dan praktik manajemen sumber daya manusia yang berkaitan dengan aspek psikologis karyawan dalam pekerjaan. Teori Kahn menekankan pentingnya karyawan merasa terhubung dengan pekerjaan mereka secara emosional dan kognitif, serta merasa memiliki arti dalam pekerjaan mereka.

Teori Keterikatan Kerja yang dikembangkan oleh William A. Kahn adalah mencakup :

1. Dimensi Keterikatan Kerja: Teori Kahn mengidentifikasi tiga dimensi utama dari keterikatan kerja:

a. Keterikatan Emosional (Emotional Attachment): Ini merujuk pada perasaan karyawan terhadap pekerjaan mereka. Karyawan yang memiliki keterikatan emosional akan merasa senang, antusias, dan terhubung secara emosional dengan tugas-tugas mereka.

b. Keterikatan Kognitif (Cognitive Attachment): Ini melibatkan pemahaman karyawan tentang peran mereka dalam organisasi dan bagaimana peran itu berkontribusi terhadap tujuan organisasi. Mereka menyadari pentingnya pekerjaan mereka dan merasa memiliki arti dalam keseluruhan konteks organisasi.

c. Keterikatan Perilaku (Behavioral Attachment): Ini mencakup tindakan nyata yang diambil oleh karyawan sebagai hasil dari keterikatan mereka terhadap pekerjaan dan organisasi. Karyawan yang terikat secara perilaku akan lebih cenderung berpartisipasi aktif dalam pekerjaan, berkontribusi lebih banyak, dan melakukan usaha ekstra.

2. Konteks Organisasi: Teori Kahn juga mengakui bahwa keterikatan kerja tidak hanya bergantung pada individu karyawan, tetapi juga dipengaruhi oleh konteks organisasi. Faktor-faktor seperti budaya organisasi, dukungan dari atasan, peluang pengembangan karir, dan komunikasi organisasi dapat mempengaruhi tingkat keterikatan karyawan.

3. Pentingnya Keterikatan Kerja: Teori ini menekankan bahwa keterikatan kerja memiliki dampak positif pada produktivitas, retensi karyawan, kepuasan kerja, kinerja, dan inovasi. Karyawan yang terikat lebih cenderung untuk tetap tinggal dalam organisasi, bekerja dengan lebih baik, dan berkontribusi secara signifikan terhadap pencapaian tujuan organisasi.

4. Pengukuran Keterikatan Kerja: Untuk mengukur keterikatan kerja, penelitian dan praktik manajemen sering menggunakan survei dan pertanyaan yang dirancang untuk mengidentifikasi tingkat keterikatan karyawan dalam berbagai dimensi. Ini dapat membantu organisasi memahami sejauh mana karyawan merasa terikat terhadap pekerjaan dan perusahaan.

5. Implementasi dalam Manajemen Sumber Daya Manusia: Banyak organisasi menggunakan konsep keterikatan kerja dalam strategi manajemen sumber daya manusia mereka. Mereka mencoba untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung keterikatan karyawan melalui berbagai inisiatif, termasuk pelatihan, pengembangan karir, komunikasi yang baik, dan pengakuan karyawan.

Dengan fokus pada dimensi emosional, kognitif, dan perilaku keterikatan kerja, Teori Kahn memberikan pemahaman mendalam tentang mengapa karyawan merasa terikat terhadap pekerjaan dan organisasi mereka, serta bagaimana organisasi dapat memanfaatkannya untuk mencapai tujuan mereka dengan lebih efektif.

Tujuan dari Employee Engagement (Keterikatan Kerja Karyawan) adalah menciptakan lingkungan kerja yang positif, produktif, dan berdaya saing dengan melibatkan karyawan secara efektif. Tujuan ini dapat mencakup hal-hal berikut:

  1. Meningkatkan Produktivitas: Salah satu tujuan utama dari Employee Engagement adalah meningkatkan produktivitas karyawan. Karyawan yang merasa terikat dengan pekerjaan dan organisasi mereka lebih cenderung untuk bekerja dengan maksimal dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap tujuan perusahaan.
  2. Meningkatkan Kualitas Pekerjaan: Dengan keterlibatan yang tinggi, karyawan cenderung melakukan pekerjaan dengan lebih baik, lebih fokus pada rincian, dan berusaha untuk mencapai hasil yang berkualitas.
  3. Meningkatkan Retensi Karyawan: Organisasi ingin menjaga karyawan yang berbakat dan berpengalaman. Dengan meningkatkan keterikatan, organisasi dapat mengurangi turnover atau pemutusan hubungan kerja.
  4. Meningkatkan Kepuasan Karyawan: Karyawan yang merasa terikat cenderung lebih puas dengan pekerjaan mereka. Ini dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif dan mengurangi konflik.
  5. Mendorong Inovasi dan Kreativitas: Keterikatan kerja juga dapat menginspirasi karyawan untuk berpikir kreatif dan menciptakan solusi baru untuk masalah organisasi. Mereka merasa memiliki kepentingan dalam keberhasilan perusahaan dan akan berkontribusi secara positif.
  6. Meningkatkan Kualitas Hidup Kerja: Employee Engagement juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup kerja karyawan. Karyawan yang merasa terikat cenderung memiliki pengalaman kerja yang lebih positif dan lebih sedikit stres dalam pekerjaan mereka.
  7. Meningkatkan Reputasi Perusahaan: Perusahaan yang dikenal memiliki tingkat keterikatan kerja yang tinggi cenderung lebih menarik bagi calon karyawan dan dapat membangun reputasi yang baik dalam industri.
  8. Mengurangi Absensi dan Pemutusan Kerja: Dengan keterikatan yang tinggi, karyawan cenderung lebih hadir dan kurang cenderung absen atau cuti yang tidak terjadwal.
  9. Menciptakan Budaya Organisasi yang Positif: Employee Engagement juga bertujuan untuk menciptakan budaya organisasi yang positif, inklusif, dan kolaboratif.
  10. Meningkatkan Keberhasilan Organisasi: Akhirnya, tujuan utama dari Employee Engagement adalah meningkatkan keseluruhan keberhasilan dan daya saing organisasi. Karyawan yang terikat adalah aset berharga yang dapat membantu organisasi mencapai tujuan dan misi mereka.

