Apa itu Brand Loyalty dan Brand Trust

Brand loyalty, atau loyalitas merek, adalah tingkat kesetiaan dan preferensi konsumen terhadap suatu merek atau produk tertentu. Ini berarti bahwa konsumen yang memiliki brand loyalty cenderung memilih dan membeli produk atau layanan dari merek yang sama secara konsisten, bahkan ketika ada pilihan lain yang tersedia di pasar. Mereka juga cenderung memberikan rekomendasi positif tentang merek tersebut kepada orang lain.

Latar belakang dari brand loyalty bisa melibatkan berbagai faktor, seperti:

  1. Kualitas Produk: Jika suatu merek terus menerus menghasilkan produk atau layanan yang berkualitas tinggi, konsumen cenderung akan loyal karena mereka telah mengalami manfaat positif dari merek tersebut.
  2. Pengalaman Pelanggan: Pengalaman pelanggan yang positif, baik dalam hal layanan pelanggan, pelayanan purna jual, atau interaksi dengan merek, dapat meningkatkan brand loyalty.
  3. Identitas Merek: Merek yang memiliki nilai-nilai atau identitas yang sesuai dengan nilai-nilai dan identitas konsumen juga cenderung membangun loyalitas pelanggan.
  4. Program Loyalti: Program-program loyalitas, seperti kartu hadiah atau poin loyalitas, dapat mendorong konsumen untuk tetap memilih merek yang sama untuk mendapatkan manfaat tambahan.
  5. Reputasi Merek: Reputasi positif suatu merek di pasar dapat mempengaruhi keputusan konsumen untuk tetap setia.
  6. Komunikasi Merek: Kampanye pemasaran dan komunikasi merek yang efektif dapat memperkuat kesetiaan konsumen dengan mengkomunikasikan nilai dan manfaat produk atau layanan.

Membangun brand loyalty memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan oleh perusahaan. Berikut adalah beberapa kelebihan dan kekurangan dari membangun brand loyalty:

Kelebihan Membangun Brand Loyalty:

  1. Pendapatan yang Stabil: Brand loyalty dapat menghasilkan pendapatan yang stabil dan berkelanjutan karena konsumen yang setia cenderung membeli produk atau layanan dari merek yang sama secara teratur. Ini mengurangi fluktuasi pendapatan.
  2. Biaya Pemasaran yang Lebih Rendah: Mempertahankan pelanggan yang sudah ada seringkali lebih ekonomis daripada menarik pelanggan baru. Pelanggan yang loyal cenderung memerlukan upaya pemasaran dan promosi yang lebih sedikit.
  3. Rekomendasi Positif: Pelanggan yang setia sering kali memberikan rekomendasi positif kepada orang lain, yang dapat membantu merek untuk menarik pelanggan baru.
  4. Peningkatan Penjualan Silang: Pelanggan yang loyal cenderung lebih mungkin untuk mencoba produk atau layanan baru yang diperkenalkan oleh merek yang sama.
  5. Ketahanan Terhadap Persaingan: Merek dengan brand loyalty yang kuat lebih tahan terhadap persaingan karena pelanggan setia cenderung kurang rentan terhadap promosi dari pesaing.

Kekurangan Membangun Brand Loyalty:

  1. Biaya Perolehan Pelanggan: Memiliki brand loyalty yang kuat memerlukan waktu, upaya, dan sumber daya untuk membangunnya. Mungkin diperlukan investasi signifikan dalam program-program loyalitas dan pemasaran.
  2. Tingkat Harapan yang Tinggi: Pelanggan yang loyal cenderung memiliki tingkat harapan yang tinggi terhadap merek tersebut. Jika merek tidak memenuhi ekspektasi mereka, mereka dapat pindah ke merek lain dengan cepat.
  3. Risiko Kejenuhan: Pelanggan yang sangat setia mungkin menjadi jenuh dengan merek tersebut jika tidak ada inovasi atau pembaruan yang cukup. Ini bisa mengakibatkan mereka beralih ke merek lain.
  4. Keterbatasan Pertumbuhan: Fokus yang terlalu kuat pada mempertahankan pelanggan yang sudah ada dapat menghambat pertumbuhan merek dengan mengurangi upaya untuk menarik pelanggan baru.
  5. Rentan Terhadap Perubahan Pasar: Perubahan tren pasar, perubahan dalam preferensi konsumen, atau peristiwa tak terduga bisa memengaruhi brand loyalty dan menyebabkan penurunan dalam penjualan.
  6. Persaingan yang Intens: Saat persaingan ketat, merek harus terus menerus berinovasi dan mempertahankan kualitas untuk menjaga loyalitas pelanggan, yang bisa menjadi tugas yang sulit.

