Principles “STEPPS” : How to Build Word of Mouth in the Digital Age

Buku “Contagious: How to Build Word of Mouth in the Digital Age” ditulis oleh Jonah Berger, seorang profesor pemasaran di Wharton School of the University of Pennsylvania. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2013.

Latar belakang penulisan buku ini adalah minat Berger terhadap pertanyaan mengapa cerita, produk, atau ide tertentu menyebar dengan cepat dan menjadi viral, sementara yang lain tidak. Dalam buku ini, Berger menggali fenomena “kontagius” atau penyebaran pesan melalui word of mouth (perbincangan dari mulut ke mulut) dan membahas faktor-faktor yang membuat sesuatu menjadi menarik, dibicarakan, dan dibagikan secara luas.

Gambar : penulis saat memberikan coaching

Buku ini membahas enam prinsip utama yang dikenal sebagai “STEPPS” yang dapat digunakan untuk membangun konten atau pesan yang menarik dan menyebar dengan cepat:

Berikut adalah penjelasan yang lebih rinci tentang keenam prinsip dalam buku “Contagious: How to Build Word of Mouth in the Digital Age” oleh Jonah Berger, beserta contoh-contoh yang relevan:

  1. Social Currency (Mata Uang Sosial): Prinsip ini mengacu pada bagaimana orang menggunakan informasi atau produk untuk membangun citra sosial mereka. Contoh dari prinsip ini adalah ketika seseorang berbagi informasi atau menggunakan produk yang dianggap eksklusif atau memiliki nilai prestise, mereka mungkin merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri. Sebagai contoh, penggunaan merek pakaian atau aksesori tertentu yang dianggap sebagai simbol status sosial dapat meningkatkan citra seseorang di kalangan teman dan kolega.
  2. Triggers (Pemicu): Prinsip ini berfokus pada pemicu yang memicu orang untuk berbicara tentang suatu hal. Contoh dari prinsip ini adalah ketika produk atau merek secara alami terhubung dengan suatu situasi atau peristiwa yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, merek pasta gigi tertentu yang seringkali dikaitkan dengan harapan akan mendapatkan senyum yang putih bersih dapat memicu orang untuk berbicara tentang merek tersebut ketika topik tentang kecantikan atau penampilan muncul dalam percakapan.
  3. Emotion (Emosi): Prinsip ini menyoroti peran emosi dalam mempengaruhi perbincangan dan berbagi. Contoh dari prinsip ini adalah ketika konten atau cerita yang membangkitkan emosi kuat seperti kegembiraan, rasa takjub, atau kemarahan dapat memengaruhi orang untuk berbagi cerita tersebut dengan orang lain. Misalnya, video yang menampilkan kejadian menyentuh atau menginspirasi seringkali menjadi viral karena memicu tanggapan emosional yang kuat dari penonton dan mendorong mereka untuk berbagi dengan orang lain.
  4. Public (Publik): Prinsip ini menekankan pentingnya membuat pesan atau konten terlihat dan terdengar oleh orang lain. Contoh dari prinsip ini adalah ketika orang lebih cenderung berbicara tentang merek atau produk yang mereka lihat atau dengar secara terbuka di tempat umum. Misalnya, produk yang memiliki logo yang mencolok dan mudah dikenali atau kampanye iklan yang menarik perhatian di media sosial dapat memicu perbincangan dan berbagi.
  5. Practical Value (Nilai Praktis): Prinsip ini mencakup memberikan nilai praktis kepada orang-orang dalam bentuk informasi atau kiat yang berguna. Contoh dari prinsip ini adalah ketika orang lebih cenderung berbagi konten atau informasi yang mereka anggap bermanfaat atau berguna bagi orang lain. Misalnya, artikel blog yang memberikan tips dan trik yang berguna dalam bidang tertentu, atau video tutorial yang memberikan panduan praktis, memiliki potensi untuk menjadi konten yang menyebar luas karena memberikan manfaat langsung kepada audiens.
  6. Stories (Cerita): Prinsip ini menekankan pentingnya menggunakan cerita yang menarik untuk menarik perhatian dan membangun keterlibatan. Contoh dari prinsip ini adalah ketika cerita yang menggugah emosi, memiliki konflik yang menarik, atau memberikan pelajaran atau inspirasi kepada orang lain memiliki potensi untuk menjadi viral. Misalnya, kampanye pemasaran yang mengisahkan perjalanan hidup seorang tokoh atau merangkai cerita tentang perjuangan dan pencapaian dapat memicu keterlibatan emosional dan berbagi dari audiens.

Keenam prinsip ini memberikan panduan bagi pemasar dan pengusaha dalam menciptakan konten yang menarik dan menyebar dengan cepat melalui word of mouth. Dengan memahami prinsip-prinsip ini dan menerapkannya secara efektif, Anda dapat meningkatkan potensi untuk menciptakan pesan yang menular dan memperluas jangkauan pemasaran Anda.

Metode word of mouth memiliki sejumlah kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan. Berikut adalah beberapa kelebihan dan kekurangan dari metode word of mouth:

Kelebihan Word of Mouth:

  1. Kepercayaan dan Keandalan: Word of mouth sering dianggap sebagai sumber informasi yang lebih dipercaya karena berasal dari rekomendasi orang yang dikenal atau dipercaya. Orang cenderung lebih percaya pada rekomendasi dari teman, keluarga, atau orang lain yang mereka kenal dibandingkan dengan pesan pemasaran tradisional.
  2. Efektivitas dalam Pengaruh: Word of mouth memiliki potensi untuk mempengaruhi keputusan pembelian secara signifikan. Rekomendasi dari orang lain dapat memengaruhi persepsi dan preferensi konsumen, dan dapat memicu tindakan pembelian yang lebih cepat.
  3. Perkembangan Jangkauan Organik: Word of mouth yang positif dapat membantu memperluas jangkauan pesan atau merek dengan cara yang organik. Ketika orang berbicara tentang suatu produk atau merek, pesan tersebut dapat menyebar dari satu orang ke orang lain, mencapai audiens yang lebih luas tanpa biaya tambahan.