Mengintegrasikan Employee Engagement ke dalam praktik manajemen sumber daya manusia dapat membantu mencapai semua tujuan ini dan membantu organisasi tetap relevan dan sukses dalam lingkungan bisnis yang kompetitif.

Kekurangan Employee Engagement Theory:

  1. Pengukuran yang Subjektif: Pengukuran keterikatan kerja sering bergantung pada survei dan pertanyaan yang bisa sangat subjektif. Ini dapat menyulitkan organisasi dalam mengukur tingkat keterikatan secara objektif.
  2. Keterikatan yang Berfluktuasi: Keterikatan kerja dapat berfluktuasi dari waktu ke waktu dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal. Ini membuatnya sulit diprediksi dan dikelola dengan konsisten.
  3. Tidak Selalu Membawa Hasil Positif: Meskipun keterikatan kerja sering dianggap positif, terlalu banyak keterikatan dapat mengarah pada stres dan burnout jika karyawan merasa terlalu terlibat dalam pekerjaan mereka.
  4. Tidak Selalu Sama dengan Kinerja Tinggi: Meskipun keterikatan kerja dapat meningkatkan motivasi, hal itu tidak selalu berarti bahwa karyawan yang terikat akan mencapai kinerja yang tinggi. Ada banyak faktor lain yang dapat memengaruhi kinerja, seperti keterampilan dan dukungan organisasi.
  5. Tidak Ada Pendekatan Satu Ukuran: Tidak ada pendekatan tunggal yang cocok untuk semua organisasi. Cara meningkatkan keterikatan kerja dapat berbeda tergantung pada budaya, ukuran, dan karakteristik unik dari setiap organisasi.

Penting untuk diingat bahwa Employee Engagement Theory adalah salah satu alat untuk memahami dan meningkatkan keterikatan karyawan, tetapi bukan solusi ajaib yang berlaku sama untuk setiap situasi. Organisasi harus mempertimbangkan konteks dan karakteristik mereka sendiri saat menerapkan konsep ini

Beberapa contoh buku dan penulis terkenal yang berbicara tentang Employee Engagement Theory sampai dengan tahun 2021. Anda dapat mencari buku-buku ini secara online atau di perpustakaan:

  1. Judul Buku: “The Corporate Culture Survival Guide: Sense and Nonsense About Culture Change”
    Penulis: Edgar H. Schein
    Tahun: 2009
    Penerbit: Jossey-Bass
    Keterangan: Buku ini membahas bagaimana budaya organisasi berperan dalam keterikatan karyawan dan menggali berbagai aspek budaya yang memengaruhi keterikatan kerja.
  2. Judul Buku: “Employee Engagement: The Psychology Behind Individual Behaviors”
    Penulis: Razvan Nistor
    Tahun: 2018
    Penerbit: Routledge
    Keterangan: Buku ini menyajikan wawasan tentang aspek psikologis yang memengaruhi keterikatan kerja karyawan dan bagaimana organisasi dapat meningkatkannya.
  3. Judul Buku: “Employee Engagement: Tools for Analysis, Practice, and Competitive Advantage”
    Penulis: William H. Macey dan Benjamin Schneider
    Tahun: 2008
    Penerbit: Wiley
    Keterangan: Buku ini menyajikan alat-alat dan kerangka kerja praktis untuk menganalisis, memahami, dan meningkatkan keterikatan kerja dalam konteks organisasi.
  4. Artikel: “Employee Engagement: Does the Emperor Need New Clothes?”
    Penulis: Matthew J. Grawitch, David W. Ballard, dan David M. Erb
    Tahun: 2015
    Jurnal: Industrial and Organizational Psychology
    Keterangan: Artikel ini mengulas konsep keterikatan kerja, memeriksa penelitian empiris mengenai dampaknya, dan memberikan wawasan tentang tantangan dalam mengukur dan meningkatkan keterikatan karyawan.

Beberapa Tulisan Ilmiah dari Penulis :

Prayudi, A., Zega, Y., & Nasution, I. (2023). Analisis Pengaruh Lingkungan Kerja, Disiplin Kerja, dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT Indonesia Abadi Jaya. Jurnal Sains Dan Teknologi5(1), 37-43. Retrieved from https://ejournal.sisfokomtek.org/index.php/sai

Sari, W., & Prayudi, A. (2023). Can Competitive Intensity Act a Bridge between Institutional Pressures and Corporate Financial Performance in Indonesia’s Footwear Industry? A Structural Equation Modelling Approach. Transnational Marketing Journal11(1), 199-212. Retrieved from http://transnationalmarket.com/menu-script/index.php/transnational/article/view/323

Pengaruh Kepemimpinan tranformasional, budaya organiasi, kopentensi karyawan terhadap loyalitas karyawan di Badan Usaha Milik Daerah – repo unpas. (2023). Retrieved 27 August 2023, from http://repository.unpas.ac.id/62662/