Berikut adalah beberapa contoh penerapan brand loyalty di perusahaan-perusahaan yang berbeda:

  1. Program Kartu Loyalitas Starbucks: Starbucks adalah contoh yang baik dari perusahaan yang sukses menerapkan program kartu loyalitas. Dengan program “Starbucks Rewards,” pelanggan dapat mengumpulkan poin setiap kali mereka membeli minuman atau produk Starbucks. Poin-poin ini kemudian dapat ditukarkan dengan minuman gratis atau barang lainnya. Program ini mendorong pelanggan untuk kembali ke Starbucks secara teratur, membangun brand loyalty, dan meningkatkan retensi pelanggan.
  2. Apple dan Ekosistemnya: Apple adalah perusahaan lain yang memiliki brand loyalty yang sangat kuat. Mereka telah membangun ekosistem produk dan layanan yang saling terintegrasi, seperti iPhone, iPad, Mac, dan layanan iCloud. Pelanggan yang sudah memiliki satu produk Apple cenderung membeli produk lain di ekosistem tersebut karena kenyamanan dan kompatibilitasnya, menciptakan brand loyalty yang kuat.
  3. Amazon Prime: Amazon telah berhasil membangun brand loyalty melalui program Amazon Prime. Anggota Prime menikmati sejumlah manfaat, termasuk pengiriman cepat dan gratis, akses ke layanan streaming video dan musik, serta berbagai penawaran eksklusif. Ini telah mendorong banyak pelanggan untuk tetap berbelanja di Amazon secara teratur dan menjadi pelanggan setia.
  4. Nike dan Komunitas Sneakerheads: Nike telah membangun brand loyalty yang kuat di antara pecinta sepatu atau “sneakerheads.” Mereka secara teratur merilis desain sepatu yang terbatas dan berkolaborasi dengan selebriti dan atlet terkenal. Ini menciptakan rasa eksklusivitas dan komunitas di sekitar merek, mendorong pelanggan untuk tetap setia dan terus membeli produk Nike.
  5. Coca-Cola dan Kampanye Berkelanjutan: Coca-Cola memiliki brand loyalty yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Mereka terus mempromosikan citra merek mereka dengan kampanye berkelanjutan, seperti “Open Happiness” dan “Share a Coke.” Meskipun banyak pesaing di pasar minuman ringan, Coca-Cola telah berhasil mempertahankan banyak pelanggan setia di seluruh dunia.

Gambar : Penulis dalam suatu kegiatan pengabdian kepada masyarkat

Brand trust, atau kepercayaan merek, merujuk pada tingkat kepercayaan dan keyakinan konsumen terhadap suatu merek atau perusahaan. Ini mencerminkan keyakinan konsumen bahwa merek tersebut akan memenuhi janji-janji mereka, memberikan produk atau layanan berkualitas, dan berperilaku dengan etika dan integritas yang baik. Brand trust adalah elemen penting dalam membangun hubungan jangka panjang antara merek dan pelanggan.

Latar belakang dari brand trust adalah kompleks dan melibatkan sejumlah faktor, di antaranya:

  1. Kualitas Produk dan Layanan: Salah satu fondasi utama dari brand trust adalah kemampuan merek untuk secara konsisten menghasilkan produk atau layanan berkualitas tinggi. Ketika pelanggan merasa bahwa produk atau layanan yang mereka beli dapat diandalkan, mereka lebih cenderung mempercayai merek tersebut.
  2. Integritas dan Etika: Perilaku etis dan integritas merek sangat penting dalam membangun kepercayaan. Merek yang berkomitmen pada prinsip-prinsip yang benar, seperti transparansi, keadilan, dan tanggung jawab sosial, cenderung lebih dipercayai oleh konsumen.
  3. Pengalaman Pelanggan Positif: Pengalaman pelanggan yang positif, termasuk pelayanan pelanggan yang baik, respon cepat terhadap masalah, dan interaksi yang menyenangkan, dapat membantu membangun brand trust.
  4. Reputasi Merek: Reputasi positif di pasar, baik dalam hal kinerja produk maupun tanggung jawab sosial perusahaan, dapat meningkatkan tingkat kepercayaan konsumen.
  5. Transparansi dan Komunikasi yang Jujur: Merek yang terbuka dan jujur dalam komunikasi mereka dengan pelanggan cenderung lebih dipercayai. Ini mencakup pengungkapan informasi tentang produk, harga, dan praktik bisnis.
  6. Pengalaman Merek yang Konsisten: Merek yang mempertahankan konsistensi dalam penampilan, pesan, dan nilai-nilai merek mereka memiliki potensi lebih besar untuk membangun kepercayaan yang kuat.
  7. Umpan Balik Pelanggan: Menerima dan merespons umpan balik pelanggan dengan baik dapat membantu merek memperbaiki dan mengoptimalkan produk dan layanan mereka, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kepercayaan konsumen.
  8. Kepatuhan Hukum dan Regulasi: Mematuhi semua hukum dan regulasi yang berlaku dalam bisnis adalah penting untuk membangun kepercayaan, karena pelanggaran etika atau hukum dapat merusak reputasi merek.

