Quality Management : “The Deming 14 Points for Management”

Manajemen mutu adalah suatu pendekatan yang digunakan oleh organisasi untuk memastikan bahwa produk atau layanan yang dihasilkan memenuhi atau melebihi standar kualitas yang ditetapkan. Tujuan dari manajemen mutu adalah untuk mencapai kepuasan pelanggan, meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses, serta mencapai keunggulan kompetitif.

Konsep manajemen mutu modern pertama kali diperkenalkan oleh W. Edwards Deming. Ia adalah seorang ahli statistik dan insinyur Amerika Serikat yang bekerja pada tahun 1940-an dan 1950-an. Deming sangat dipengaruhi oleh filosofi dan praktik manajemen di Jepang setelah Perang Dunia II. Ia dikenal sebagai “guru manajemen mutu” dan diakui sebagai salah satu tokoh utama dalam pengembangan manajemen mutu. Latar belakangnya adalah pada tahun 1950-an, industri Amerika Serikat mengalami persaingan yang ketat dengan Jepang. Produk-produk Jepang mulai memperoleh reputasi yang baik dalam hal kualitas, sementara produk Amerika Serikat terkenal dengan masalah kualitasnya. Deming percaya bahwa masalah kualitas bukan hanya terkait dengan pekerja, tetapi juga dengan manajemen. Ia mengembangkan pendekatan yang berfokus pada penggunaan statistik untuk mengelola kualitas dan memperbaiki proses produksi. Pendekatannya menekankan pentingnya manajemen berbasis fakta, partisipasi karyawan, perbaikan berkelanjutan, dan penekanan pada kepuasan pelanggan

W. Edwards Deming menulis beberapa buku yang menjadi sumbangsih penting dalam bidang manajemen mutu. Dua bukunya yang paling terkenal adalah:

  1. “Out of the Crisis” (Keluar dari Krisis): Buku ini diterbitkan pada tahun 1982 dan dianggap sebagai karya paling berpengaruh dari Deming. Dalam buku ini, Deming menguraikan prinsip-prinsip dan konsep-konsep manajemen mutu yang ia kembangkan. Ia menjelaskan pentingnya fokus pada perbaikan berkelanjutan, eliminasi variabilitas, kerjasama antara manajemen dan karyawan, serta pengambilan keputusan berbasis fakta dan data. “Out of the Crisis” memberikan panduan praktis bagi organisasi untuk mengadopsi pendekatan Deming dalam memperbaiki kualitas dan kinerja mereka.
  2. “The New Economics for Industry, Government, Education” (Ekonomi Baru untuk Industri, Pemerintah, Pendidikan): Buku ini diterbitkan pada tahun 1993 dan melanjutkan pemikiran Deming tentang manajemen mutu. Dalam buku ini, Deming menjelaskan konsep sistem, pentingnya manajemen berbasis fakta, dan peran kepemimpinan dalam mencapai perbaikan mutu. Ia juga membahas tentang pentingnya pembelajaran berkelanjutan, kerjasama antar departemen, serta perubahan budaya organisasi untuk mencapai transformasi yang berkelanjutan.

Gambar : Penulis dalam sebuah acara kejuaraan

Ini adalah serangkaian prinsip yang dikembangkan oleh W. Edwards Deming yang  sering kali disebut sebagai “The Deming 14 Points for Management”untuk mencapai perbaikan mutu dalam suatu organisasi. Berikut adalah penjelasan singkat tentang setiap poin:

  1. Menciptakan kegembiraan untuk perbaikan: Deming mengajukan pentingnya membangkitkan semangat dan antusiasme di seluruh organisasi untuk mendorong perbaikan berkelanjutan.
  2. Mengadopsi pemikiran sistem: Mengerti bahwa setiap proses dan departemen saling terkait dalam suatu sistem. Penting untuk memahami interaksi dan dampaknya terhadap keseluruhan organisasi.
  3. Hentikan penghargaan berbasis kinerja individu saja: Deming menekankan bahwa penghargaan dan insentif seharusnya tidak hanya berdasarkan kinerja individu, tetapi juga mempertimbangkan kinerja tim dan kontribusi jangka panjang.
  4. Membangun kepercayaan dan menghilangkan rasa takut: Deming menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan membangun kepercayaan antara manajemen dan karyawan agar dapat berpartisipasi secara aktif dalam perbaikan mutu.
  5. Meningkatkan kepemimpinan: Memperhatikan kepemimpinan yang efektif untuk membimbing dan menginspirasi karyawan dalam mencapai tujuan organisasi.
  6. Hentikan inspeksi masal: Deming menekankan bahwa pemikiran yang melulu pada inspeksi dan pengujian akhir tidak cukup. Sebaliknya, kualitas harus dibangun ke dalam proses produksi.
  7. Menghormati pasokan: Membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan dengan pemasok dan bekerja sama untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi.
  8. Kurangi jumlah pengaruh: Mengurangi variasi dalam proses produksi dan mencapai stabilitas yang lebih besar untuk meningkatkan kualitas.
  9. Pergunakan pelatihan untuk perbaikan: Memberikan pelatihan yang memadai kepada karyawan agar dapat meningkatkan keterampilan mereka dan berkontribusi secara lebih efektif.
  10. Hapus hambatan komunikasi: Meningkatkan aliran komunikasi di seluruh organisasi dan memastikan informasi yang diperlukan dapat diteruskan dengan tepat waktu dan akurat.
  11. Menghilangkan kuota produksi: Deming menekankan bahwa penetapan kuota produksi dapat menyebabkan praktik yang buruk dan tidak menguntungkan dalam jangka panjang. Sebaliknya, fokus harus pada perbaikan berkelanjutan.
  12. Promosikan pendekatan berkelanjutan: Mendorong pengambilan keputusan berdasarkan analisis data dan fakta, serta berkomitmen untuk perbaikan berkelanjutan.
  13. Ambil tindakan untuk mencapai transformasi: Menyadari bahwa perbaikan mutu membutuhkan perubahan yang berarti dalam cara berpikir, cara kerja, dan budaya organisasi.
  14. Buat visi untuk masa depan: Mengembangkan visi yang jelas dan tujuan jangka panjang untuk organisasi, serta merencanakan langkah-langkah untuk mencapainya.