Pratiwi, H., PRAYUDI, A., SINAGA, K., MAHYUDANIL, M., & ADITI, B. (2022). PENGARUH HARGA DAN KUALITAS PELAYANAN SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN PT. HERFINTA FARM AND PLANTATION. Journal Of Global Business And Management Review4(2), 72. doi: 10.37253/jgbmr.v4i2.7268

Ahmad Prayudi, & Imas Komariyah. (2023). THE IMPACT OF WORK MOTIVATION, WORK ENVIRONMENT, AND CAREER DEVELOPMENT ON EMPLOYEE JOB SATISFACTION. Jurnal Visi Manajemen9(1), 100-112. doi: 10.56910/jvm.v9i1.268

Pratiwi, H., Mendrofa, S., Zega, Y., Prayudi, A., & Sulaiman, F. (2022). Budaya Organisasi Dan Stress Kerja: Pengaruh Terhadap Kinerja Karyawan PT. Herfinta Farm And Plantation. Ekonomi, Keuangan, Investasi Dan Syariah (EKUITAS)4(2), 505-511. doi: 10.47065/ekuitas.v4i2.2592

Amelia, W., Prayudi, A., Khairunnisak, K., Pratama, I., & Febrizaldy, F. (2022). Edukasi Warga Desa Sembahe Baru Dalam Rangka Peningkatan Penghasilan Melalui Ekonomi Kreatif Pengolahan Sampah Plastik. Pelita Masyarakat4(1), 92-100. doi: 10.31289/pelitamasyarakat.v4i1.7378

Sinaga, R., Sinaga, K., Prayudi, A., Pratiwi, H., & Sulaiman, F. (2022). Kepuasan Pelanggan sebagai Faktor Kualitas Pelayanan PT. Mada Graha Nagata dengan Multi Attribute Attitude Model. Ekonomi, Keuangan, Investasi Dan Syariah (EKUITAS)4(1), 198-202. doi: 10.47065/ekuitas.v4i1.2086

Chairunnisa, S., & Prayudi, A. (2022). Pengaruh Fluktuasi Kurs Mata Uang terhadap Harga Saham Pt. Bank Central Asia, Tbk di Indonesia. Economics, Business And Management Science Journal2(2), 108-116. doi: 10.34007/ebmsj.v2i2.293

Prayudi, A. (2022). ANALISIS PENGARUH PENGGAJIAN, FASILITAS KERJA DAN GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA BINJAI. JURNAL MANAJEMEN8(1), 17-30. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/154

Gea, N., Effendi, I., & Prayudi, A. (2021). Pengaruh Manajemen Modal Kerja Terhadap Kinerja Keuangan Pada Perusahaan Sektor Transportasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)2(2), 146-152. doi: 10.31289/jimbi.v2i1.456

Ritonga, S., Effendi, I., & Prayudi, A. (2021). Pengaruh Struktur Modal Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Consumer Goods di BEI. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)2(2), 86-95. doi: 10.31289/jimbi.v2i1.383

Prayudi, A. (2021). KEPUASAN KERJA DAN MOTIVASI KERJA PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA MEDAN. Jurnal Ilmu Manajemen METHONOMIX4(2), 75-84. Retrieved from https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/methonomix/article/view/1109

Latief, A., Ramadansyah, J., Wijoyo, H., Prayudi, A., & Putra, R. (2021). The Influence of Work Motivation and Organizational Culture to Employee Performance. Retrieved 27 August 2023, from https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=3926924

Sinaga, I., Lubis, A., & Prayudi, A. (2020). PENGARUH INTERNET FINANCIAL REPORTING (IFR) DAN TINGKAT PENGUNGKAPAN INFORMASI WEBSITE TERHADAP FREKUENSI PERDAGANGAN SAHAM PADA PERUSAHAAN PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BEI. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(2). doi: 10.31289/jimbi.v1i2.394

Br Lubis, H., Effendi, I., & Prayudi, A. (2020). PENGARUH TINGKAT MODAL KERJA TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN OTOMOTIF & KOMPONEN YANG TERDAFTAR DI BEI PERIODE 2014 – 2018. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(2). doi: 10.31289/jimbi.v1i2.396

Brahamana, N., & Prayudi, A. (2020). Analisis Profitabilitas Dalam Pemberian Kredit Pada Koperasi Kredit Unam Berastagi. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(1), 131-140. Retrieved from https://mail.jurnalmahasiswa.uma.ac.id/index.php/jimbi/article/view/376

Prayudi, A. (2020). PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP KINERJA KARYAWAN DENGAN MOTIVASI KERJA SEBAGAI VARIABEL INTERVENING (STUDI PADA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA BINJAI). JURNAL MANAJEMEN1(2), 63-72. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/128

Prayudi, A., & Tanjung, M. (2018). ANALISIS KINERJA PERUSAHAAN DENGAN METODE BALANCED SCORECARD PADA PT. RIA BUSANA MEDAN. JURNAL MANAJEMEN4(2), 126-130. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/33

Prayudi, A. (2017). PENGARUH KEPEMIMPINAN DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PT. RAJAWALI NUSINDO CABANG MEDAN. JURNAL MANAJEMEN3(2), 20-27. Retrieved from http://ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/10

Prayudi, A., & Ilhammi, N. (2015). ANALISIS RASIO UTANG ATAS MODAL DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP PENGEMBALIAN SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA. JURNAL AKUNTANSI DAN BISNIS : Jurnal Program Studi Akuntansi1(2). Retrieved from https://www.ojs.uma.ac.id/index.php/jurnalakundanbisnis/article/view/1723