Penggunaan brand trust oleh perusahaan memiliki sejumlah kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan dengan cermat. Berikut adalah beberapa contoh:

Kelebihan Menggunakan Brand Trust:

  1. Loyalitas Pelanggan yang Kuat: Membangun brand trust dapat membantu menciptakan pelanggan yang setia dan cenderung memilih produk atau layanan perusahaan secara berulang. Mereka lebih mungkin untuk tetap membeli dari merek tersebut bahkan ketika ada pesaing di pasar.
  2. Reputasi yang Baik: Brand trust yang kuat dapat membantu membangun reputasi yang baik di mata pelanggan, yang dapat menjadi aset berharga dalam jangka panjang. Reputasi yang baik dapat mendukung pertumbuhan perusahaan, memudahkan ekspansi ke pasar baru, dan mengurangi risiko.
  3. Kemampuan Meningkatkan Harga: Perusahaan dengan brand trust yang kuat cenderung memiliki lebih banyak fleksibilitas dalam menetapkan harga produk atau layanan mereka. Pelanggan yang percaya pada merek tersebut bersedia membayar premi lebih tinggi atas produk atau layanan yang mereka anggap berkualitas.
  4. Kemungkinan Rekomendasi Pelanggan: Pelanggan yang mempercayai merek cenderung memberikan rekomendasi positif kepada teman, keluarga, dan rekan mereka. Ini dapat membantu perusahaan mendapatkan lebih banyak pelanggan potensial secara organik.

Kekurangan Menggunakan Brand Trust:

  1. Waktu dan Upaya yang Dibutuhkan: Membangun brand trust memerlukan waktu dan upaya yang signifikan. Perusahaan harus secara konsisten memenuhi janji-janji mereka kepada pelanggan dan membangun reputasi yang baik, yang bisa memakan waktu bertahun-tahun.
  2. Resiko Kehilangan Kepercayaan: Sekali kepercayaan pelanggan terhadap merek tergoyahkan, sulit untuk memulihkannya. Skandal, produk cacat, atau pengalaman pelanggan buruk dapat merusak brand trust dan berdampak negatif pada bisnis.
  3. Ketidakpastian Pasar: Kondisi pasar, tren, dan preferensi konsumen dapat berubah secara tiba-tiba. Brand trust yang kuat tidak selalu cukup untuk mengatasi perubahan ini, dan perusahaan harus tetap fleksibel dan adaptif.
  4. Peningkatan Tuntutan Pelanggan: Ketika pelanggan telah mempercayai suatu merek, mereka cenderung memiliki harapan yang lebih tinggi terhadap produk, layanan, dan perilaku merek. Perusahaan harus terus berupaya memenuhi harapan ini, yang bisa meningkatkan biaya operasional.
  5. Persaingan yang Intens: Dalam lingkungan bisnis yang kompetitif, perusahaan harus tetap waspada dan berinovasi agar tidak kehilangan pangsa pasar mereka kepada pesaing yang menawarkan nilai yang lebih baik atau lebih tinggi.

Berikut adalah beberapa contoh penerapan brand trust di perusahaan-perusahaan terkenal:

  1. Apple: Apple adalah contoh utama perusahaan dengan brand trust yang sangat kuat. Mereka telah membangun reputasi untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi yang berfokus pada desain, kinerja, dan inovasi. Apple juga dikenal karena menjaga privasi pelanggan dengan ketat dalam produk dan layanannya, yang menciptakan kepercayaan tambahan. Selain itu, Apple sering kali melakukan kampanye pemasaran yang menekankan keunggulan merek mereka dalam hal keamanan dan privasi.
  2. Amazon: Amazon telah membangun brand trust melalui pengiriman yang cepat dan andal, kebijakan pengembalian yang baik, dan layanan pelanggan yang responsif. Kepercayaan pelanggan kepada Amazon juga diperkuat melalui program Amazon Prime, yang memberikan sejumlah manfaat eksklusif kepada anggotanya, seperti pengiriman gratis dan akses ke konten digital.
  3. Tesla: Tesla adalah produsen mobil listrik yang telah berhasil membangun brand trust dalam industri otomotif. Merek ini dikenal karena inovasi teknologinya dan komitmen terhadap mobil yang ramah lingkungan. Kepercayaan tambahan diberikan melalui pembaruan perangkat lunak yang terus menerus, yang memungkinkan pemilik Tesla untuk mengalami peningkatan performa dan fitur tanpa harus membeli mobil baru.
  4. The Coca-Cola Company: Coca-Cola adalah merek minuman ringan yang memiliki brand trust yang kuat selama bertahun-tahun. Merek ini terkenal karena konsistensi rasa produk mereka dan kampanye pemasaran yang mendalam. Coca-Cola juga telah terlibat dalam banyak program sosial dan lingkungan yang telah membangun citra positif di mata konsumen.
  5. Dove (Unilever): Dove, merek perawatan tubuh milik Unilever, telah membangun brand trust dengan fokus pada pesan kecantikan yang positif dan kampanye yang merayakan keberagaman dan keunikan individu. Merek ini juga terkenal karena kampanye “Campaign for Real Beauty,” yang menekankan pesan kecantikan yang sejati dan tidak terdistorsi.