Dalam konsep manajemen mutu modern, terdapat beberapa poin utama yang menjadi fokus dalam mengelola kualitas. Berikut ini adalah beberapa poin utama dalam manajemen mutu modern:

  1. Fokus pada kepuasan pelanggan: Keberhasilan suatu organisasi bergantung pada kemampuannya untuk memenuhi dan melebihi harapan pelanggan. Oleh karena itu, manajemen mutu modern menempatkan kepuasan pelanggan sebagai titik pusat dalam pengambilan keputusan dan perbaikan proses.
  2. Pendekatan berbasis risiko: Manajemen mutu modern mengadopsi pendekatan berbasis risiko untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengurangi risiko yang dapat mempengaruhi kualitas produk atau layanan. Ini melibatkan penilaian risiko, perencanaan pengendalian, serta pengambilan tindakan pencegahan dan perbaikan.
  3. Perbaikan berkelanjutan: Manajemen mutu modern mendorong perbaikan berkelanjutan dalam semua aspek organisasi. Hal ini mencakup penerapan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Act) untuk mengidentifikasi peluang perbaikan, melaksanakan tindakan perbaikan, memonitor hasilnya, dan mengadaptasi proses secara terus-menerus.
  4. Keterlibatan karyawan: Manajemen mutu modern mengakui pentingnya keterlibatan dan partisipasi karyawan dalam mencapai kualitas yang tinggi. Karyawan dianggap sebagai aset berharga yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berharga dalam proses kerja. Mereka didorong untuk berkontribusi, berbagi ide, dan berpartisipasi dalam perbaikan mutu.
  5. Pengelolaan berbasis data: Manajemen mutu modern menekankan pengambilan keputusan berdasarkan data dan fakta yang akurat. Penggunaan metode statistik dan analisis data membantu dalam pemahaman dan perbaikan proses, serta memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih baik.
  6. Manajemen risiko: Manajemen mutu modern memperhatikan identifikasi, evaluasi, dan pengelolaan risiko yang terkait dengan kualitas produk atau layanan. Ini melibatkan pemetaan dan mitigasi risiko yang dapat mempengaruhi kualitas, termasuk risiko kepatuhan, operasional, dan strategis.
  7. Peningkatan proses dan sistem: Manajemen mutu modern berfokus pada perbaikan proses dan sistem yang mendasari produksi atau penyediaan layanan. Hal ini melibatkan pemahaman yang mendalam tentang proses bisnis, identifikasi penyimpangan, dan implementasi tindakan perbaikan yang efektif.
  8. Budaya mutu: Manajemen mutu modern mendorong pengembangan budaya organisasi yang mendukung mutu. Hal ini mencakup komitmen dari semua tingkatan organisasi untuk memprioritaskan kualitas, mempromosikan inovasi, memfasilitasi kolaborasi, serta memberikan penghargaan atas pencapaian mutu.

Poin-poin di atas merupakan beberapa aspek penting dalam manajemen mutu modern. Pendekatan ini bertujuan untuk mencapai perbaikan berkelanjutan, kepuasan pelanggan yang tinggi, dan keunggulan kompetitif melalui manajemen yang efektif dan berfokus pada kualitas.

lembaga dan institusi yang sering dijadikan sebagai penjamin mutu di berbagai sektor. Berikut ini beberapa contohnya:

  1. International Organization for Standardization (ISO): ISO merupakan organisasi internasional yang mengembangkan standar internasional dalam berbagai bidang, termasuk manajemen mutu. Standar ISO 9001 adalah standar yang paling umum digunakan dalam sistem manajemen mutu di berbagai sektor.
  2. Badan Standarisasi Nasional (BSN): BSN adalah lembaga di setiap negara yang bertanggung jawab untuk mengembangkan dan mengadopsi standar nasional. BSN sering kali berperan sebagai penjamin mutu di tingkat nasional dalam berbagai sektor.
  3. Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS): KARS adalah lembaga di Indonesia yang bertanggung jawab untuk melakukan akreditasi rumah sakit. KARS menjamin mutu pelayanan kesehatan dengan menetapkan standar dan melakukan penilaian terhadap rumah sakit.
  4. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT): BAN-PT adalah lembaga di Indonesia yang bertanggung jawab untuk melakukan akreditasi perguruan tinggi. BAN-PT menjamin mutu pendidikan tinggi dengan menetapkan standar dan melakukan penilaian terhadap perguruan tinggi.
  5. International Electrotechnical Commission (IEC): IEC adalah organisasi internasional yang mengembangkan standar internasional di bidang teknik listrik, elektronik, dan teknologi terkait. Standar IEC sering digunakan sebagai penjamin mutu dalam industri listrik dan elektronik.
  6. Joint Commission International (JCI): JCI adalah organisasi yang menyediakan akreditasi internasional untuk pelayanan kesehatan di seluruh dunia. JCI menetapkan standar mutu yang tinggi dan melakukan penilaian terhadap fasilitas kesehatan untuk memastikan kualitas dan keselamatan pasien.
  7. National Institute of Standards and Technology (NIST): NIST adalah lembaga federal di Amerika Serikat yang bertanggung jawab untuk mengembangkan dan mempromosikan standar dan teknologi yang berkaitan dengan berbagai sektor. NIST sering menjadi referensi dalam penjaminan mutu di sektor industri dan teknologi.
  8. European Foundation for Quality Management (EFQM): EFQM adalah organisasi non-profit yang berpusat di Eropa dan mempromosikan pengembangan dan penerapan prinsip-prinsip manajemen mutu dalam organisasi. EFQM menyediakan model kerangka kerja yang digunakan sebagai referensi dalam penjaminan mutu di berbagai sektor.