Komariyah, I., Prayudi, A., Edison, E., & Laelawati, K. (2023). THE RELATIONSHIP BETWEEN ORGANIZATIONAL CULTURE AND COMPETENCE WITH ORGANIZATIONAL COMMITMENT IN EMPLOYEES OF BUMD BINJAI, NORTH SUMATRA. Jurnal Riset Bisnis Dan Manajemen16(2), 210-218. doi: 10.23969/jrbm.v16i2.7572

https://scholar.google.co.id/citations?user=7Lb6gbUAAAAJ&hl=id&authuser=2

 

Apa itu Brand Loyalty dan Brand Trust

Brand loyalty, atau loyalitas merek, adalah tingkat kesetiaan dan preferensi konsumen terhadap suatu merek atau produk tertentu. Ini berarti bahwa konsumen yang memiliki brand loyalty cenderung memilih dan membeli produk atau layanan dari merek yang sama secara konsisten, bahkan ketika ada pilihan lain yang tersedia di pasar. Mereka juga cenderung memberikan rekomendasi positif tentang merek tersebut kepada orang lain.

Latar belakang dari brand loyalty bisa melibatkan berbagai faktor, seperti:

  1. Kualitas Produk: Jika suatu merek terus menerus menghasilkan produk atau layanan yang berkualitas tinggi, konsumen cenderung akan loyal karena mereka telah mengalami manfaat positif dari merek tersebut.
  2. Pengalaman Pelanggan: Pengalaman pelanggan yang positif, baik dalam hal layanan pelanggan, pelayanan purna jual, atau interaksi dengan merek, dapat meningkatkan brand loyalty.
  3. Identitas Merek: Merek yang memiliki nilai-nilai atau identitas yang sesuai dengan nilai-nilai dan identitas konsumen juga cenderung membangun loyalitas pelanggan.
  4. Program Loyalti: Program-program loyalitas, seperti kartu hadiah atau poin loyalitas, dapat mendorong konsumen untuk tetap memilih merek yang sama untuk mendapatkan manfaat tambahan.
  5. Reputasi Merek: Reputasi positif suatu merek di pasar dapat mempengaruhi keputusan konsumen untuk tetap setia.
  6. Komunikasi Merek: Kampanye pemasaran dan komunikasi merek yang efektif dapat memperkuat kesetiaan konsumen dengan mengkomunikasikan nilai dan manfaat produk atau layanan.

Membangun brand loyalty memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan oleh perusahaan. Berikut adalah beberapa kelebihan dan kekurangan dari membangun brand loyalty:

Kelebihan Membangun Brand Loyalty:

  1. Pendapatan yang Stabil: Brand loyalty dapat menghasilkan pendapatan yang stabil dan berkelanjutan karena konsumen yang setia cenderung membeli produk atau layanan dari merek yang sama secara teratur. Ini mengurangi fluktuasi pendapatan.
  2. Biaya Pemasaran yang Lebih Rendah: Mempertahankan pelanggan yang sudah ada seringkali lebih ekonomis daripada menarik pelanggan baru. Pelanggan yang loyal cenderung memerlukan upaya pemasaran dan promosi yang lebih sedikit.
  3. Rekomendasi Positif: Pelanggan yang setia sering kali memberikan rekomendasi positif kepada orang lain, yang dapat membantu merek untuk menarik pelanggan baru.
  4. Peningkatan Penjualan Silang: Pelanggan yang loyal cenderung lebih mungkin untuk mencoba produk atau layanan baru yang diperkenalkan oleh merek yang sama.
  5. Ketahanan Terhadap Persaingan: Merek dengan brand loyalty yang kuat lebih tahan terhadap persaingan karena pelanggan setia cenderung kurang rentan terhadap promosi dari pesaing.

Kekurangan Membangun Brand Loyalty:

  1. Biaya Perolehan Pelanggan: Memiliki brand loyalty yang kuat memerlukan waktu, upaya, dan sumber daya untuk membangunnya. Mungkin diperlukan investasi signifikan dalam program-program loyalitas dan pemasaran.
  2. Tingkat Harapan yang Tinggi: Pelanggan yang loyal cenderung memiliki tingkat harapan yang tinggi terhadap merek tersebut. Jika merek tidak memenuhi ekspektasi mereka, mereka dapat pindah ke merek lain dengan cepat.
  3. Risiko Kejenuhan: Pelanggan yang sangat setia mungkin menjadi jenuh dengan merek tersebut jika tidak ada inovasi atau pembaruan yang cukup. Ini bisa mengakibatkan mereka beralih ke merek lain.
  4. Keterbatasan Pertumbuhan: Fokus yang terlalu kuat pada mempertahankan pelanggan yang sudah ada dapat menghambat pertumbuhan merek dengan mengurangi upaya untuk menarik pelanggan baru.
  5. Rentan Terhadap Perubahan Pasar: Perubahan tren pasar, perubahan dalam preferensi konsumen, atau peristiwa tak terduga bisa memengaruhi brand loyalty dan menyebabkan penurunan dalam penjualan.
  6. Persaingan yang Intens: Saat persaingan ketat, merek harus terus menerus berinovasi dan mempertahankan kualitas untuk menjaga loyalitas pelanggan, yang bisa menjadi tugas yang sulit.