Brand loyalty dan brand trust adalah dua konsep yang terkait dalam manajemen merek, tetapi mereka memiliki perbedaan yang signifikan:

Brand Loyalty (Loyalitas Merek):

  1. Definisi: Brand loyalty merujuk pada tingkat kesetiaan dan preferensi konsumen terhadap suatu merek atau produk tertentu. Ini berarti bahwa konsumen yang memiliki brand loyalty cenderung memilih dan membeli produk atau layanan dari merek yang sama secara konsisten.
  2. Fokus Utama: Brand loyalty fokus pada tindakan pembelian konsumen dan kecenderungan untuk memilih merek yang sama berulang kali.
  3. Contoh: Seorang pelanggan yang selalu memilih merek X ketika membeli produk tertentu adalah contoh brand loyalty. Mereka mungkin selalu membeli sepatu merek X atau minuman soda merek Y tanpa mempertimbangkan merek lain.

Brand Trust (Kepercayaan Merek):

  1. Definisi: Brand trust merujuk pada tingkat kepercayaan dan keyakinan konsumen terhadap suatu merek atau perusahaan. Ini mencerminkan keyakinan konsumen bahwa merek tersebut akan memenuhi janji-janji mereka, memberikan produk atau layanan berkualitas, dan berperilaku dengan etika dan integritas yang baik.
  2. Fokus Utama: Brand trust fokus pada aspek kepercayaan, etika, integritas, dan kualitas merek. Ini melibatkan kepercayaan konsumen terhadap merek untuk memberikan produk atau layanan yang baik dan berperilaku dengan baik dalam bisnis mereka.
  3. Contoh: Seorang konsumen yang mempercayai merek X untuk selalu menghasilkan produk berkualitas tinggi, menghormati privasi pelanggan, dan berkomitmen pada tanggung jawab sosial adalah contoh brand trust. Mereka mungkin tidak hanya membeli produk merek X secara konsisten tetapi juga merekomendasikan merek tersebut kepada orang lain berdasarkan kepercayaan mereka.

Jadi, perbedaan utama antara keduanya adalah bahwa brand loyalty lebih fokus pada tindakan pembelian dan preferensi konsumen terhadap merek, sementara brand trust lebih fokus pada tingkat kepercayaan dan keyakinan konsumen terhadap etika, integritas, dan kualitas merek. Meskipun keduanya dapat terkait, memiliki brand trust yang kuat dapat menjadi dasar bagi brand loyalty yang kokoh, karena konsumen cenderung memilih merek yang mereka percayai dan yakini akan memberikan nilai yang baik.

Berikut beberapa buku dan artikel yang berhubungan dengan brand loyalty dan brand trust, beserta informasi tambahan:

Buku:

  1. “Building Strong Brands” oleh David A. Aaker (1995, Free Press): Buku ini adalah referensi klasik dalam bidang manajemen merek. Aaker membahas strategi untuk membangun merek yang kuat, termasuk aspek-aspek yang memengaruhi brand loyalty dan brand trust.
  2. “Brand Trust: A Study on the Investigative Influence on Consumer Behavior” oleh Annika Frey dan Ann-Kathrin Leonhardt (2012, VDM Verlag): Buku ini mendalami konsep brand trust dan bagaimana kepercayaan konsumen memengaruhi perilaku konsumen.
  3. “Building Brand Value the Playboy Way” oleh Elizabeth Norris (2009, Palgrave Macmillan): Buku ini menggambarkan bagaimana Playboy membangun dan memelihara brand loyalty dan brand trust selama bertahun-tahun sebagai merek ikonik.

Artikel:

  1. “The Role of Brand Trust in E-commerce in Developing Countries” oleh Zohreh Esmaeili, Bahman Mohammadi, dan Arash Shahin (2019, Journal of Promotion Management): Artikel ini membahas peran brand trust dalam perdagangan elektronik di negara-negara berkembang.
  2. “Brand Loyalty and Customer Loyalty” oleh Nor Aishah Buang, Aslinda Mohd. Ismail, dan Wan Fauziah Wan Yusoff (2015, Procedia – Social and Behavioral Sciences): Artikel ini membahas hubungan antara brand loyalty dan loyalitas pelanggan serta faktor-faktor yang memengaruhinya.
  3. “The Influence of Brand Trust and Brand Identification on Brand Evangelism” oleh Kevin Lane Keller dan Susan Fournier (2012, Marketing Science): Artikel ini membahas bagaimana brand trust dan identifikasi merek mempengaruhi perilaku pengkhotbah merek (brand evangelism), yaitu konsumen yang dengan antusias merekomendasikan merek kepada orang lain.
  4. “The Role of Brand Trust in Building Brand Loyalty: The Emotional and Rational Paths” oleh Chatura Ranaweera dan Priyanga Gunawardana (2014, Journal of Marketing Theory and Practice): Artikel ini membahas peran brand trust dalam membangun brand loyalty, dengan mempertimbangkan aspek emosional dan rasional dari proses tersebut.