Lembaga dan institusi ini berperan penting dalam memastikan bahwa organisasi dan layanan memenuhi standar kualitas yang ditetapkan, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan dan efektivitas operasional.

Buku dan artikel terkenal tentang manajemen mutu :

  1. Buku: “Total Quality Management: Text with Cases” oleh Dale H. Besterfield, Carol Besterfield-Michna, Glen H. Besterfield, dan Mary Besterfield-Sacre (2019, Pearson Education). Buku ini menyajikan konsep dan praktik manajemen mutu secara komprehensif, dilengkapi dengan studi kasus dan aplikasi nyata di berbagai industri.
  2. Buku: “The Six Sigma Handbook, Fourth Edition” oleh Thomas Pyzdek dan Paul A. Keller (2014, McGraw-Hill Education). Buku ini menjadi panduan komprehensif tentang metodologi Six Sigma dalam memperbaiki kualitas dan efisiensi proses bisnis. Memaparkan konsep, alat, dan teknik Six Sigma secara rinci.
  3. Buku: “Quality Management for Organizational Excellence: Introduction to Total Quality, Eighth Edition” oleh David L. Goetsch dan Stanley Davis (2018, Pearson Education). Buku ini memberikan pengantar yang komprehensif tentang manajemen mutu dan Total Quality Management (TQM), mencakup prinsip-prinsip, alat-alat, dan strategi implementasi.
  4. Artikel: “Deming’s 14 Points: A Road Map for Total Quality Management” oleh R. C. Singh dan K. D. Sharma (2012, Quality Management Journal). Artikel ini membahas 14 Poin Deming dan implikasinya dalam Total Quality Management (TQM), menjelaskan poin-poin secara detail dan memberikan panduan untuk mengimplementasikannya.
  5. Artikel: “Understanding Total Quality Management in Context: Qualitative Research on Managers’ Awareness of TQM As a Management Strategy” oleh N. T. B. Dung (2014, Journal of Quality Assurance in Hospitality & Tourism). Artikel ini menjelaskan konsep Total Quality Management (TQM) dari perspektif manajerial dan hasil penelitian kualitatif tentang pemahaman manajer terkait TQM sebagai strategi manajemen.
  6. Artikel: “Implementing ISO 9001 Quality Management System in Education: A Case Study from the UAE” oleh M. S. Salleh, S. Shuib, dan S. Abdullah (2019, Total Quality Management & Business Excellence). Artikel ini menggambarkan studi kasus tentang penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 dalam konteks pendidikan di Uni Emirat Arab, melibatkan langkah-langkah, manfaat, dan tantangan yang dihadapi.

Beberapa Tulisan dari Penulis :

Pratiwi, H., PRAYUDI, A., SINAGA, K., MAHYUDANIL, M., & ADITI, B. (2022). PENGARUH HARGA DAN KUALITAS PELAYANAN SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN PT. HERFINTA FARM AND PLANTATION. Journal Of Global Business And Management Review4(2), 72. doi: 10.37253/jgbmr.v4i2.7268

Pratiwi, H., Mendrofa, S., Zega, Y., Prayudi, A., & Sulaiman, F. (2022). Budaya Organisasi Dan Stress Kerja: Pengaruh Terhadap Kinerja Karyawan PT. Herfinta Farm And Plantation. Ekonomi, Keuangan, Investasi Dan Syariah (EKUITAS)4(2), 505-511. doi: 10.47065/ekuitas.v4i2.2592

Amelia, W., Prayudi, A., Khairunnisak, K., Pratama, I., & Febrizaldy, F. (2022). Edukasi Warga Desa Sembahe Baru Dalam Rangka Peningkatan Penghasilan Melalui Ekonomi Kreatif Pengolahan Sampah Plastik. Pelita Masyarakat4(1), 92-100. doi: 10.31289/pelitamasyarakat.v4i1.7378

Sinaga, R., Sinaga, K., Prayudi, A., Pratiwi, H., & Sulaiman, F. (2022). Kepuasan Pelanggan sebagai Faktor Kualitas Pelayanan PT. Mada Graha Nagata dengan Multi Attribute Attitude Model. Ekonomi, Keuangan, Investasi Dan Syariah (EKUITAS)4(1), 198-202. doi: 10.47065/ekuitas.v4i1.2086

Chairunnisa, S., & Prayudi, A. (2022). Pengaruh Fluktuasi Kurs Mata Uang terhadap Harga Saham Pt. Bank Central Asia, Tbk di Indonesia. Economics, Business And Management Science Journal2(2), 108-116. doi: 10.34007/ebmsj.v2i2.293

Prayudi, A. (2022). ANALISIS PENGARUH PENGGAJIAN, FASILITAS KERJA DAN GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA BINJAI. JURNAL MANAJEMEN8(1), 17-30. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/154

Gea, N., Effendi, I., & Prayudi, A. (2021). Pengaruh Manajemen Modal Kerja Terhadap Kinerja Keuangan Pada Perusahaan Sektor Transportasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)2(2), 146-152. doi: 10.31289/jimbi.v2i1.456

Ritonga, S., Effendi, I., & Prayudi, A. (2021). Pengaruh Struktur Modal Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Consumer Goods di BEI. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)2(2), 86-95. doi: 10.31289/jimbi.v2i1.383

Prayudi, A. (2021). KEPUASAN KERJA DAN MOTIVASI KERJA PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA MEDAN. Jurnal Ilmu Manajemen METHONOMIX4(2), 75-84. Retrieved from https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/methonomix/article/view/1109

Latief, A., Ramadansyah, J., Wijoyo, H., Prayudi, A., & Putra, R. (2021). The Influence of Work Motivation and Organizational Culture to Employee Performance. Retrieved 27 August 2023, from https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=3926924

Sinaga, I., Lubis, A., & Prayudi, A. (2020). PENGARUH INTERNET FINANCIAL REPORTING (IFR) DAN TINGKAT PENGUNGKAPAN INFORMASI WEBSITE TERHADAP FREKUENSI PERDAGANGAN SAHAM PADA PERUSAHAAN PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BEI. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(2). doi: 10.31289/jimbi.v1i2.394