Berikut adalah beberapa contoh penerapan brand loyalty di perusahaan-perusahaan yang berbeda:

  1. Program Kartu Loyalitas Starbucks: Starbucks adalah contoh yang baik dari perusahaan yang sukses menerapkan program kartu loyalitas. Dengan program “Starbucks Rewards,” pelanggan dapat mengumpulkan poin setiap kali mereka membeli minuman atau produk Starbucks. Poin-poin ini kemudian dapat ditukarkan dengan minuman gratis atau barang lainnya. Program ini mendorong pelanggan untuk kembali ke Starbucks secara teratur, membangun brand loyalty, dan meningkatkan retensi pelanggan.
  2. Apple dan Ekosistemnya: Apple adalah perusahaan lain yang memiliki brand loyalty yang sangat kuat. Mereka telah membangun ekosistem produk dan layanan yang saling terintegrasi, seperti iPhone, iPad, Mac, dan layanan iCloud. Pelanggan yang sudah memiliki satu produk Apple cenderung membeli produk lain di ekosistem tersebut karena kenyamanan dan kompatibilitasnya, menciptakan brand loyalty yang kuat.
  3. Amazon Prime: Amazon telah berhasil membangun brand loyalty melalui program Amazon Prime. Anggota Prime menikmati sejumlah manfaat, termasuk pengiriman cepat dan gratis, akses ke layanan streaming video dan musik, serta berbagai penawaran eksklusif. Ini telah mendorong banyak pelanggan untuk tetap berbelanja di Amazon secara teratur dan menjadi pelanggan setia.
  4. Nike dan Komunitas Sneakerheads: Nike telah membangun brand loyalty yang kuat di antara pecinta sepatu atau “sneakerheads.” Mereka secara teratur merilis desain sepatu yang terbatas dan berkolaborasi dengan selebriti dan atlet terkenal. Ini menciptakan rasa eksklusivitas dan komunitas di sekitar merek, mendorong pelanggan untuk tetap setia dan terus membeli produk Nike.
  5. Coca-Cola dan Kampanye Berkelanjutan: Coca-Cola memiliki brand loyalty yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Mereka terus mempromosikan citra merek mereka dengan kampanye berkelanjutan, seperti “Open Happiness” dan “Share a Coke.” Meskipun banyak pesaing di pasar minuman ringan, Coca-Cola telah berhasil mempertahankan banyak pelanggan setia di seluruh dunia.

Gambar : Penulis dalam suatu kegiatan pengabdian kepada masyarkat

Brand trust, atau kepercayaan merek, merujuk pada tingkat kepercayaan dan keyakinan konsumen terhadap suatu merek atau perusahaan. Ini mencerminkan keyakinan konsumen bahwa merek tersebut akan memenuhi janji-janji mereka, memberikan produk atau layanan berkualitas, dan berperilaku dengan etika dan integritas yang baik. Brand trust adalah elemen penting dalam membangun hubungan jangka panjang antara merek dan pelanggan.

Latar belakang dari brand trust adalah kompleks dan melibatkan sejumlah faktor, di antaranya:

  1. Kualitas Produk dan Layanan: Salah satu fondasi utama dari brand trust adalah kemampuan merek untuk secara konsisten menghasilkan produk atau layanan berkualitas tinggi. Ketika pelanggan merasa bahwa produk atau layanan yang mereka beli dapat diandalkan, mereka lebih cenderung mempercayai merek tersebut.
  2. Integritas dan Etika: Perilaku etis dan integritas merek sangat penting dalam membangun kepercayaan. Merek yang berkomitmen pada prinsip-prinsip yang benar, seperti transparansi, keadilan, dan tanggung jawab sosial, cenderung lebih dipercayai oleh konsumen.
  3. Pengalaman Pelanggan Positif: Pengalaman pelanggan yang positif, termasuk pelayanan pelanggan yang baik, respon cepat terhadap masalah, dan interaksi yang menyenangkan, dapat membantu membangun brand trust.
  4. Reputasi Merek: Reputasi positif di pasar, baik dalam hal kinerja produk maupun tanggung jawab sosial perusahaan, dapat meningkatkan tingkat kepercayaan konsumen.
  5. Transparansi dan Komunikasi yang Jujur: Merek yang terbuka dan jujur dalam komunikasi mereka dengan pelanggan cenderung lebih dipercayai. Ini mencakup pengungkapan informasi tentang produk, harga, dan praktik bisnis.
  6. Pengalaman Merek yang Konsisten: Merek yang mempertahankan konsistensi dalam penampilan, pesan, dan nilai-nilai merek mereka memiliki potensi lebih besar untuk membangun kepercayaan yang kuat.
  7. Umpan Balik Pelanggan: Menerima dan merespons umpan balik pelanggan dengan baik dapat membantu merek memperbaiki dan mengoptimalkan produk dan layanan mereka, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kepercayaan konsumen.
  8. Kepatuhan Hukum dan Regulasi: Mematuhi semua hukum dan regulasi yang berlaku dalam bisnis adalah penting untuk membangun kepercayaan, karena pelanggaran etika atau hukum dapat merusak reputasi merek.