Kekurangan Word of Mouth:

  1. Kurangnya Kontrol: Salah satu kelemahan utama word of mouth adalah kurangnya kontrol yang dimiliki oleh pemasar. Pesan-pesan yang disampaikan melalui word of mouth bisa berubah, dapat disalahartikan, atau bahkan bisa menjadi negatif. Hal ini membuat sulit bagi pemasar untuk mengelola atau mengarahkan pesan sesuai dengan keinginan mereka.
  2. Tidak Terjadwal dan Tidak Terprediksi: Word of mouth tidak bisa sepenuhnya diatur atau dijadwalkan. Meskipun pemasar dapat melakukan upaya untuk mempengaruhi word of mouth, hasilnya masih sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial dan keputusan individu. Hal ini membuat sulit untuk memprediksi seberapa sukses atau seberapa cepat pesan akan menyebar melalui word of mouth.
  3. Waktu yang Dibutuhkan: Word of mouth bisa memakan waktu untuk mencapai audiens yang lebih luas dan mempengaruhi keputusan pembelian. Prosesnya bisa lambat dan tidak secepat metode pemasaran lainnya, seperti iklan online yang dapat langsung mencapai audiens target.
  4. Kesulitan dalam Mengukur: Mengukur efektivitas word of mouth dapat menjadi tantangan. Karena word of mouth bersifat organik dan sulit dikendalikan, sulit untuk mengidentifikasi dan mengukur kontribusi spesifik word of mouth terhadap hasil pemasaran.

Meskipun word of mouth memiliki kelebihan dalam membangun kepercayaan dan memengaruhi keputusan pembelian, perlu diingat bahwa metode ini juga memiliki kekurangan dan tantangan yang harus dipertimbangkan oleh pemasar. Strategi pemasaran yang sukses biasanya menggabungkan word of mouth dengan pendekatan pemasaran lainnya untuk memaksimalkan dampaknya

Beberapa Tulisan dari Penulis :

Pratiwi, H., PRAYUDI, A., SINAGA, K., MAHYUDANIL, M., & ADITI, B. (2022). PENGARUH HARGA DAN KUALITAS PELAYANAN SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN PT. HERFINTA FARM AND PLANTATION. Journal Of Global Business And Management Review4(2), 72. doi: 10.37253/jgbmr.v4i2.7268

Pratiwi, H., Mendrofa, S., Zega, Y., Prayudi, A., & Sulaiman, F. (2022). Budaya Organisasi Dan Stress Kerja: Pengaruh Terhadap Kinerja Karyawan PT. Herfinta Farm And Plantation. Ekonomi, Keuangan, Investasi Dan Syariah (EKUITAS)4(2), 505-511. doi: 10.47065/ekuitas.v4i2.2592

Amelia, W., Prayudi, A., Khairunnisak, K., Pratama, I., & Febrizaldy, F. (2022). Edukasi Warga Desa Sembahe Baru Dalam Rangka Peningkatan Penghasilan Melalui Ekonomi Kreatif Pengolahan Sampah Plastik. Pelita Masyarakat4(1), 92-100. doi: 10.31289/pelitamasyarakat.v4i1.7378

Sinaga, R., Sinaga, K., Prayudi, A., Pratiwi, H., & Sulaiman, F. (2022). Kepuasan Pelanggan sebagai Faktor Kualitas Pelayanan PT. Mada Graha Nagata dengan Multi Attribute Attitude Model. Ekonomi, Keuangan, Investasi Dan Syariah (EKUITAS)4(1), 198-202. doi: 10.47065/ekuitas.v4i1.2086

Chairunnisa, S., & Prayudi, A. (2022). Pengaruh Fluktuasi Kurs Mata Uang terhadap Harga Saham Pt. Bank Central Asia, Tbk di Indonesia. Economics, Business And Management Science Journal2(2), 108-116. doi: 10.34007/ebmsj.v2i2.293

Prayudi, A. (2022). ANALISIS PENGARUH PENGGAJIAN, FASILITAS KERJA DAN GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA BINJAI. JURNAL MANAJEMEN8(1), 17-30. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/154

Gea, N., Effendi, I., & Prayudi, A. (2021). Pengaruh Manajemen Modal Kerja Terhadap Kinerja Keuangan Pada Perusahaan Sektor Transportasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)2(2), 146-152. doi: 10.31289/jimbi.v2i1.456

Ritonga, S., Effendi, I., & Prayudi, A. (2021). Pengaruh Struktur Modal Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Consumer Goods di BEI. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)2(2), 86-95. doi: 10.31289/jimbi.v2i1.383

Prayudi, A. (2021). KEPUASAN KERJA DAN MOTIVASI KERJA PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA MEDAN. Jurnal Ilmu Manajemen METHONOMIX4(2), 75-84. Retrieved from https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/methonomix/article/view/1109

Latief, A., Ramadansyah, J., Wijoyo, H., Prayudi, A., & Putra, R. (2021). The Influence of Work Motivation and Organizational Culture to Employee Performance. Retrieved 27 August 2023, from https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=3926924

Sinaga, I., Lubis, A., & Prayudi, A. (2020). PENGARUH INTERNET FINANCIAL REPORTING (IFR) DAN TINGKAT PENGUNGKAPAN INFORMASI WEBSITE TERHADAP FREKUENSI PERDAGANGAN SAHAM PADA PERUSAHAAN PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BEI. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(2). doi: 10.31289/jimbi.v1i2.394

Br Lubis, H., Effendi, I., & Prayudi, A. (2020). PENGARUH TINGKAT MODAL KERJA TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN OTOMOTIF & KOMPONEN YANG TERDAFTAR DI BEI PERIODE 2014 – 2018. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(2). doi: 10.31289/jimbi.v1i2.396

Brahamana, N., & Prayudi, A. (2020). Analisis Profitabilitas Dalam Pemberian Kredit Pada Koperasi Kredit Unam Berastagi. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(1), 131-140. Retrieved from https://mail.jurnalmahasiswa.uma.ac.id/index.php/jimbi/article/view/376

Prayudi, A. (2020). PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP KINERJA KARYAWAN DENGAN MOTIVASI KERJA SEBAGAI VARIABEL INTERVENING (STUDI PADA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA BINJAI). JURNAL MANAJEMEN1(2), 63-72. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/128

Prayudi, A., & Tanjung, M. (2018). ANALISIS KINERJA PERUSAHAAN DENGAN METODE BALANCED SCORECARD PADA PT. RIA BUSANA MEDAN. JURNAL MANAJEMEN4(2), 126-130. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/33

Prayudi, A. (2017). PENGARUH KEPEMIMPINAN DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PT. RAJAWALI NUSINDO CABANG MEDAN. JURNAL MANAJEMEN3(2), 20-27. Retrieved from http://ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/10

Prayudi, A., & Ilhammi, N. (2015). ANALISIS RASIO UTANG ATAS MODAL DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP PENGEMBALIAN SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA. JURNAL AKUNTANSI DAN BISNIS : Jurnal Program Studi Akuntansi1(2). Retrieved from https://www.ojs.uma.ac.id/index.php/jurnalakundanbisnis/article/view/1723

 

EOQ (Economic Order Quantity) : Menghitung jumlah pesanan optimal dalam rangka meminimalkan biaya persediaan

EOQ (Economic Order Quantity) adalah istilah yang digunakan dalam manajemen rantai pasokan dan logistik untuk mengacu pada jumlah optimal barang yang harus dipesan dalam satu kali pesanan agar biaya total persediaan minimal. EOQ membantu organisasi dalam mengoptimalkan pengelolaan persediaan dengan meminimalkan biaya persediaan, termasuk biaya penyimpanan dan biaya pemesanan.