Beberapa Tulisan Ilmiah dari Penulis :

Prayudi, A., Zega, Y., & Nasution, I. (2023). Analisis Pengaruh Lingkungan Kerja, Disiplin Kerja, dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT Indonesia Abadi Jaya. Jurnal Sains Dan Teknologi5(1), 37-43. Retrieved from https://ejournal.sisfokomtek.org/index.php/sai

Sari, W., & Prayudi, A. (2023). Can Competitive Intensity Act a Bridge between Institutional Pressures and Corporate Financial Performance in Indonesia’s Footwear Industry? A Structural Equation Modelling Approach. Transnational Marketing Journal11(1), 199-212. Retrieved from http://transnationalmarket.com/menu-script/index.php/transnational/article/view/323

Pengaruh Kepemimpinan tranformasional, budaya organiasi, kopentensi karyawan terhadap loyalitas karyawan di Badan Usaha Milik Daerah – repo unpas. (2023). Retrieved 27 August 2023, from http://repository.unpas.ac.id/62662/

Pratiwi, H., PRAYUDI, A., SINAGA, K., MAHYUDANIL, M., & ADITI, B. (2022). PENGARUH HARGA DAN KUALITAS PELAYANAN SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN PT. HERFINTA FARM AND PLANTATION. Journal Of Global Business And Management Review4(2), 72. doi: 10.37253/jgbmr.v4i2.7268

Ahmad Prayudi, & Imas Komariyah. (2023). THE IMPACT OF WORK MOTIVATION, WORK ENVIRONMENT, AND CAREER DEVELOPMENT ON EMPLOYEE JOB SATISFACTION. Jurnal Visi Manajemen9(1), 100-112. doi: 10.56910/jvm.v9i1.268

Pratiwi, H., Mendrofa, S., Zega, Y., Prayudi, A., & Sulaiman, F. (2022). Budaya Organisasi Dan Stress Kerja: Pengaruh Terhadap Kinerja Karyawan PT. Herfinta Farm And Plantation. Ekonomi, Keuangan, Investasi Dan Syariah (EKUITAS)4(2), 505-511. doi: 10.47065/ekuitas.v4i2.2592

Amelia, W., Prayudi, A., Khairunnisak, K., Pratama, I., & Febrizaldy, F. (2022). Edukasi Warga Desa Sembahe Baru Dalam Rangka Peningkatan Penghasilan Melalui Ekonomi Kreatif Pengolahan Sampah Plastik. Pelita Masyarakat4(1), 92-100. doi: 10.31289/pelitamasyarakat.v4i1.7378

Sinaga, R., Sinaga, K., Prayudi, A., Pratiwi, H., & Sulaiman, F. (2022). Kepuasan Pelanggan sebagai Faktor Kualitas Pelayanan PT. Mada Graha Nagata dengan Multi Attribute Attitude Model. Ekonomi, Keuangan, Investasi Dan Syariah (EKUITAS)4(1), 198-202. doi: 10.47065/ekuitas.v4i1.2086

Chairunnisa, S., & Prayudi, A. (2022). Pengaruh Fluktuasi Kurs Mata Uang terhadap Harga Saham Pt. Bank Central Asia, Tbk di Indonesia. Economics, Business And Management Science Journal2(2), 108-116. doi: 10.34007/ebmsj.v2i2.293

Prayudi, A. (2022). ANALISIS PENGARUH PENGGAJIAN, FASILITAS KERJA DAN GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA BINJAI. JURNAL MANAJEMEN8(1), 17-30. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/154

Gea, N., Effendi, I., & Prayudi, A. (2021). Pengaruh Manajemen Modal Kerja Terhadap Kinerja Keuangan Pada Perusahaan Sektor Transportasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)2(2), 146-152. doi: 10.31289/jimbi.v2i1.456

Ritonga, S., Effendi, I., & Prayudi, A. (2021). Pengaruh Struktur Modal Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Consumer Goods di BEI. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)2(2), 86-95. doi: 10.31289/jimbi.v2i1.383

Prayudi, A. (2021). KEPUASAN KERJA DAN MOTIVASI KERJA PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA MEDAN. Jurnal Ilmu Manajemen METHONOMIX4(2), 75-84. Retrieved from https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/methonomix/article/view/1109

Latief, A., Ramadansyah, J., Wijoyo, H., Prayudi, A., & Putra, R. (2021). The Influence of Work Motivation and Organizational Culture to Employee Performance. Retrieved 27 August 2023, from https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=3926924