Penggunaan brand trust oleh perusahaan memiliki sejumlah kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan dengan cermat. Berikut adalah beberapa contoh:

Kelebihan Menggunakan Brand Trust:

  1. Loyalitas Pelanggan yang Kuat: Membangun brand trust dapat membantu menciptakan pelanggan yang setia dan cenderung memilih produk atau layanan perusahaan secara berulang. Mereka lebih mungkin untuk tetap membeli dari merek tersebut bahkan ketika ada pesaing di pasar.
  2. Reputasi yang Baik: Brand trust yang kuat dapat membantu membangun reputasi yang baik di mata pelanggan, yang dapat menjadi aset berharga dalam jangka panjang. Reputasi yang baik dapat mendukung pertumbuhan perusahaan, memudahkan ekspansi ke pasar baru, dan mengurangi risiko.
  3. Kemampuan Meningkatkan Harga: Perusahaan dengan brand trust yang kuat cenderung memiliki lebih banyak fleksibilitas dalam menetapkan harga produk atau layanan mereka. Pelanggan yang percaya pada merek tersebut bersedia membayar premi lebih tinggi atas produk atau layanan yang mereka anggap berkualitas.
  4. Kemungkinan Rekomendasi Pelanggan: Pelanggan yang mempercayai merek cenderung memberikan rekomendasi positif kepada teman, keluarga, dan rekan mereka. Ini dapat membantu perusahaan mendapatkan lebih banyak pelanggan potensial secara organik.

Kekurangan Menggunakan Brand Trust:

  1. Waktu dan Upaya yang Dibutuhkan: Membangun brand trust memerlukan waktu dan upaya yang signifikan. Perusahaan harus secara konsisten memenuhi janji-janji mereka kepada pelanggan dan membangun reputasi yang baik, yang bisa memakan waktu bertahun-tahun.
  2. Resiko Kehilangan Kepercayaan: Sekali kepercayaan pelanggan terhadap merek tergoyahkan, sulit untuk memulihkannya. Skandal, produk cacat, atau pengalaman pelanggan buruk dapat merusak brand trust dan berdampak negatif pada bisnis.
  3. Ketidakpastian Pasar: Kondisi pasar, tren, dan preferensi konsumen dapat berubah secara tiba-tiba. Brand trust yang kuat tidak selalu cukup untuk mengatasi perubahan ini, dan perusahaan harus tetap fleksibel dan adaptif.
  4. Peningkatan Tuntutan Pelanggan: Ketika pelanggan telah mempercayai suatu merek, mereka cenderung memiliki harapan yang lebih tinggi terhadap produk, layanan, dan perilaku merek. Perusahaan harus terus berupaya memenuhi harapan ini, yang bisa meningkatkan biaya operasional.
  5. Persaingan yang Intens: Dalam lingkungan bisnis yang kompetitif, perusahaan harus tetap waspada dan berinovasi agar tidak kehilangan pangsa pasar mereka kepada pesaing yang menawarkan nilai yang lebih baik atau lebih tinggi.

Berikut adalah beberapa contoh penerapan brand trust di perusahaan-perusahaan terkenal:

  1. Apple: Apple adalah contoh utama perusahaan dengan brand trust yang sangat kuat. Mereka telah membangun reputasi untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi yang berfokus pada desain, kinerja, dan inovasi. Apple juga dikenal karena menjaga privasi pelanggan dengan ketat dalam produk dan layanannya, yang menciptakan kepercayaan tambahan. Selain itu, Apple sering kali melakukan kampanye pemasaran yang menekankan keunggulan merek mereka dalam hal keamanan dan privasi.
  2. Amazon: Amazon telah membangun brand trust melalui pengiriman yang cepat dan andal, kebijakan pengembalian yang baik, dan layanan pelanggan yang responsif. Kepercayaan pelanggan kepada Amazon juga diperkuat melalui program Amazon Prime, yang memberikan sejumlah manfaat eksklusif kepada anggotanya, seperti pengiriman gratis dan akses ke konten digital.
  3. Tesla: Tesla adalah produsen mobil listrik yang telah berhasil membangun brand trust dalam industri otomotif. Merek ini dikenal karena inovasi teknologinya dan komitmen terhadap mobil yang ramah lingkungan. Kepercayaan tambahan diberikan melalui pembaruan perangkat lunak yang terus menerus, yang memungkinkan pemilik Tesla untuk mengalami peningkatan performa dan fitur tanpa harus membeli mobil baru.
  4. The Coca-Cola Company: Coca-Cola adalah merek minuman ringan yang memiliki brand trust yang kuat selama bertahun-tahun. Merek ini terkenal karena konsistensi rasa produk mereka dan kampanye pemasaran yang mendalam. Coca-Cola juga telah terlibat dalam banyak program sosial dan lingkungan yang telah membangun citra positif di mata konsumen.
  5. Dove (Unilever): Dove, merek perawatan tubuh milik Unilever, telah membangun brand trust dengan fokus pada pesan kecantikan yang positif dan kampanye yang merayakan keberagaman dan keunikan individu. Merek ini juga terkenal karena kampanye “Campaign for Real Beauty,” yang menekankan pesan kecantikan yang sejati dan tidak terdistorsi.

Brand loyalty dan brand trust adalah dua konsep yang terkait dalam manajemen merek, tetapi mereka memiliki perbedaan yang signifikan:

Brand Loyalty (Loyalitas Merek):

  1. Definisi: Brand loyalty merujuk pada tingkat kesetiaan dan preferensi konsumen terhadap suatu merek atau produk tertentu. Ini berarti bahwa konsumen yang memiliki brand loyalty cenderung memilih dan membeli produk atau layanan dari merek yang sama secara konsisten.
  2. Fokus Utama: Brand loyalty fokus pada tindakan pembelian konsumen dan kecenderungan untuk memilih merek yang sama berulang kali.
  3. Contoh: Seorang pelanggan yang selalu memilih merek X ketika membeli produk tertentu adalah contoh brand loyalty. Mereka mungkin selalu membeli sepatu merek X atau minuman soda merek Y tanpa mempertimbangkan merek lain.