EOQ ditemukan oleh Ford W. Harris pada tahun 1913, seorang insinyur di Western Electric Company, sebuah anak perusahaan dari AT&T. Harris melakukan penelitian tentang persediaan dan pesanan dalam upayanya untuk mengurangi biaya persediaan dan meningkatkan efisiensi. Dalam penelitiannya, ia mengembangkan model matematika yang menggabungkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan untuk menentukan jumlah optimal barang yang harus dipesan dalam satu pesanan.

Latar belakang EOQ terkait dengan tantangan yang dihadapi oleh organisasi dalam mengelola persediaan. Persediaan yang terlalu besar akan mengakibatkan biaya penyimpanan yang tinggi, seperti biaya gudang, asuransi, dan penurunan nilai barang. Di sisi lain, persediaan yang terlalu kecil dapat menyebabkan kekurangan barang, mengganggu kelancaran produksi, dan menghilangkan keuntungan dari pembelian dalam jumlah besar. EOQ memberikan pendekatan matematis untuk mengidentifikasi jumlah optimal pesanan agar organisasi dapat menghindari biaya yang tidak perlu dan menjaga keseimbangan antara biaya penyimpanan dan biaya pemesanan.

Gambar : Penulis saat mengisi sebuah pelatihan

Tujuan utama dari pembuatan EOQ (Economic Order Quantity) adalah untuk membantu organisasi dalam mengoptimalkan pengelolaan persediaan dengan mencapai beberapa tujuan berikut:

  1. Minimalkan biaya persediaan: EOQ bertujuan untuk menemukan jumlah pesanan optimal yang dapat mengurangi biaya persediaan secara keseluruhan. Dengan memesan jumlah yang tepat, organisasi dapat menghindari biaya penyimpanan yang berlebihan dan biaya pemesanan yang tinggi.
  2. Mencegah kekurangan dan kelebihan persediaan: Dengan menggunakan EOQ, organisasi dapat menghindari kekurangan persediaan yang dapat menghambat produksi atau pelayanan pelanggan. Sebaliknya, EOQ juga membantu menghindari kelebihan persediaan yang dapat mengakibatkan biaya penyimpanan yang tinggi dan risiko barang kadaluarsa atau usang.
  3. Meningkatkan efisiensi operasional: Dengan mengelola persediaan secara efektif menggunakan EOQ, organisasi dapat meningkatkan efisiensi operasional. Proses pemesanan dan pengelolaan persediaan dapat diatur dengan lebih baik, mengurangi waktu yang dihabiskan untuk pengelolaan persediaan dan memperbaiki aliran barang dalam rantai pasokan.
  4. Meningkatkan layanan pelanggan: Dengan menggunakan EOQ, organisasi dapat memastikan ketersediaan barang yang tepat pada waktu yang tepat. Ini membantu memenuhi permintaan pelanggan dengan lebih baik, mengurangi kekurangan persediaan yang dapat menyebabkan kekecewaan pelanggan.
  5. Optimalisasi penggunaan sumber daya: Dengan mengelola persediaan menggunakan EOQ, organisasi dapat mengoptimalkan penggunaan sumber daya seperti ruang penyimpanan, tenaga kerja, dan modal. Persediaan yang dikelola dengan baik menghindari pemborosan sumber daya dan meningkatkan efisiensi penggunaannya.

Dalam rangka mencapai tujuan ini, EOQ menggabungkan faktor-faktor seperti biaya penyimpanan, biaya pemesanan, dan permintaan barang untuk menghitung jumlah pesanan yang optimal dalam rangka meminimalkan biaya persediaan secara keseluruhan.

Rumus EOQ (Economic Order Quantity) adalah sebagai berikut:

EOQ = √[(2DS) / H]

Di mana:

  • D adalah permintaan tahunan (dalam unit)
  • S adalah biaya pemesanan per pesanan
  • H adalah biaya penyimpanan per unit per tahun

Cara menggunakannya adalah sebagai berikut:

  1. Dapatkan data yang diperlukan:
    • Permintaan tahunan (D): Jumlah unit yang dipesan dalam satu tahun.
    • Biaya pemesanan per pesanan (S): Biaya yang terkait dengan pemrosesan dan pemenuhan satu pesanan, seperti biaya administrasi, pengiriman, dan pemrosesan faktur.
    • Biaya penyimpanan per unit per tahun (H): Biaya yang terkait dengan penyimpanan dan pemeliharaan persediaan, seperti biaya penyewaan gudang, asuransi, dan depresiasi barang.
  2. Hitung EOQ menggunakan rumus di atas:
    • Kuadratkan (2DS).
    • Bagi hasilnya dengan H.
    • Ambil akar kuadrat dari hasil pembagian di atas.
  3. Tafsirkan hasil EOQ:
    • Hasil EOQ akan memberikan jumlah optimal barang yang harus dipesan dalam satu kali pesanan.
    • Angka EOQ tersebut dapat berupa desimal, tetapi biasanya dibulatkan ke bilangan bulat terdekat untuk menghasilkan jumlah pesanan yang realistis.
  4. Evaluasi hasil EOQ:
    • Periksa kembali asumsi dan faktor-faktor yang digunakan dalam perhitungan EOQ.
    • Pastikan bahwa angka EOQ masuk akal dan sesuai dengan kondisi dan karakteristik persediaan serta kebijakan perusahaan.
  5. Terapkan EOQ dalam praktik:
    • Pesan jumlah barang sesuai dengan hasil EOQ yang telah dihitung.
    • Tetap memantau dan mengelola persediaan untuk memastikan bahwa biaya persediaan tetap minimal dan kelancaran pasokan terjaga.

Penting untuk dicatat bahwa EOQ adalah model yang sederhana dan mengasumsikan beberapa asumsi yang mungkin tidak sepenuhnya mewakili keadaan nyata. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemantauan dan penyesuaian terus-menerus untuk memastikan kinerja optimal dalam pengelolaan persediaan.