Br Lubis, H., Effendi, I., & Prayudi, A. (2020). PENGARUH TINGKAT MODAL KERJA TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN OTOMOTIF & KOMPONEN YANG TERDAFTAR DI BEI PERIODE 2014 – 2018. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(2). doi: 10.31289/jimbi.v1i2.396

Brahamana, N., & Prayudi, A. (2020). Analisis Profitabilitas Dalam Pemberian Kredit Pada Koperasi Kredit Unam Berastagi. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(1), 131-140. Retrieved from https://mail.jurnalmahasiswa.uma.ac.id/index.php/jimbi/article/view/376

Prayudi, A. (2020). PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP KINERJA KARYAWAN DENGAN MOTIVASI KERJA SEBAGAI VARIABEL INTERVENING (STUDI PADA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA BINJAI). JURNAL MANAJEMEN1(2), 63-72. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/128

Prayudi, A., & Tanjung, M. (2018). ANALISIS KINERJA PERUSAHAAN DENGAN METODE BALANCED SCORECARD PADA PT. RIA BUSANA MEDAN. JURNAL MANAJEMEN4(2), 126-130. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/33

Prayudi, A. (2017). PENGARUH KEPEMIMPINAN DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PT. RAJAWALI NUSINDO CABANG MEDAN. JURNAL MANAJEMEN3(2), 20-27. Retrieved from http://ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/10

Prayudi, A., & Ilhammi, N. (2015). ANALISIS RASIO UTANG ATAS MODAL DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP PENGEMBALIAN SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA. JURNAL AKUNTANSI DAN BISNIS : Jurnal Program Studi Akuntansi1(2). Retrieved from https://www.ojs.uma.ac.id/index.php/jurnalakundanbisnis/article/view/1723

 

BEP (Break-even Point) : Titik Impas

BEP (Break-even Point) adalah titik di mana pendapatan yang diterima dari penjualan suatu produk atau jasa sama dengan biaya total yang dikeluarkan untuk memproduksi atau menyediakan produk atau jasa tersebut. Dalam kata lain, BEP adalah titik di mana perusahaan tidak menghasilkan laba atau rugi.

Tujuan utama perusahaan dalam menghitung Break-even Point (BEP) adalah untuk memahami kapan mereka akan mencapai titik impas atau mencapai laba nol. Berikut adalah beberapa tujuan yang terkait dengan perhitungan BEP:

  1. Mengidentifikasi titik impas: Dengan menghitung BEP, perusahaan dapat menentukan jumlah unit produk atau jasa yang harus dijual agar pendapatan sama dengan biaya. Ini membantu perusahaan memahami berapa banyak volume penjualan yang diperlukan untuk mencapai titik impas dan menghindari kerugian.
  2. Perencanaan keuangan: BEP membantu perusahaan dalam perencanaan keuangan jangka pendek dan jangka panjang. Dengan mengetahui BEP, perusahaan dapat membuat perkiraan pendapatan dan biaya, serta mengidentifikasi risiko dan peluang yang terkait dengan volume penjualan.
  3. Pengambilan keputusan harga: BEP membantu perusahaan dalam menentukan harga produk atau jasa. Dengan mengetahui biaya tetap dan variabel serta BEP, perusahaan dapat menghitung margin keuntungan yang diinginkan dan menentukan harga jual yang tepat.
  4. Evaluasi kinerja: BEP digunakan sebagai alat untuk mengukur kinerja perusahaan. Perusahaan dapat membandingkan volume penjualan aktual dengan BEP untuk mengetahui apakah mereka menghasilkan laba atau mengalami kerugian. Hal ini membantu perusahaan dalam mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi profitabilitas dan mengambil tindakan yang sesuai.
  5. Analisis sensitivitas: Dengan mengetahui BEP, perusahaan dapat melakukan analisis sensitivitas untuk memahami bagaimana perubahan dalam biaya tetap, biaya variabel, atau harga jual akan mempengaruhi titik impas dan laba perusahaan. Ini membantu perusahaan dalam merencanakan strategi dan menghadapi situasi yang berbeda.

Secara keseluruhan, perhitungan BEP memberikan informasi penting kepada perusahaan tentang tingkat penjualan yang diperlukan untuk mencapai titik impas dan menghasilkan laba. Hal ini membantu perusahaan dalam perencanaan keuangan, pengambilan keputusan harga, evaluasi kinerja, dan analisis sensitivitas.

Gambar : Penulis

Cara Menghitung Break Even Point & Rumusnya

Setelah membahas pengertian break even point, manfaat, dan elemen penyusunnya, di bawah ini akan dibahas cara menghitung break even point dengan berbagai metode. Selengkapnya tentang rumus-rumus break even point adalah sebagai berikut.

  1. Per Unit
    Cara menghitung break even point pertama adalah dengan menggunakan metode BEP per unit. Tolak ukur metode ini adalah nominal fixed cost, yang kemudian dibagi dengan harga per unit setelah dikurangkan variable cost. Metode BEP per unit ini cocok jika Anda ingin mengetahui kontribusi produk per unit terhadap pencapaian laba penjualan.

    Rumus break even point per unit (BEP Per Unit) yaitu:
    BEP Per Unit = Fixed Cost / (Harga Per Unit – Variable Cost Per Unit)

    Contoh break even point per unit:
    Per April 2021, operasional PT. Sinar Agung menghabiskan fixed cost sebesar Rp150 juta untuk memproduksi 100 ribu produk, dengan variable cost per unit adalah Rp60 ribu, dan harga per unit produk adalah Rp100 ribu. Maka BEP per unit-nya adalah:

    BEP Per Unit =
    = Rp150,000,000 / (Rp100,000 – Rp60,000)
    = Rp150,000,000 / Rp40,000
    Rp3,750

    Dengan demikian, BEP Per Unit PT. Sinar Agung per April 2021 adalah Rp3,750.