Sinaga, I., Lubis, A., & Prayudi, A. (2020). PENGARUH INTERNET FINANCIAL REPORTING (IFR) DAN TINGKAT PENGUNGKAPAN INFORMASI WEBSITE TERHADAP FREKUENSI PERDAGANGAN SAHAM PADA PERUSAHAAN PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BEI. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(2). doi: 10.31289/jimbi.v1i2.394

Br Lubis, H., Effendi, I., & Prayudi, A. (2020). PENGARUH TINGKAT MODAL KERJA TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN OTOMOTIF & KOMPONEN YANG TERDAFTAR DI BEI PERIODE 2014 – 2018. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(2). doi: 10.31289/jimbi.v1i2.396

Brahamana, N., & Prayudi, A. (2020). Analisis Profitabilitas Dalam Pemberian Kredit Pada Koperasi Kredit Unam Berastagi. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(1), 131-140. Retrieved from https://mail.jurnalmahasiswa.uma.ac.id/index.php/jimbi/article/view/376

Prayudi, A. (2020). PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP KINERJA KARYAWAN DENGAN MOTIVASI KERJA SEBAGAI VARIABEL INTERVENING (STUDI PADA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA BINJAI). JURNAL MANAJEMEN1(2), 63-72. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/128

Prayudi, A., & Tanjung, M. (2018). ANALISIS KINERJA PERUSAHAAN DENGAN METODE BALANCED SCORECARD PADA PT. RIA BUSANA MEDAN. JURNAL MANAJEMEN4(2), 126-130. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/33

Prayudi, A. (2017). PENGARUH KEPEMIMPINAN DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PT. RAJAWALI NUSINDO CABANG MEDAN. JURNAL MANAJEMEN3(2), 20-27. Retrieved from http://ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/10

Prayudi, A., & Ilhammi, N. (2015). ANALISIS RASIO UTANG ATAS MODAL DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP PENGEMBALIAN SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA. JURNAL AKUNTANSI DAN BISNIS : Jurnal Program Studi Akuntansi1(2). Retrieved from https://www.ojs.uma.ac.id/index.php/jurnalakundanbisnis/article/view/1723

Komariyah, I., Prayudi, A., Edison, E., & Laelawati, K. (2023). THE RELATIONSHIP BETWEEN ORGANIZATIONAL CULTURE AND COMPETENCE WITH ORGANIZATIONAL COMMITMENT IN EMPLOYEES OF BUMD BINJAI, NORTH SUMATRA. Jurnal Riset Bisnis Dan Manajemen16(2), 210-218. doi: 10.23969/jrbm.v16i2.7572

 

Personnel Selection Process

Proses seleksi personel adalah langkah penting dalam pengelolaan sumber daya manusia suatu organisasi. Tujuan utama dari proses seleksi personel adalah untuk memastikan bahwa organisasi mendapatkan karyawan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan tujuan perusahaan. Berikut adalah beberapa tujuan utama dari proses seleksi personel:

  1. Identifikasi Kualifikasi yang Sesuai: Proses seleksi personel bertujuan untuk mengidentifikasi individu yang memiliki kualifikasi, pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang akan diemban.
  2. Meningkatkan Produktivitas: Dengan memilih karyawan yang tepat, organisasi dapat meningkatkan produktivitas karena karyawan yang sesuai akan lebih efisien dalam melaksanakan tugas mereka.
  3. Mengurangi Risiko Kesalahan: Seleksi yang cermat dapat membantu mengurangi risiko kesalahan dalam rekrutmen, sehingga organisasi dapat menghindari konsekuensi negatif seperti biaya yang tinggi dan masalah kinerja.
  4. Peningkatan Kepuasan Karyawan: Memilih karyawan yang sesuai dengan budaya dan nilai-nilai perusahaan dapat meningkatkan kepuasan karyawan, yang pada gilirannya dapat berdampak positif pada retensi karyawan.
  5. Penciptaan Tim yang Efektif: Seleksi yang baik juga membantu dalam pembentukan tim yang efektif, di mana anggota tim saling mendukung dan bekerja secara sinergis.

Gambar : Penulis dalam sebuah acara Job fair

Berbagai Sumber Informasi yang Digunakan untuk Seleksi Personel:

  1. Aplikasi dan Resume: Aplikasi pekerjaan dan resume adalah sumber informasi awal yang digunakan untuk mengidentifikasi calon karyawan potensial. Mereka memberikan gambaran tentang latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, dan keterampilan calon.
  2. Wawancara: Wawancara adalah salah satu metode paling umum dalam proses seleksi personel. Melalui wawancara, pewawancara dapat mengevaluasi keterampilan interpersonal, motivasi, komunikasi, dan keterampilan lainnya dari calon karyawan.
  3. Tes Psikometrik: Tes psikometrik, seperti tes kepribadian dan tes IQ, digunakan untuk mengevaluasi aspek-aspek psikologis dan kognitif calon karyawan. Ini membantu dalam memahami kepribadian, bakat, dan potensi mereka.
  4. Referensi dan Riwayat Kerja: Menghubungi referensi dan memeriksa riwayat kerja calon karyawan dapat memberikan wawasan tentang kinerja dan rekam jejak mereka di pekerjaan sebelumnya.
  5. Simulasi Kerja: Beberapa organisasi menggunakan simulasi kerja atau uji keterampilan praktis untuk menguji kemampuan calon karyawan dalam situasi nyata yang terkait dengan pekerjaan yang akan dijalani.
  6. Latar Belakang Pendidikan: Informasi mengenai pendidikan formal calon karyawan, seperti gelar, jurusan, dan institusi pendidikan, dapat menjadi faktor penting dalam proses seleksi.
  7. Penilaian Tim dan Rekomendasi: Dalam beberapa kasus, calon karyawan dievaluasi oleh tim seleksi atau diberikan rekomendasi oleh anggota tim atau atasan yang berpotensi bekerja dengan mereka.
  8. Uji Kesehatan dan Narkoba: Beberapa pekerjaan mungkin mengharuskan calon karyawan menjalani uji kesehatan dan uji narkoba untuk memastikan bahwa mereka dalam kondisi fisik dan mental yang baik.
  9. Evaluasi Portofolio: Untuk pekerjaan yang berkaitan dengan seni, desain, atau kreativitas, calon karyawan dapat diminta untuk mengirimkan atau mempresentasikan portofolio pekerjaan mereka.
  1. Uji Keterampilan Teknis: Untuk pekerjaan yang memerlukan keterampilan teknis khusus, seperti pemrograman komputer, desain grafis, atau keahlian dalam peralatan tertentu, uji keterampilan teknis dapat digunakan untuk mengevaluasi kemampuan praktis calon karyawan.
  2. Penilaian Kelompok: Dalam beberapa situasi, seperti untuk posisi manajerial atau yang membutuhkan kerja tim, tes kelompok atau penilaian situasi kelompok dapat digunakan untuk mengevaluasi kemampuan berkolaborasi dan kepemimpinan calon karyawan.
  3. Pemeriksaan Latar Belakang Kriminal: Beberapa pekerjaan yang mengharuskan akses ke data sensitif atau pekerjaan dengan anak-anak atau orang rentan mungkin memerlukan pemeriksaan latar belakang kriminal untuk memastikan integritas dan keamanan.
  4. Tes Kemampuan Bahasa: Untuk pekerjaan yang memerlukan kemampuan bahasa tertentu, seperti penerjemah atau guru bahasa, tes kemampuan bahasa dapat digunakan untuk mengevaluasi tingkat kompetensi bahasa calon karyawan.
  5. Penilaian Integritas dan Etika: Beberapa organisasi mungkin menggunakan tes atau penilaian khusus untuk mengevaluasi integritas, etika, dan nilai-nilai etika calon karyawan.
  6. Penilaian Keseimbangan Kehidupan Kerja: Dalam beberapa organisasi yang mementingkan keseimbangan kehidupan kerja, pertanyaan atau penilaian khusus dapat digunakan untuk memahami apakah calon karyawan akan dapat mengatasi tuntutan pekerjaan dengan keseimbangan kehidupan pribadi mereka.
  7. Evaluasi Kemampuan Komunikasi: Kemampuan komunikasi yang baik seringkali menjadi faktor kunci dalam banyak pekerjaan. Oleh karena itu, tes atau wawancara khusus dapat digunakan untuk mengevaluasi kemampuan komunikasi calon karyawan.

Pemilihan sumber informasi yang sesuai tergantung pada jenis pekerjaan, kebutuhan organisasi, dan sifat pekerjaan yang sedang direkrut. Kombinasi berbagai sumber informasi akan membantu organisasi membuat keputusan seleksi yang lebih terinformasi dan tepat guna, sehingga meminimalkan risiko kesalahan dalam perekrutan karyawan.

Manfaat dari Berbagai Jenis Tes Ketenagakerjaan:

  1. Tes Keterampilan: Tes keterampilan teknis atau praktis membantu mengukur kemampuan praktis calon karyawan dalam melakukan tugas yang spesifik terkait dengan pekerjaan tertentu. Manfaatnya adalah memastikan bahwa calon memiliki keterampilan yang diperlukan untuk melakukan tugas pekerjaan dengan efektif.
  2. Tes Psikometrik: Tes kepribadian dan tes IQ adalah contoh tes psikometrik yang membantu dalam memahami karakteristik psikologis calon karyawan. Ini dapat membantu dalam memilih individu yang cocok dengan budaya organisasi dan mengukur kualitas seperti motivasi, kepemimpinan, atau kreativitas.
  3. Tes Kemampuan Bahasa: Tes kemampuan bahasa berguna untuk mengukur tingkat kompetensi bahasa calon karyawan. Ini adalah manfaat penting untuk pekerjaan yang memerlukan komunikasi dalam bahasa asing atau pekerjaan yang melibatkan penulisan atau penerjemahan.
  4. Tes Keterampilan Soft: Ini meliputi tes untuk mengukur keterampilan interpersonal, kemampuan beradaptasi, kemampuan berpikir kritis, dan sebagainya. Tes semacam ini membantu dalam mengidentifikasi calon karyawan yang cocok dengan kebutuhan pekerjaan dan tim.
  5. Tes Simulasi Kerja: Tes ini memberikan gambaran langsung tentang bagaimana calon karyawan akan berkinerja dalam situasi nyata yang terkait dengan pekerjaan. Ini berguna untuk mengukur keterampilan praktis dan kemampuan dalam mengatasi situasi pekerjaan tertentu.