 Berikut adalah contoh penggunaan EOQ: dalam angka

Misalkan sebuah perusahaan elektronik, XYZ Electronics, memiliki data sebagai berikut:

  • Permintaan tahunan (D): 1,000 unit
  • Biaya pemesanan per pesanan (S): $50
  • Biaya penyimpanan per unit per tahun (H): $2

Maka, untuk menghitung EOQ, kita dapat menggunakan rumus EOQ:

EOQ = √[(2DS) / H]

EOQ = √[(2 * 1,000 * $50) / $2] = √[(100,000) / $2] = √50,000 ≈ 223.61

Dalam hal ini, EOQ yang dihitung adalah sekitar 223.61 unit. Karena EOQ biasanya dibulatkan ke bilangan bulat terdekat, kita dapat membulatkannya menjadi 224 unit.

Dengan demikian, XYZ Electronics harus memesan sekitar 224 unit barang dalam satu pesanan untuk mencapai jumlah pesanan yang optimal. Dengan mengikuti EOQ, perusahaan dapat mengurangi biaya persediaan dengan menghindari persediaan yang berlebihan atau kekurangan.

Perusahaan kemudian dapat menganalisis ulang faktor-faktor yang digunakan dalam perhitungan EOQ, seperti biaya pemesanan dan biaya penyimpanan, untuk memastikan keberlanjutan dan akurasi penggunaan EOQ dalam pengelolaan persediaan mereka.

Metode EOQ (Economic Order Quantity) memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Berikut adalah beberapa poin penting terkait kelebihan dan kekurangan EOQ:

Kelebihan EOQ:

  1. Optimalisasi biaya: EOQ membantu mengoptimalkan biaya persediaan dengan menentukan jumlah pesanan yang optimal, sehingga mengurangi biaya penyimpanan dan biaya pemesanan.
  2. Penjadwalan pesanan yang efisien: Dengan menggunakan EOQ, perusahaan dapat merencanakan dan menjadwalkan pesanan dengan lebih efisien, menghindari pesanan yang terlalu sering atau terlalu jarang.
  3. Menghindari kekurangan dan kelebihan persediaan: Dengan mempertimbangkan permintaan dan biaya persediaan, EOQ membantu perusahaan menghindari kekurangan persediaan yang dapat mengganggu produksi dan kelebihan persediaan yang dapat meningkatkan biaya penyimpanan.
  4. Pengurangan risiko: Dengan menggunakan EOQ, perusahaan dapat mengurangi risiko persediaan yang tidak terjual atau kadaluwarsa, karena jumlah pesanan disesuaikan dengan permintaan aktual.

Kekurangan EOQ:

  1. Asumsi yang sederhana: EOQ didasarkan pada beberapa asumsi sederhana, seperti permintaan yang konstan dan stabil, biaya pemesanan dan penyimpanan yang tetap, serta ketiadaan diskon kuantitas. Asumsi ini mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan situasi nyata perusahaan.
  2. Perubahan dalam faktor-faktor biaya: Biaya pemesanan dan biaya penyimpanan dapat berubah seiring waktu. EOQ tidak secara otomatis menyesuaikan dengan perubahan ini, sehingga perlu dilakukan pemantauan dan penyesuaian secara teratur.
  3. Tidak mempertimbangkan ketidakpastian: EOQ tidak mempertimbangkan ketidakpastian dalam permintaan atau lead time (waktu pengiriman). Jika terjadi fluktuasi yang signifikan dalam permintaan atau lead time, EOQ mungkin tidak memberikan hasil yang optimal.
  4. Tidak mempertimbangkan faktor strategis: EOQ hanya mempertimbangkan faktor biaya dan tidak memperhitungkan faktor strategis seperti tingkat layanan pelanggan, fleksibilitas persediaan, atau perubahan dalam kebijakan pembelian.

Penting untuk diingat bahwa EOQ hanyalah salah satu alat dalam pengelolaan persediaan, dan perlu dipertimbangkan bersama dengan faktor-faktor lain dan analisis yang lebih komprehensif untuk memastikan pengambilan keputusan yang tepat dalam manajemen persediaan.

Metode EOQ (Economic Order Quantity) dapat digunakan dalam berbagai jenis bisnis atau usaha yang memiliki persediaan fisik. Berikut adalah beberapa jenis bisnis atau usaha di mana EOQ cocok digunakan:

  1. Retail: Bisnis ritel yang menjual produk fisik seperti toko swalayan, toko pakaian, toko elektronik, dan sejenisnya. EOQ dapat membantu dalam mengelola persediaan produk yang dijual di toko-toko tersebut, meminimalkan biaya persediaan, dan menjaga kelancaran pasokan.
  2. Distribusi: Perusahaan distribusi yang bertanggung jawab dalam menyebarkan produk ke pelanggan. EOQ dapat digunakan untuk mengoptimalkan pesanan produk dari pemasok atau produsen untuk memenuhi permintaan pelanggan, mengurangi biaya penyimpanan, dan meningkatkan efisiensi distribusi.
  3. Produksi: Perusahaan yang memproduksi barang secara langsung. EOQ dapat membantu dalam menentukan jumlah bahan baku atau komponen yang harus dipesan untuk memenuhi kebutuhan produksi, menghindari biaya penyimpanan yang tinggi, dan mengoptimalkan proses produksi.
  4. Restoran dan Hotel: Bisnis di industri perhotelan dan restoran juga memiliki persediaan seperti bahan makanan, minuman, atau peralatan. EOQ dapat membantu dalam mengelola persediaan makanan dan minuman, menghindari kekurangan atau pemborosan bahan baku, dan mengoptimalkan biaya persediaan.
  5. Farmasi dan Kesehatan: Perusahaan farmasi, rumah sakit, atau apotek yang memiliki persediaan obat-obatan atau peralatan medis. EOQ dapat membantu dalam mengelola persediaan obat dan peralatan medis, memastikan ketersediaan yang tepat, dan mengurangi biaya penyimpanan yang berlebihan.