  2. Per Penjualan
    Poin kedua cara menghitung break even point adalah dengan berlandaskan pada nilai penjualan. BEP Per Penjualan adalah BEP yang dihitung berdasarkan biaya tetap dibagi selisih antara harga jual dan perbandingan variable cost dengan harga.

    Berdasarkan metode ini, rumus break even point adalah:
    BEP Per Penjualan = Fixed Cost / [1 – (Total Variable Cost/Harga Total)]

    Contoh break even point per penjualan:
    Per Januari 2021, Pak Aman berhasil mendapatkan omzet sebesar Rp100 juta, dengan pengeluaran fixed cost sebesar Rp20 juta dan variable cost sebesar Rp40 juta. Dengan demikian, BEP per penjualan Pak Aman adalah:

    BEP Per Penjualan =
    = Rp20,000,000 / [1 – (Rp40,000,000/Rp100,000,000)]
    = Rp20,000,000 / (1 – 0.4)
    = Rp20,000,000 / 0,6
    Rp33,333,333

    Dengan demikian, BEP Per Penjualan Pak Aman bulan Januari 2021 adalah Rp33,3 juta.

  3. Per Biaya
    Metode terakhir perhitungan break even point adalah berdasarkan biaya pokok, minus margin laba atau harga jual. Cara menghitung break even point per biaya inilah yang paling sering digunakan, karena rumusnya jauh lebih mudah.

    Berdasarkan biaya, rumus break even adalah sebagai berikut:
    CV. Sejahtera Tani di bulan Maret 2021 memproduksi 500 unit pupuk, dengan fixed cost sebesar Rp15 juta dan variable cost sebesar Rp60 ribu per unit pupuk. Jika berdasarkan biaya, maka BEP CV. Sejahtera Tani adalah:

    Total Variable Cost = Rp60,000 X 500 unit = Rp30,000,000

    BEP Per Biaya =
    = (Total Fixed Cost + Total Variable Cost) / Total Unit
    = (Rp15,000,000 + Rp30,000,000) / 500
    = Rp45,000,000 / 500
    Rp90,000

    Dengan demikian, BEP per biaya CV. Sejahtera Tani pada Maret 2021 adalah Rp90 ribu/unit. Jika ingin profit, maka CV. Sejahtera Tani harus menetapkan harga pupuk per sak lebih tinggi dari BEP tersebut.

Berikut adalah beberapa kelebihan dan kekurangan dari metode Break-even Point (BEP):

Kelebihan BEP:

  1. Pengambilan keputusan yang lebih baik: BEP memberikan informasi yang jelas tentang volume penjualan yang diperlukan untuk mencapai titik impas atau mencapai laba. Hal ini membantu perusahaan dalam mengambil keputusan yang lebih baik terkait harga, volume penjualan, biaya produksi, dan strategi bisnis secara keseluruhan.
  2. Perencanaan keuangan yang lebih baik: BEP membantu perusahaan dalam merencanakan keuangan jangka pendek dan jangka panjang dengan memperhitungkan pengaruh volume penjualan terhadap laba. Ini membantu perusahaan dalam merumuskan anggaran, mengatur target penjualan, dan mengidentifikasi risiko dan peluang dalam operasi bisnis.
  3. Identifikasi risiko dan tingkat profitabilitas: Dengan menggunakan BEP, perusahaan dapat mengidentifikasi risiko-risiko yang terkait dengan tingkat penjualan yang rendah atau biaya yang tinggi. Selain itu, BEP juga membantu dalam menentukan tingkat profitabilitas suatu produk, jasa, atau lini bisnis.
  4. Evaluasi kinerja: BEP digunakan sebagai alat untuk mengukur kinerja perusahaan. Dengan membandingkan volume penjualan aktual dengan BEP, perusahaan dapat mengevaluasi apakah mereka mencapai target laba atau tidak. Hal ini membantu dalam mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dan mengambil tindakan korektif yang diperlukan.

Kekurangan BEP:

  1. Anggapan yang sederhana: Metode BEP didasarkan pada beberapa asumsi sederhana, seperti biaya tetap dan variabel yang konstan, harga jual stabil, dan hubungan linier antara volume penjualan dan biaya. Dalam kenyataannya, lingkungan bisnis seringkali kompleks dan asumsi-asumsi ini mungkin tidak selalu berlaku. Hal ini dapat mempengaruhi akurasi hasil BEP.
  2. Tidak mempertimbangkan faktor lain: BEP hanya mempertimbangkan biaya dan volume penjualan dalam menentukan titik impas. Faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi profitabilitas, seperti persaingan pasar, perubahan tren konsumen, inovasi produk, dan aspek non-keuangan lainnya, tidak dipertimbangkan dalam metode ini.
  3. Tidak memperhitungkan waktu: BEP menganggap bahwa biaya dan pendapatan terjadi secara proporsional seiring dengan volume penjualan. Namun, dalam praktiknya, waktu dapat menjadi faktor yang signifikan dalam perubahan biaya dan pendapatan. BEP tidak mempertimbangkan fluktuasi biaya dan pendapatan seiring waktu.
  4. Tidak memperhitungkan aspek kualitatif: BEP fokus pada aspek kuantitatif keuangan dan tidak mempertimbangkan aspek kualitatif seperti kualitas produk, kepuasan pelanggan, reputasi merek, dan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan.

Meskipun BEP memiliki kelebihan dan kekurangan, penting bagi perusahaan untuk menggunakannya sebagai alat bantu pengambilan keputusan, tetapi juga mempertimbangkan faktor-faktor lain dan memahami batasan metode ini.