Brand Trust (Kepercayaan Merek):

  1. Definisi: Brand trust merujuk pada tingkat kepercayaan dan keyakinan konsumen terhadap suatu merek atau perusahaan. Ini mencerminkan keyakinan konsumen bahwa merek tersebut akan memenuhi janji-janji mereka, memberikan produk atau layanan berkualitas, dan berperilaku dengan etika dan integritas yang baik.
  2. Fokus Utama: Brand trust fokus pada aspek kepercayaan, etika, integritas, dan kualitas merek. Ini melibatkan kepercayaan konsumen terhadap merek untuk memberikan produk atau layanan yang baik dan berperilaku dengan baik dalam bisnis mereka.
  3. Contoh: Seorang konsumen yang mempercayai merek X untuk selalu menghasilkan produk berkualitas tinggi, menghormati privasi pelanggan, dan berkomitmen pada tanggung jawab sosial adalah contoh brand trust. Mereka mungkin tidak hanya membeli produk merek X secara konsisten tetapi juga merekomendasikan merek tersebut kepada orang lain berdasarkan kepercayaan mereka.

Jadi, perbedaan utama antara keduanya adalah bahwa brand loyalty lebih fokus pada tindakan pembelian dan preferensi konsumen terhadap merek, sementara brand trust lebih fokus pada tingkat kepercayaan dan keyakinan konsumen terhadap etika, integritas, dan kualitas merek. Meskipun keduanya dapat terkait, memiliki brand trust yang kuat dapat menjadi dasar bagi brand loyalty yang kokoh, karena konsumen cenderung memilih merek yang mereka percayai dan yakini akan memberikan nilai yang baik.

Berikut beberapa buku dan artikel yang berhubungan dengan brand loyalty dan brand trust, beserta informasi tambahan:

Buku:

  1. “Building Strong Brands” oleh David A. Aaker (1995, Free Press): Buku ini adalah referensi klasik dalam bidang manajemen merek. Aaker membahas strategi untuk membangun merek yang kuat, termasuk aspek-aspek yang memengaruhi brand loyalty dan brand trust.
  2. “Brand Trust: A Study on the Investigative Influence on Consumer Behavior” oleh Annika Frey dan Ann-Kathrin Leonhardt (2012, VDM Verlag): Buku ini mendalami konsep brand trust dan bagaimana kepercayaan konsumen memengaruhi perilaku konsumen.
  3. “Building Brand Value the Playboy Way” oleh Elizabeth Norris (2009, Palgrave Macmillan): Buku ini menggambarkan bagaimana Playboy membangun dan memelihara brand loyalty dan brand trust selama bertahun-tahun sebagai merek ikonik.

Artikel:

  1. “The Role of Brand Trust in E-commerce in Developing Countries” oleh Zohreh Esmaeili, Bahman Mohammadi, dan Arash Shahin (2019, Journal of Promotion Management): Artikel ini membahas peran brand trust dalam perdagangan elektronik di negara-negara berkembang.
  2. “Brand Loyalty and Customer Loyalty” oleh Nor Aishah Buang, Aslinda Mohd. Ismail, dan Wan Fauziah Wan Yusoff (2015, Procedia – Social and Behavioral Sciences): Artikel ini membahas hubungan antara brand loyalty dan loyalitas pelanggan serta faktor-faktor yang memengaruhinya.
  3. “The Influence of Brand Trust and Brand Identification on Brand Evangelism” oleh Kevin Lane Keller dan Susan Fournier (2012, Marketing Science): Artikel ini membahas bagaimana brand trust dan identifikasi merek mempengaruhi perilaku pengkhotbah merek (brand evangelism), yaitu konsumen yang dengan antusias merekomendasikan merek kepada orang lain.
  4. “The Role of Brand Trust in Building Brand Loyalty: The Emotional and Rational Paths” oleh Chatura Ranaweera dan Priyanga Gunawardana (2014, Journal of Marketing Theory and Practice): Artikel ini membahas peran brand trust dalam membangun brand loyalty, dengan mempertimbangkan aspek emosional dan rasional dari proses tersebut.

Beberapa Tulisan Ilmiah dari Penulis :

Prayudi, A., Zega, Y., & Nasution, I. (2023). Analisis Pengaruh Lingkungan Kerja, Disiplin Kerja, dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT Indonesia Abadi Jaya. Jurnal Sains Dan Teknologi5(1), 37-43. Retrieved from https://ejournal.sisfokomtek.org/index.php/sai

Sari, W., & Prayudi, A. (2023). Can Competitive Intensity Act a Bridge between Institutional Pressures and Corporate Financial Performance in Indonesia’s Footwear Industry? A Structural Equation Modelling Approach. Transnational Marketing Journal11(1), 199-212. Retrieved from http://transnationalmarket.com/menu-script/index.php/transnational/article/view/323

Pengaruh Kepemimpinan tranformasional, budaya organiasi, kopentensi karyawan terhadap loyalitas karyawan di Badan Usaha Milik Daerah – repo unpas. (2023). Retrieved 27 August 2023, from http://repository.unpas.ac.id/62662/

Pratiwi, H., PRAYUDI, A., SINAGA, K., MAHYUDANIL, M., & ADITI, B. (2022). PENGARUH HARGA DAN KUALITAS PELAYANAN SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN PT. HERFINTA FARM AND PLANTATION. Journal Of Global Business And Management Review4(2), 72. doi: 10.37253/jgbmr.v4i2.7268