Meskipun EOQ dapat digunakan dalam berbagai jenis bisnis, penting untuk mempertimbangkan karakteristik khusus dan persyaratan unik dari setiap bisnis tersebut. Juga, perlu diingat bahwa EOQ hanyalah alat bantu pengambilan keputusan dan harus digunakan bersama dengan analisis dan strategi lainnya untuk mengoptimalkan pengelolaan persediaan dalam konteks bisnis yang spesifik.

beberapa buku dan artikel yang membahas EOQ, beserta judul, penulis, tahun terbit, penerbit, dan sedikit pembahasan tentang mereka:

Buku:

  1. “Operations Management” oleh William J. Stevenson (2018, McGraw-Hill Education), Buku ini mencakup berbagai topik dalam manajemen operasi, termasuk pengelolaan persediaan dan model EOQ. Ini memberikan pemahaman yang komprehensif tentang konsep EOQ dan penerapannya dalam konteks manajemen operasi.
  2. “Supply Chain Management: Strategy, Planning, and Operation” oleh Sunil Chopra dan Peter Meindl (2017, Pearson), Buku ini membahas strategi dan operasi rantai pasokan, termasuk pengelolaan persediaan dan konsep EOQ. Ini memberikan perspektif yang luas tentang penggunaan EOQ dalam konteks rantai pasokan.
  3. “Inventory Management: Principles, Concepts, and Techniques” oleh Paul Huggett (2017, Springer), Buku ini secara rinci menjelaskan prinsip-prinsip pengelolaan persediaan, termasuk model EOQ. Ini memberikan wawasan mendalam tentang konsep EOQ dan penggunaannya dalam konteks pengelolaan persediaan.
  4. “Introduction to Materials Management” oleh J.R. Tony Arnold, Stephen N. Chapman, dan Lloyd M. Clive (2017, Pearson), Buku ini memberikan pengantar yang komprehensif tentang manajemen bahan dan persediaan, termasuk konsep EOQ. Ini mencakup dasar-dasar EOQ serta aplikasinya dalam pengelolaan persediaan dan rantai pasokan.

Artikel:

  1. “The Economic Order Quantity (EOQ) Model” oleh Jeffrey W. Herrman), Artikel ini membahas secara mendalam tentang konsep EOQ dan perhitungannya. Ia menjelaskan aplikasi EOQ dalam pengelolaan persediaan dan bagaimana model ini dapat membantu mengoptimalkan biaya persediaan.

Beberapa Tulisan dari Penulis :

Pratiwi, H., PRAYUDI, A., SINAGA, K., MAHYUDANIL, M., & ADITI, B. (2022). PENGARUH HARGA DAN KUALITAS PELAYANAN SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN PT. HERFINTA FARM AND PLANTATION. Journal Of Global Business And Management Review4(2), 72. doi: 10.37253/jgbmr.v4i2.7268

Pratiwi, H., Mendrofa, S., Zega, Y., Prayudi, A., & Sulaiman, F. (2022). Budaya Organisasi Dan Stress Kerja: Pengaruh Terhadap Kinerja Karyawan PT. Herfinta Farm And Plantation. Ekonomi, Keuangan, Investasi Dan Syariah (EKUITAS)4(2), 505-511. doi: 10.47065/ekuitas.v4i2.2592

Amelia, W., Prayudi, A., Khairunnisak, K., Pratama, I., & Febrizaldy, F. (2022). Edukasi Warga Desa Sembahe Baru Dalam Rangka Peningkatan Penghasilan Melalui Ekonomi Kreatif Pengolahan Sampah Plastik. Pelita Masyarakat4(1), 92-100. doi: 10.31289/pelitamasyarakat.v4i1.7378

Sinaga, R., Sinaga, K., Prayudi, A., Pratiwi, H., & Sulaiman, F. (2022). Kepuasan Pelanggan sebagai Faktor Kualitas Pelayanan PT. Mada Graha Nagata dengan Multi Attribute Attitude Model. Ekonomi, Keuangan, Investasi Dan Syariah (EKUITAS)4(1), 198-202. doi: 10.47065/ekuitas.v4i1.2086

Chairunnisa, S., & Prayudi, A. (2022). Pengaruh Fluktuasi Kurs Mata Uang terhadap Harga Saham Pt. Bank Central Asia, Tbk di Indonesia. Economics, Business And Management Science Journal2(2), 108-116. doi: 10.34007/ebmsj.v2i2.293

Prayudi, A. (2022). ANALISIS PENGARUH PENGGAJIAN, FASILITAS KERJA DAN GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA BINJAI. JURNAL MANAJEMEN8(1), 17-30. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/154

Gea, N., Effendi, I., & Prayudi, A. (2021). Pengaruh Manajemen Modal Kerja Terhadap Kinerja Keuangan Pada Perusahaan Sektor Transportasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)2(2), 146-152. doi: 10.31289/jimbi.v2i1.456

Ritonga, S., Effendi, I., & Prayudi, A. (2021). Pengaruh Struktur Modal Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Consumer Goods di BEI. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)2(2), 86-95. doi: 10.31289/jimbi.v2i1.383

Prayudi, A. (2021). KEPUASAN KERJA DAN MOTIVASI KERJA PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA MEDAN. Jurnal Ilmu Manajemen METHONOMIX4(2), 75-84. Retrieved from https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/methonomix/article/view/1109

Latief, A., Ramadansyah, J., Wijoyo, H., Prayudi, A., & Putra, R. (2021). The Influence of Work Motivation and Organizational Culture to Employee Performance. Retrieved 27 August 2023, from https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=3926924

Sinaga, I., Lubis, A., & Prayudi, A. (2020). PENGARUH INTERNET FINANCIAL REPORTING (IFR) DAN TINGKAT PENGUNGKAPAN INFORMASI WEBSITE TERHADAP FREKUENSI PERDAGANGAN SAHAM PADA PERUSAHAAN PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BEI. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(2). doi: 10.31289/jimbi.v1i2.394

Br Lubis, H., Effendi, I., & Prayudi, A. (2020). PENGARUH TINGKAT MODAL KERJA TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN OTOMOTIF & KOMPONEN YANG TERDAFTAR DI BEI PERIODE 2014 – 2018. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(2). doi: 10.31289/jimbi.v1i2.396

Brahamana, N., & Prayudi, A. (2020). Analisis Profitabilitas Dalam Pemberian Kredit Pada Koperasi Kredit Unam Berastagi. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(1), 131-140. Retrieved from https://mail.jurnalmahasiswa.uma.ac.id/index.php/jimbi/article/view/376

Prayudi, A. (2020). PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP KINERJA KARYAWAN DENGAN MOTIVASI KERJA SEBAGAI VARIABEL INTERVENING (STUDI PADA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA BINJAI). JURNAL MANAJEMEN1(2), 63-72. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/128

Prayudi, A., & Tanjung, M. (2018). ANALISIS KINERJA PERUSAHAAN DENGAN METODE BALANCED SCORECARD PADA PT. RIA BUSANA MEDAN. JURNAL MANAJEMEN4(2), 126-130. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/33

Prayudi, A. (2017). PENGARUH KEPEMIMPINAN DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PT. RAJAWALI NUSINDO CABANG MEDAN. JURNAL MANAJEMEN3(2), 20-27. Retrieved from http://ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/10

Prayudi, A., & Ilhammi, N. (2015). ANALISIS RASIO UTANG ATAS MODAL DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP PENGEMBALIAN SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA. JURNAL AKUNTANSI DAN BISNIS : Jurnal Program Studi Akuntansi1(2). Retrieved from https://www.ojs.uma.ac.id/index.php/jurnalakundanbisnis/article/view/1723

 

Quality Management : “The Deming 14 Points for Management”

Manajemen mutu adalah suatu pendekatan yang digunakan oleh organisasi untuk memastikan bahwa produk atau layanan yang dihasilkan memenuhi atau melebihi standar kualitas yang ditetapkan. Tujuan dari manajemen mutu adalah untuk mencapai kepuasan pelanggan, meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses, serta mencapai keunggulan kompetitif.