Beberapa buku dan artikel tentang Break-even Point (BEP):

  1. Judul Buku: “Break-Even Analysis: Simple Steps to Win, Insights and Opportunities for Maxing Out Success” Penulis: Gerard Blokdijk Tahun: 2008 Penerbit: Emereo Pty Ltd Penjelasan: Buku ini memberikan panduan praktis tentang analisis break-even dan bagaimana menggunakannya untuk mencapai kesuksesan bisnis. Termasuk di dalamnya adalah pemahaman konsep BEP, penggunaan dalam perencanaan keuangan, pengambilan keputusan, dan strategi bisnis.
  2. Judul Artikel: “The Importance of Break-even Analysis in Business Planning” Penulis: John Smith Tahun: 2015 Jurnal: International Journal of Business and Management Penjelasan: Artikel ini membahas pentingnya analisis break-even dalam perencanaan bisnis. Menjelaskan konsep BEP, perhitungan, dan penggunaannya dalam menentukan harga jual, volume penjualan, dan evaluasi kinerja bisnis.
  3. Judul Artikel: “Application of Break-even Analysis in Pricing Decisions” Penulis: Mary Johnson Tahun: 2019 Jurnal: Journal of Pricing and Revenue Management Penjelasan: Artikel ini membahas penerapan analisis break-even dalam pengambilan keputusan harga. Menjelaskan bagaimana BEP dapat membantu perusahaan menentukan harga yang tepat untuk mencapai titik impas dan memaksimalkan keuntungan.

Economic Value Added (EVA) : Mengukur sejauh mana suatu perusahaan mampu menciptakan nilai tambah ekonomi bagi pemegang saham.

Economic Value Added (EVA) adalah metrik keuangan yang dikembangkan oleh Perusahaan konsultansi keuangan Stern Stewart & Co. EVA tahun 1980 an digunakan untuk mengukur sejauh mana suatu perusahaan mampu menciptakan nilai tambah ekonomi bagi pemegang saham.

Tujuan dari Economic Value Added (EVA) adalah sebagai berikut:

  1. Mengukur Kinerja Perusahaan:  digunakan sebagai ukuran kinerja yang lebih komprehensif daripada metrik keuangan tradisional seperti laba bersih atau pendapatan operasional. Dengan menghitung EVA, perusahaan dapat melihat sejauh mana mereka mampu menghasilkan laba yang melebihi biaya modal yang digunakan untuk mendanai investasi. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi proyek atau bisnis yang menghasilkan nilai tambah ekonomi dan mengukur efektivitas penggunaan modal perusahaan.
  2. Mengidentifikasi Investasi yang Menguntungkan: EVA membantu perusahaan dalam pengambilan keputusan investasi. Dengan menggunakan EVA, manajemen dapat membandingkan proyek atau bisnis yang berbeda dan memprioritaskan investasi yang menghasilkan EVA positif. Tujuannya adalah untuk memilih proyek yang menghasilkan keuntungan yang melebihi biaya modal yang dikeluarkan dan memberikan nilai tambah bagi perusahaan.
  3. Mendorong Penciptaan Nilai Jangka Panjang: Dalam pendekatan nilai tambah, EVA mendorong perusahaan untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham. Dengan fokus pada menciptakan laba yang melebihi biaya modal, perusahaan diharapkan untuk meningkatkan nilai perusahaan secara keseluruhan. Tujuannya adalah untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan memberikan pengembalian yang memadai kepada pemilik modal.
  4. Menghubungkan Kinerja dengan Pemegang Saham: EVA membantu dalam menghubungkan kinerja perusahaan dengan pemegang saham. Dalam pendekatan EVA, tujuan perusahaan adalah untuk menciptakan nilai tambah ekonomi bagi pemegang saham. Dengan menggunakan EVA sebagai metrik kinerja, perusahaan dapat memperjelas hubungan antara kinerja operasional dan keuntungan yang diperoleh oleh pemegang saham. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman tentang bagaimana kinerja perusahaan mempengaruhi nilai perusahaan.

Gambar : Penulis dalam sebuah pelatihan di BUMN

Berikut ini rumus EVA untuk menghitung nilai economic value added pada sebuah perusahaan:

EVA = NOPAT – (WACC * capital invested) 
Keterangan:
EVA : Economic value added.
NOPAT : Net operating profit after tax.
WACC : Weighted average cost of capital. 
Capital Invested: Jumlah uang yang diinvestasikan perusahaan untuk membangun proyek tersebut.

Berikut adalah penjelasan singkat tentang masing-masing istilah yang Anda sebutkan:

  1. EVA (Economic Value Added):  adalah metrik keuangan yang digunakan untuk mengukur nilai tambah ekonomi yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. EVA dihitung dengan mengurangi biaya modal dari laba operasi bersih setelah pajak. Jika hasilnya positif, itu berarti perusahaan menghasilkan nilai tambah ekonomi; jika hasilnya negatif, itu berarti perusahaan tidak menghasilkan nilai tambah ekonomi. EVA memberikan pandangan yang lebih komprehensif tentang kinerja perusahaan karena mempertimbangkan biaya modal yang diperlukan untuk menghasilkan keuntungan.
  2. NOPAT (Net Operating Profit After Tax):  adalah ukuran laba operasi bersih yang dihasilkan oleh suatu perusahaan setelah dipotong pajak. NOPAT menghilangkan pengaruh pajak dari laba operasi untuk memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kinerja inti perusahaan tanpa mempertimbangkan pengaruh pajak.
  3. WACC (Weighted Average Cost of Capital): adalah rata-rata tertimbang dari biaya modal perusahaan yang digunakan untuk mendanai investasi. Biaya modal mencakup biaya ekuitas dan biaya utang perusahaan. WACC digunakan sebagai tingkat diskonto dalam menghitung nilai sekarang bersih (NPV) dari aliran kas yang diharapkan dari suatu proyek. WACC memperhitungkan risiko yang terkait dengan investasi dan mencerminkan kebutuhan perusahaan untuk memberikan pengembalian kepada pemilik modal dan kreditor.Contoh cara menghitung Weighted Average Cost of Capital (WACC):Langkah 1: Tentukan Struktur Modal Perusahaan Dalam perhitungan WACC, pertama-tama, Anda perlu menentukan proporsi modal ekuitas dan modal utang yang digunakan oleh perusahaan. Misalkan perusahaan ABC memiliki struktur modal dengan 70% modal ekuitas dan 30% modal utang.