Ahmad Prayudi, & Imas Komariyah. (2023). THE IMPACT OF WORK MOTIVATION, WORK ENVIRONMENT, AND CAREER DEVELOPMENT ON EMPLOYEE JOB SATISFACTION. Jurnal Visi Manajemen9(1), 100-112. doi: 10.56910/jvm.v9i1.268

Pratiwi, H., Mendrofa, S., Zega, Y., Prayudi, A., & Sulaiman, F. (2022). Budaya Organisasi Dan Stress Kerja: Pengaruh Terhadap Kinerja Karyawan PT. Herfinta Farm And Plantation. Ekonomi, Keuangan, Investasi Dan Syariah (EKUITAS)4(2), 505-511. doi: 10.47065/ekuitas.v4i2.2592

Amelia, W., Prayudi, A., Khairunnisak, K., Pratama, I., & Febrizaldy, F. (2022). Edukasi Warga Desa Sembahe Baru Dalam Rangka Peningkatan Penghasilan Melalui Ekonomi Kreatif Pengolahan Sampah Plastik. Pelita Masyarakat4(1), 92-100. doi: 10.31289/pelitamasyarakat.v4i1.7378

Sinaga, R., Sinaga, K., Prayudi, A., Pratiwi, H., & Sulaiman, F. (2022). Kepuasan Pelanggan sebagai Faktor Kualitas Pelayanan PT. Mada Graha Nagata dengan Multi Attribute Attitude Model. Ekonomi, Keuangan, Investasi Dan Syariah (EKUITAS)4(1), 198-202. doi: 10.47065/ekuitas.v4i1.2086

Chairunnisa, S., & Prayudi, A. (2022). Pengaruh Fluktuasi Kurs Mata Uang terhadap Harga Saham Pt. Bank Central Asia, Tbk di Indonesia. Economics, Business And Management Science Journal2(2), 108-116. doi: 10.34007/ebmsj.v2i2.293

Prayudi, A. (2022). ANALISIS PENGARUH PENGGAJIAN, FASILITAS KERJA DAN GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA BINJAI. JURNAL MANAJEMEN8(1), 17-30. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/154

Gea, N., Effendi, I., & Prayudi, A. (2021). Pengaruh Manajemen Modal Kerja Terhadap Kinerja Keuangan Pada Perusahaan Sektor Transportasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)2(2), 146-152. doi: 10.31289/jimbi.v2i1.456

Ritonga, S., Effendi, I., & Prayudi, A. (2021). Pengaruh Struktur Modal Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Consumer Goods di BEI. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)2(2), 86-95. doi: 10.31289/jimbi.v2i1.383

Prayudi, A. (2021). KEPUASAN KERJA DAN MOTIVASI KERJA PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA MEDAN. Jurnal Ilmu Manajemen METHONOMIX4(2), 75-84. Retrieved from https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/methonomix/article/view/1109

Latief, A., Ramadansyah, J., Wijoyo, H., Prayudi, A., & Putra, R. (2021). The Influence of Work Motivation and Organizational Culture to Employee Performance. Retrieved 27 August 2023, from https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=3926924

Sinaga, I., Lubis, A., & Prayudi, A. (2020). PENGARUH INTERNET FINANCIAL REPORTING (IFR) DAN TINGKAT PENGUNGKAPAN INFORMASI WEBSITE TERHADAP FREKUENSI PERDAGANGAN SAHAM PADA PERUSAHAAN PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BEI. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(2). doi: 10.31289/jimbi.v1i2.394

Br Lubis, H., Effendi, I., & Prayudi, A. (2020). PENGARUH TINGKAT MODAL KERJA TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN OTOMOTIF & KOMPONEN YANG TERDAFTAR DI BEI PERIODE 2014 – 2018. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(2). doi: 10.31289/jimbi.v1i2.396

Brahamana, N., & Prayudi, A. (2020). Analisis Profitabilitas Dalam Pemberian Kredit Pada Koperasi Kredit Unam Berastagi. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(1), 131-140. Retrieved from https://mail.jurnalmahasiswa.uma.ac.id/index.php/jimbi/article/view/376

Prayudi, A. (2020). PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP KINERJA KARYAWAN DENGAN MOTIVASI KERJA SEBAGAI VARIABEL INTERVENING (STUDI PADA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA BINJAI). JURNAL MANAJEMEN1(2), 63-72. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/128

Prayudi, A., & Tanjung, M. (2018). ANALISIS KINERJA PERUSAHAAN DENGAN METODE BALANCED SCORECARD PADA PT. RIA BUSANA MEDAN. JURNAL MANAJEMEN4(2), 126-130. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/33

Prayudi, A. (2017). PENGARUH KEPEMIMPINAN DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PT. RAJAWALI NUSINDO CABANG MEDAN. JURNAL MANAJEMEN3(2), 20-27. Retrieved from http://ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/10

Prayudi, A., & Ilhammi, N. (2015). ANALISIS RASIO UTANG ATAS MODAL DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP PENGEMBALIAN SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA. JURNAL AKUNTANSI DAN BISNIS : Jurnal Program Studi Akuntansi1(2). Retrieved from https://www.ojs.uma.ac.id/index.php/jurnalakundanbisnis/article/view/1723

Komariyah, I., Prayudi, A., Edison, E., & Laelawati, K. (2023). THE RELATIONSHIP BETWEEN ORGANIZATIONAL CULTURE AND COMPETENCE WITH ORGANIZATIONAL COMMITMENT IN EMPLOYEES OF BUMD BINJAI, NORTH SUMATRA. Jurnal Riset Bisnis Dan Manajemen16(2), 210-218. doi: 10.23969/jrbm.v16i2.7572