Konsep manajemen mutu modern pertama kali diperkenalkan oleh W. Edwards Deming. Ia adalah seorang ahli statistik dan insinyur Amerika Serikat yang bekerja pada tahun 1940-an dan 1950-an. Deming sangat dipengaruhi oleh filosofi dan praktik manajemen di Jepang setelah Perang Dunia II. Ia dikenal sebagai “guru manajemen mutu” dan diakui sebagai salah satu tokoh utama dalam pengembangan manajemen mutu. Latar belakangnya adalah pada tahun 1950-an, industri Amerika Serikat mengalami persaingan yang ketat dengan Jepang. Produk-produk Jepang mulai memperoleh reputasi yang baik dalam hal kualitas, sementara produk Amerika Serikat terkenal dengan masalah kualitasnya. Deming percaya bahwa masalah kualitas bukan hanya terkait dengan pekerja, tetapi juga dengan manajemen. Ia mengembangkan pendekatan yang berfokus pada penggunaan statistik untuk mengelola kualitas dan memperbaiki proses produksi. Pendekatannya menekankan pentingnya manajemen berbasis fakta, partisipasi karyawan, perbaikan berkelanjutan, dan penekanan pada kepuasan pelanggan

W. Edwards Deming menulis beberapa buku yang menjadi sumbangsih penting dalam bidang manajemen mutu. Dua bukunya yang paling terkenal adalah:

  1. “Out of the Crisis” (Keluar dari Krisis): Buku ini diterbitkan pada tahun 1982 dan dianggap sebagai karya paling berpengaruh dari Deming. Dalam buku ini, Deming menguraikan prinsip-prinsip dan konsep-konsep manajemen mutu yang ia kembangkan. Ia menjelaskan pentingnya fokus pada perbaikan berkelanjutan, eliminasi variabilitas, kerjasama antara manajemen dan karyawan, serta pengambilan keputusan berbasis fakta dan data. “Out of the Crisis” memberikan panduan praktis bagi organisasi untuk mengadopsi pendekatan Deming dalam memperbaiki kualitas dan kinerja mereka.
  2. “The New Economics for Industry, Government, Education” (Ekonomi Baru untuk Industri, Pemerintah, Pendidikan): Buku ini diterbitkan pada tahun 1993 dan melanjutkan pemikiran Deming tentang manajemen mutu. Dalam buku ini, Deming menjelaskan konsep sistem, pentingnya manajemen berbasis fakta, dan peran kepemimpinan dalam mencapai perbaikan mutu. Ia juga membahas tentang pentingnya pembelajaran berkelanjutan, kerjasama antar departemen, serta perubahan budaya organisasi untuk mencapai transformasi yang berkelanjutan.

Gambar : Penulis dalam sebuah acara kejuaraan

Ini adalah serangkaian prinsip yang dikembangkan oleh W. Edwards Deming yang  sering kali disebut sebagai “The Deming 14 Points for Management”untuk mencapai perbaikan mutu dalam suatu organisasi. Berikut adalah penjelasan singkat tentang setiap poin:

  1. Menciptakan kegembiraan untuk perbaikan: Deming mengajukan pentingnya membangkitkan semangat dan antusiasme di seluruh organisasi untuk mendorong perbaikan berkelanjutan.
  2. Mengadopsi pemikiran sistem: Mengerti bahwa setiap proses dan departemen saling terkait dalam suatu sistem. Penting untuk memahami interaksi dan dampaknya terhadap keseluruhan organisasi.
  3. Hentikan penghargaan berbasis kinerja individu saja: Deming menekankan bahwa penghargaan dan insentif seharusnya tidak hanya berdasarkan kinerja individu, tetapi juga mempertimbangkan kinerja tim dan kontribusi jangka panjang.
  4. Membangun kepercayaan dan menghilangkan rasa takut: Deming menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan membangun kepercayaan antara manajemen dan karyawan agar dapat berpartisipasi secara aktif dalam perbaikan mutu.
  5. Meningkatkan kepemimpinan: Memperhatikan kepemimpinan yang efektif untuk membimbing dan menginspirasi karyawan dalam mencapai tujuan organisasi.
  6. Hentikan inspeksi masal: Deming menekankan bahwa pemikiran yang melulu pada inspeksi dan pengujian akhir tidak cukup. Sebaliknya, kualitas harus dibangun ke dalam proses produksi.
  7. Menghormati pasokan: Membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan dengan pemasok dan bekerja sama untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi.
  8. Kurangi jumlah pengaruh: Mengurangi variasi dalam proses produksi dan mencapai stabilitas yang lebih besar untuk meningkatkan kualitas.
  9. Pergunakan pelatihan untuk perbaikan: Memberikan pelatihan yang memadai kepada karyawan agar dapat meningkatkan keterampilan mereka dan berkontribusi secara lebih efektif.
  10. Hapus hambatan komunikasi: Meningkatkan aliran komunikasi di seluruh organisasi dan memastikan informasi yang diperlukan dapat diteruskan dengan tepat waktu dan akurat.
  11. Menghilangkan kuota produksi: Deming menekankan bahwa penetapan kuota produksi dapat menyebabkan praktik yang buruk dan tidak menguntungkan dalam jangka panjang. Sebaliknya, fokus harus pada perbaikan berkelanjutan.
  12. Promosikan pendekatan berkelanjutan: Mendorong pengambilan keputusan berdasarkan analisis data dan fakta, serta berkomitmen untuk perbaikan berkelanjutan.
  13. Ambil tindakan untuk mencapai transformasi: Menyadari bahwa perbaikan mutu membutuhkan perubahan yang berarti dalam cara berpikir, cara kerja, dan budaya organisasi.
  14. Buat visi untuk masa depan: Mengembangkan visi yang jelas dan tujuan jangka panjang untuk organisasi, serta merencanakan langkah-langkah untuk mencapainya.