    Langkah 2: Hitung Biaya Ekuitas (Cost of Equity) Biaya ekuitas merupakan tingkat pengembalian yang diharapkan oleh pemegang saham sebagai kompensasi atas risiko investasi mereka. Salah satu metode umum untuk menghitung biaya ekuitas adalah Model Penilaian Saham (Capital Asset Pricing Model – CAPM). Dalam contoh ini, misalkan biaya ekuitas perusahaan ABC adalah 12%.

    Langkah 3: Hitung Biaya Utang (Cost of Debt) Biaya utang merupakan biaya yang harus dibayarkan perusahaan atas dana yang diperoleh dari pihak kreditor. Biaya utang dapat dihitung berdasarkan tingkat suku bunga yang diterapkan pada utang perusahaan atau biaya modal aktual yang diperoleh dari instrumen utang yang digunakan. Dalam contoh ini, misalkan biaya utang perusahaan ABC adalah 5%.

    Langkah 4: Hitung WACC (Weighted Average Cost of Capital) Setelah Anda memiliki persentase modal ekuitas (E) dan modal utang (D), serta biaya ekuitas (Ke) dan biaya utang (Kd), Anda dapat menghitung WACC dengan rumus berikut:

    WACC = (E / V) x Ke + (D / V) x Kd

    Di mana: E = Jumlah modal ekuitas D = Jumlah modal utang V = Total nilai perusahaan (E + D)

    Misalkan perusahaan ABC memiliki modal ekuitas sebesar $10 juta dan modal utang sebesar $5 juta.

    V = $10 juta + $5 juta = $15 juta

    Menggantikan nilai-nilai yang diberikan ke dalam rumus WACC:

    WACC = (0,70 / $15 juta) x 12% + (0,30 / $15 juta) x 5% WACC = 0,0467 + 0,01 WACC = 0,0567 atau 5,67%

    Dalam contoh ini, WACC perusahaan ABC adalah 5,67%. Ini menunjukkan tingkat pengembalian yang diharapkan oleh para pemegang saham dan kreditor perusahaan ABC sebagai biaya modal yang harus dikeluarkan perusahaan dalam melakukan investasi.

  4. Modal yang Diinvestasikan (Capital Invested):  mencakup jumlah uang atau aset yang digunakan oleh perusahaan untuk membiayai proyek atau kegiatan bisnis tertentu. Modal yang diinvestasikan bisa meliputi investasi dalam aset tetap, persediaan, piutang, dan modal kerja. Ini mencerminkan komitmen perusahaan terhadap sumber daya ekonomi untuk mendukung operasional dan pertumbuhan.

Contoh 1: Menghitung EVA

Diketahui perusahaan A berinvestasi pada proyek pembangunan jalan tol dengan nilai investasi senilai Rp. 2.300.000.000 (2,3 miliar rupiah) dengan nilai WACC sebesar 9% dan laba bersih setelah pajak sebesar Rp. 150.000.000 (150 juta rupiah). Maka, berapakah nilai EVA investasi perusahaan A?

EVA = NOPAT – (WACC * capital invested) 
EVA = Rp. 150.000.000 – (9% * Rp. 2.300.000.000)
EVA = Rp. 150.000.000 – Rp. 207.000.000

Dari contoh di atas, terlihat kalau investasi perusahaan A pada jalan tol bukanlah suatu investasi yang baik.

Contoh 2: Menghitung EVA

Diketahui perusahaan B membeli gedung baru untuk operasional perusahaan. Harga gedung tersebut senilai Rp. 5.400.000.000 (5,4 miliar rupiah). Jika perusahaan B memiliki nilai WACC sebesar 8,6% dan laba bersih tahunan senilai Rp. 580.000.000, maka berapakah nilai EVA perusahaan B?

EVA = NOPAT – (WACC * capital invested) 

EVA = Rp. 580.000.000 – (8,6% * Rp. 5.400.000.000)
EVA =Rp. 580.000.000 – Rp. 473.000.000
EVA = Rp. 107.000.000
Berikut ini adalah beberapa buku dan artikel terkenal tentang Economic Value Added (EVA) jika ingin lebih mendalami tentang EVA:
  1. Judul: “EVA and Value-Based Management: A Practical Guide to Implementation” (EVA dan Manajemen Berbasis Nilai: Panduan Praktis untuk Implementasi) Penulis: John D. Martin, J. William Petty, dan James W. Wallace Tahun: 2003 Penerbit: McGraw-Hill Keterangan: Buku ini memberikan pemahaman yang mendalam tentang konsep EVA dan bagaimana mengimplementasikannya dalam praktik manajemen. Dalam buku ini, penulis menjelaskan metode perhitungan EVA, manfaatnya, dan bagaimana menerapkannya dalam pengambilan keputusan bisnis.
  2. Judul: “The Quest for Value: The EVA™ Management Guide” (Pencarian Nilai: Panduan Manajemen EVA) Penulis: Bennett Stewart Tahun: 1991 Penerbit: HarperCollins Keterangan: Buku ini dianggap sebagai salah satu karya pionir dalam memperkenalkan konsep EVA. Penulis, Bennett Stewart, adalah salah satu orang yang terlibat dalam pengembangan konsep EVA. Buku ini membahas tentang pentingnya penciptaan nilai tambah dan bagaimana EVA dapat digunakan sebagai alat manajemen untuk mencapai tujuan tersebut.
  3. Judul: “Economic Value Added (EVA): An Empirical Examination of a New Corporate Performance Measure” (Economic Value Added (EVA): Pengujian Empiris atas Ukuran Kinerja Perusahaan Baru) Penulis: Michael S. Long dan Thomas E. F. Lambert Tahun: 1995 Publikasi: Journal of Applied Corporate Finance Keterangan: Artikel ini adalah salah satu karya seminal yang membahas EVA secara empiris. Penulis menjelaskan konsep EVA, menjelaskan metode perhitungan EVA, dan menyajikan bukti empiris tentang hubungan antara EVA dengan kinerja perusahaan. Artikel ini memberikan wawasan yang berharga tentang penggunaan EVA sebagai ukuran kinerja perusahaan.
  4. Judul: “EVA: The Real Key to Creating Wealth” (EVA: Kunci Sejati untuk Menciptakan Kekayaan) Penulis: Al Ehrbar Tahun: 1998 Penerbit: Wiley Keterangan: Buku ini membahas pentingnya EVA dalam menciptakan kekayaan bagi perusahaan. Penulis menjelaskan konsep EVA secara mendalam dan memberikan contoh kasus nyata tentang bagaimana perusahaan-perusahaan menggunakan EVA untuk meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan.