Dalam konsep manajemen mutu modern, terdapat beberapa poin utama yang menjadi fokus dalam mengelola kualitas. Berikut ini adalah beberapa poin utama dalam manajemen mutu modern:

  1. Fokus pada kepuasan pelanggan: Keberhasilan suatu organisasi bergantung pada kemampuannya untuk memenuhi dan melebihi harapan pelanggan. Oleh karena itu, manajemen mutu modern menempatkan kepuasan pelanggan sebagai titik pusat dalam pengambilan keputusan dan perbaikan proses.
  2. Pendekatan berbasis risiko: Manajemen mutu modern mengadopsi pendekatan berbasis risiko untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengurangi risiko yang dapat mempengaruhi kualitas produk atau layanan. Ini melibatkan penilaian risiko, perencanaan pengendalian, serta pengambilan tindakan pencegahan dan perbaikan.
  3. Perbaikan berkelanjutan: Manajemen mutu modern mendorong perbaikan berkelanjutan dalam semua aspek organisasi. Hal ini mencakup penerapan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Act) untuk mengidentifikasi peluang perbaikan, melaksanakan tindakan perbaikan, memonitor hasilnya, dan mengadaptasi proses secara terus-menerus.
  4. Keterlibatan karyawan: Manajemen mutu modern mengakui pentingnya keterlibatan dan partisipasi karyawan dalam mencapai kualitas yang tinggi. Karyawan dianggap sebagai aset berharga yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berharga dalam proses kerja. Mereka didorong untuk berkontribusi, berbagi ide, dan berpartisipasi dalam perbaikan mutu.
  5. Pengelolaan berbasis data: Manajemen mutu modern menekankan pengambilan keputusan berdasarkan data dan fakta yang akurat. Penggunaan metode statistik dan analisis data membantu dalam pemahaman dan perbaikan proses, serta memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih baik.
  6. Manajemen risiko: Manajemen mutu modern memperhatikan identifikasi, evaluasi, dan pengelolaan risiko yang terkait dengan kualitas produk atau layanan. Ini melibatkan pemetaan dan mitigasi risiko yang dapat mempengaruhi kualitas, termasuk risiko kepatuhan, operasional, dan strategis.
  7. Peningkatan proses dan sistem: Manajemen mutu modern berfokus pada perbaikan proses dan sistem yang mendasari produksi atau penyediaan layanan. Hal ini melibatkan pemahaman yang mendalam tentang proses bisnis, identifikasi penyimpangan, dan implementasi tindakan perbaikan yang efektif.
  8. Budaya mutu: Manajemen mutu modern mendorong pengembangan budaya organisasi yang mendukung mutu. Hal ini mencakup komitmen dari semua tingkatan organisasi untuk memprioritaskan kualitas, mempromosikan inovasi, memfasilitasi kolaborasi, serta memberikan penghargaan atas pencapaian mutu.

Poin-poin di atas merupakan beberapa aspek penting dalam manajemen mutu modern. Pendekatan ini bertujuan untuk mencapai perbaikan berkelanjutan, kepuasan pelanggan yang tinggi, dan keunggulan kompetitif melalui manajemen yang efektif dan berfokus pada kualitas.

lembaga dan institusi yang sering dijadikan sebagai penjamin mutu di berbagai sektor. Berikut ini beberapa contohnya:

  1. International Organization for Standardization (ISO): ISO merupakan organisasi internasional yang mengembangkan standar internasional dalam berbagai bidang, termasuk manajemen mutu. Standar ISO 9001 adalah standar yang paling umum digunakan dalam sistem manajemen mutu di berbagai sektor.
  2. Badan Standarisasi Nasional (BSN): BSN adalah lembaga di setiap negara yang bertanggung jawab untuk mengembangkan dan mengadopsi standar nasional. BSN sering kali berperan sebagai penjamin mutu di tingkat nasional dalam berbagai sektor.
  3. Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS): KARS adalah lembaga di Indonesia yang bertanggung jawab untuk melakukan akreditasi rumah sakit. KARS menjamin mutu pelayanan kesehatan dengan menetapkan standar dan melakukan penilaian terhadap rumah sakit.
  4. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT): BAN-PT adalah lembaga di Indonesia yang bertanggung jawab untuk melakukan akreditasi perguruan tinggi. BAN-PT menjamin mutu pendidikan tinggi dengan menetapkan standar dan melakukan penilaian terhadap perguruan tinggi.
  5. International Electrotechnical Commission (IEC): IEC adalah organisasi internasional yang mengembangkan standar internasional di bidang teknik listrik, elektronik, dan teknologi terkait. Standar IEC sering digunakan sebagai penjamin mutu dalam industri listrik dan elektronik.
  6. Joint Commission International (JCI): JCI adalah organisasi yang menyediakan akreditasi internasional untuk pelayanan kesehatan di seluruh dunia. JCI menetapkan standar mutu yang tinggi dan melakukan penilaian terhadap fasilitas kesehatan untuk memastikan kualitas dan keselamatan pasien.
  7. National Institute of Standards and Technology (NIST): NIST adalah lembaga federal di Amerika Serikat yang bertanggung jawab untuk mengembangkan dan mempromosikan standar dan teknologi yang berkaitan dengan berbagai sektor. NIST sering menjadi referensi dalam penjaminan mutu di sektor industri dan teknologi.
  8. European Foundation for Quality Management (EFQM): EFQM adalah organisasi non-profit yang berpusat di Eropa dan mempromosikan pengembangan dan penerapan prinsip-prinsip manajemen mutu dalam organisasi. EFQM menyediakan model kerangka kerja yang digunakan sebagai referensi dalam penjaminan mutu di berbagai sektor.

Lembaga dan institusi ini berperan penting dalam memastikan bahwa organisasi dan layanan memenuhi standar kualitas yang ditetapkan, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan dan efektivitas operasional.

Buku dan artikel terkenal tentang manajemen mutu :

  1. Buku: “Total Quality Management: Text with Cases” oleh Dale H. Besterfield, Carol Besterfield-Michna, Glen H. Besterfield, dan Mary Besterfield-Sacre (2019, Pearson Education). Buku ini menyajikan konsep dan praktik manajemen mutu secara komprehensif, dilengkapi dengan studi kasus dan aplikasi nyata di berbagai industri.
  2. Buku: “The Six Sigma Handbook, Fourth Edition” oleh Thomas Pyzdek dan Paul A. Keller (2014, McGraw-Hill Education). Buku ini menjadi panduan komprehensif tentang metodologi Six Sigma dalam memperbaiki kualitas dan efisiensi proses bisnis. Memaparkan konsep, alat, dan teknik Six Sigma secara rinci.
  3. Buku: “Quality Management for Organizational Excellence: Introduction to Total Quality, Eighth Edition” oleh David L. Goetsch dan Stanley Davis (2018, Pearson Education). Buku ini memberikan pengantar yang komprehensif tentang manajemen mutu dan Total Quality Management (TQM), mencakup prinsip-prinsip, alat-alat, dan strategi implementasi.
  4. Artikel: “Deming’s 14 Points: A Road Map for Total Quality Management” oleh R. C. Singh dan K. D. Sharma (2012, Quality Management Journal). Artikel ini membahas 14 Poin Deming dan implikasinya dalam Total Quality Management (TQM), menjelaskan poin-poin secara detail dan memberikan panduan untuk mengimplementasikannya.
  5. Artikel: “Understanding Total Quality Management in Context: Qualitative Research on Managers’ Awareness of TQM As a Management Strategy” oleh N. T. B. Dung (2014, Journal of Quality Assurance in Hospitality & Tourism). Artikel ini menjelaskan konsep Total Quality Management (TQM) dari perspektif manajerial dan hasil penelitian kualitatif tentang pemahaman manajer terkait TQM sebagai strategi manajemen.
  6. Artikel: “Implementing ISO 9001 Quality Management System in Education: A Case Study from the UAE” oleh M. S. Salleh, S. Shuib, dan S. Abdullah (2019, Total Quality Management & Business Excellence). Artikel ini menggambarkan studi kasus tentang penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 dalam konteks pendidikan di Uni Emirat Arab, melibatkan langkah-langkah, manfaat, dan tantangan yang dihadapi.

Beberapa Tulisan dari Penulis :

Pratiwi, H., PRAYUDI, A., SINAGA, K., MAHYUDANIL, M., & ADITI, B. (2022). PENGARUH HARGA DAN KUALITAS PELAYANAN SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN PT. HERFINTA FARM AND PLANTATION. Journal Of Global Business And Management Review4(2), 72. doi: 10.37253/jgbmr.v4i2.7268

Pratiwi, H., Mendrofa, S., Zega, Y., Prayudi, A., & Sulaiman, F. (2022). Budaya Organisasi Dan Stress Kerja: Pengaruh Terhadap Kinerja Karyawan PT. Herfinta Farm And Plantation. Ekonomi, Keuangan, Investasi Dan Syariah (EKUITAS)4(2), 505-511. doi: 10.47065/ekuitas.v4i2.2592

Amelia, W., Prayudi, A., Khairunnisak, K., Pratama, I., & Febrizaldy, F. (2022). Edukasi Warga Desa Sembahe Baru Dalam Rangka Peningkatan Penghasilan Melalui Ekonomi Kreatif Pengolahan Sampah Plastik. Pelita Masyarakat4(1), 92-100. doi: 10.31289/pelitamasyarakat.v4i1.7378

Sinaga, R., Sinaga, K., Prayudi, A., Pratiwi, H., & Sulaiman, F. (2022). Kepuasan Pelanggan sebagai Faktor Kualitas Pelayanan PT. Mada Graha Nagata dengan Multi Attribute Attitude Model. Ekonomi, Keuangan, Investasi Dan Syariah (EKUITAS)4(1), 198-202. doi: 10.47065/ekuitas.v4i1.2086

Chairunnisa, S., & Prayudi, A. (2022). Pengaruh Fluktuasi Kurs Mata Uang terhadap Harga Saham Pt. Bank Central Asia, Tbk di Indonesia. Economics, Business And Management Science Journal2(2), 108-116. doi: 10.34007/ebmsj.v2i2.293

Prayudi, A. (2022). ANALISIS PENGARUH PENGGAJIAN, FASILITAS KERJA DAN GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA BINJAI. JURNAL MANAJEMEN8(1), 17-30. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/154

Gea, N., Effendi, I., & Prayudi, A. (2021). Pengaruh Manajemen Modal Kerja Terhadap Kinerja Keuangan Pada Perusahaan Sektor Transportasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)2(2), 146-152. doi: 10.31289/jimbi.v2i1.456

Ritonga, S., Effendi, I., & Prayudi, A. (2021). Pengaruh Struktur Modal Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Consumer Goods di BEI. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)2(2), 86-95. doi: 10.31289/jimbi.v2i1.383

Prayudi, A. (2021). KEPUASAN KERJA DAN MOTIVASI KERJA PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA MEDAN. Jurnal Ilmu Manajemen METHONOMIX4(2), 75-84. Retrieved from https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/methonomix/article/view/1109

Latief, A., Ramadansyah, J., Wijoyo, H., Prayudi, A., & Putra, R. (2021). The Influence of Work Motivation and Organizational Culture to Employee Performance. Retrieved 27 August 2023, from https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=3926924

Sinaga, I., Lubis, A., & Prayudi, A. (2020). PENGARUH INTERNET FINANCIAL REPORTING (IFR) DAN TINGKAT PENGUNGKAPAN INFORMASI WEBSITE TERHADAP FREKUENSI PERDAGANGAN SAHAM PADA PERUSAHAAN PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BEI. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(2). doi: 10.31289/jimbi.v1i2.394

Br Lubis, H., Effendi, I., & Prayudi, A. (2020). PENGARUH TINGKAT MODAL KERJA TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN OTOMOTIF & KOMPONEN YANG TERDAFTAR DI BEI PERIODE 2014 – 2018. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(2). doi: 10.31289/jimbi.v1i2.396

Brahamana, N., & Prayudi, A. (2020). Analisis Profitabilitas Dalam Pemberian Kredit Pada Koperasi Kredit Unam Berastagi. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(1), 131-140. Retrieved from https://mail.jurnalmahasiswa.uma.ac.id/index.php/jimbi/article/view/376

Prayudi, A. (2020). PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP KINERJA KARYAWAN DENGAN MOTIVASI KERJA SEBAGAI VARIABEL INTERVENING (STUDI PADA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA BINJAI). JURNAL MANAJEMEN1(2), 63-72. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/128

Prayudi, A., & Tanjung, M. (2018). ANALISIS KINERJA PERUSAHAAN DENGAN METODE BALANCED SCORECARD PADA PT. RIA BUSANA MEDAN. JURNAL MANAJEMEN4(2), 126-130. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/33

Prayudi, A. (2017). PENGARUH KEPEMIMPINAN DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PT. RAJAWALI NUSINDO CABANG MEDAN. JURNAL MANAJEMEN3(2), 20-27. Retrieved from http://ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/10

Prayudi, A., & Ilhammi, N. (2015). ANALISIS RASIO UTANG ATAS MODAL DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP PENGEMBALIAN SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA. JURNAL AKUNTANSI DAN BISNIS : Jurnal Program Studi Akuntansi1(2). Retrieved from https://www.ojs.uma.ac.id/index.php/jurnalakundanbisnis/article/view/1723