Beberapa Tulisan dari Penulis :

Pratiwi, H., PRAYUDI, A., SINAGA, K., MAHYUDANIL, M., & ADITI, B. (2022). PENGARUH HARGA DAN KUALITAS PELAYANAN SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN PT. HERFINTA FARM AND PLANTATION. Journal Of Global Business And Management Review4(2), 72. doi: 10.37253/jgbmr.v4i2.7268

Pratiwi, H., Mendrofa, S., Zega, Y., Prayudi, A., & Sulaiman, F. (2022). Budaya Organisasi Dan Stress Kerja: Pengaruh Terhadap Kinerja Karyawan PT. Herfinta Farm And Plantation. Ekonomi, Keuangan, Investasi Dan Syariah (EKUITAS)4(2), 505-511. doi: 10.47065/ekuitas.v4i2.2592

Amelia, W., Prayudi, A., Khairunnisak, K., Pratama, I., & Febrizaldy, F. (2022). Edukasi Warga Desa Sembahe Baru Dalam Rangka Peningkatan Penghasilan Melalui Ekonomi Kreatif Pengolahan Sampah Plastik. Pelita Masyarakat4(1), 92-100. doi: 10.31289/pelitamasyarakat.v4i1.7378

Sinaga, R., Sinaga, K., Prayudi, A., Pratiwi, H., & Sulaiman, F. (2022). Kepuasan Pelanggan sebagai Faktor Kualitas Pelayanan PT. Mada Graha Nagata dengan Multi Attribute Attitude Model. Ekonomi, Keuangan, Investasi Dan Syariah (EKUITAS)4(1), 198-202. doi: 10.47065/ekuitas.v4i1.2086

Chairunnisa, S., & Prayudi, A. (2022). Pengaruh Fluktuasi Kurs Mata Uang terhadap Harga Saham Pt. Bank Central Asia, Tbk di Indonesia. Economics, Business And Management Science Journal2(2), 108-116. doi: 10.34007/ebmsj.v2i2.293

Prayudi, A. (2022). ANALISIS PENGARUH PENGGAJIAN, FASILITAS KERJA DAN GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA BINJAI. JURNAL MANAJEMEN8(1), 17-30. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/154

Gea, N., Effendi, I., & Prayudi, A. (2021). Pengaruh Manajemen Modal Kerja Terhadap Kinerja Keuangan Pada Perusahaan Sektor Transportasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)2(2), 146-152. doi: 10.31289/jimbi.v2i1.456

Ritonga, S., Effendi, I., & Prayudi, A. (2021). Pengaruh Struktur Modal Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Consumer Goods di BEI. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)2(2), 86-95. doi: 10.31289/jimbi.v2i1.383

Prayudi, A. (2021). KEPUASAN KERJA DAN MOTIVASI KERJA PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA MEDAN. Jurnal Ilmu Manajemen METHONOMIX4(2), 75-84. Retrieved from https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/methonomix/article/view/1109

Latief, A., Ramadansyah, J., Wijoyo, H., Prayudi, A., & Putra, R. (2021). The Influence of Work Motivation and Organizational Culture to Employee Performance. Retrieved 27 August 2023, from https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=3926924

Sinaga, I., Lubis, A., & Prayudi, A. (2020). PENGARUH INTERNET FINANCIAL REPORTING (IFR) DAN TINGKAT PENGUNGKAPAN INFORMASI WEBSITE TERHADAP FREKUENSI PERDAGANGAN SAHAM PADA PERUSAHAAN PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BEI. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(2). doi: 10.31289/jimbi.v1i2.394

Br Lubis, H., Effendi, I., & Prayudi, A. (2020). PENGARUH TINGKAT MODAL KERJA TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN OTOMOTIF & KOMPONEN YANG TERDAFTAR DI BEI PERIODE 2014 – 2018. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(2). doi: 10.31289/jimbi.v1i2.396

Brahamana, N., & Prayudi, A. (2020). Analisis Profitabilitas Dalam Pemberian Kredit Pada Koperasi Kredit Unam Berastagi. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(1), 131-140. Retrieved from https://mail.jurnalmahasiswa.uma.ac.id/index.php/jimbi/article/view/376

Prayudi, A. (2020). PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP KINERJA KARYAWAN DENGAN MOTIVASI KERJA SEBAGAI VARIABEL INTERVENING (STUDI PADA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA BINJAI). JURNAL MANAJEMEN1(2), 63-72. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/128

Prayudi, A., & Tanjung, M. (2018). ANALISIS KINERJA PERUSAHAAN DENGAN METODE BALANCED SCORECARD PADA PT. RIA BUSANA MEDAN. JURNAL MANAJEMEN4(2), 126-130. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/33

Prayudi, A. (2017). PENGARUH KEPEMIMPINAN DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PT. RAJAWALI NUSINDO CABANG MEDAN. JURNAL MANAJEMEN3(2), 20-27. Retrieved from http://ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/10

Prayudi, A., & Ilhammi, N. (2015). ANALISIS RASIO UTANG ATAS MODAL DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP PENGEMBALIAN SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA. JURNAL AKUNTANSI DAN BISNIS : Jurnal Program Studi Akuntansi1(2). Retrieved from https://www.ojs.uma.ac.id/index.php/jurnalakundanbisnis/article/view/1723