Berbagai Pendekatan untuk Melakukan Wawancara Kerja:

  1. Wawancara Terstruktur: Dalam wawancara terstruktur, sejumlah pertanyaan telah ditentukan sebelumnya, dan semua calon karyawan diwawancarai dengan pertanyaan yang sama. Ini membantu dalam perbandingan yang adil antara calon.
  2. Wawancara Tidak Terstruktur: Wawancara tidak terstruktur lebih bebas, dan pewawancara dapat mengajukan pertanyaan berdasarkan respons calon karyawan. Ini memberikan fleksibilitas dalam mengeksplorasi lebih dalam karakteristik individu.
  3. Wawancara Kelompok: Wawancara kelompok melibatkan sekelompok calon karyawan yang diwawancarai secara bersamaan. Ini memungkinkan pengamat untuk mengamati bagaimana calon berinteraksi dan berkolaborasi dalam situasi kelompok.
  4. Wawancara Panel: Dalam wawancara panel, sejumlah pewawancara yang mewakili berbagai aspek organisasi (misalnya, HR, tim teknis, manajer) menghadiri wawancara untuk memberikan perspektif yang beragam.
  5. Wawancara Kompetensi: Wawancara kompetensi mengacu pada pertanyaan yang dirancang untuk mengevaluasi keterampilan dan pengalaman kandidat dalam situasi tertentu yang relevan dengan pekerjaan.

Berbagai Strategi Pengambilan Keputusan untuk Seleksi:

  1. Pendekatan Pengambilan Keputusan Rasional: Pendekatan ini mengumpulkan data, mengukur kriteria, dan melakukan analisis untuk memilih calon karyawan berdasarkan data yang tersedia. Keputusan didasarkan pada fakta dan angka.
  2. Intuisi dan Pengalaman: Beberapa keputusan seleksi didasarkan pada intuisi dan pengalaman pewawancara atau pengambil keputusan. Ini terutama berguna ketika data yang tersedia terbatas.
  3. Pendekatan Konsultatif: Dalam pendekatan ini, pengambil keputusan mengumpulkan masukan dari berbagai pemangku kepentingan atau tim seleksi sebelum membuat keputusan akhir.
  4. Pendekatan Berbasis Teknologi: Dengan perkembangan teknologi, pengambilan keputusan dalam seleksi dapat dibantu oleh algoritma dan perangkat lunak yang menggunakan data untuk memberikan rekomendasi.
  5. Pendekatan Bersama: Keputusan seleksi dapat diambil secara kolektif oleh tim seleksi yang terdiri dari beberapa individu yang memiliki wawasan yang berbeda, untuk meminimalkan bias individu.

Setiap organisasi mungkin memilih pendekatan dan strategi yang berbeda tergantung pada kebutuhan, budaya perusahaan, dan sumber daya yang tersedia. Penting untuk mencari keseimbangan antara objektivitas, akurasi, dan konteks pekerjaan yang spesifik dalam pengambilan keputusan seleksi.

Proses seleksi personel memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan oleh organisasi ketika menggunakannya. Berikut adalah beberapa kelebihan dan kekurangan dari proses seleksi personel:

Kelebihan Proses Seleksi Personel:

  1. Memastikan Kesesuaian Karyawan: Proses seleksi yang efektif dapat membantu organisasi memastikan bahwa karyawan yang direkrut memiliki kualifikasi, keterampilan, dan pengalaman yang sesuai dengan pekerjaan yang ditawarkan.
  2. Meningkatkan Produktivitas: Dengan memilih karyawan yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan, organisasi dapat meningkatkan produktivitas karena karyawan yang tepat akan lebih mampu menjalankan tugas mereka dengan efisien.
  3. Mengurangi Risiko Kesalahan: Seleksi yang cermat dapat membantu mengurangi risiko kesalahan dalam rekrutmen, seperti merekrut karyawan yang tidak cocok atau tidak memiliki keterampilan yang diperlukan.
  4. Peningkatan Kepuasan Karyawan: Memilih karyawan yang cocok dengan budaya dan nilai-nilai perusahaan dapat meningkatkan kepuasan karyawan, yang pada gilirannya dapat berdampak positif pada retensi karyawan.
  5. Menciptakan Tim yang Efektif: Seleksi yang baik juga membantu dalam pembentukan tim yang efektif, di mana anggota tim saling mendukung dan bekerja secara sinergis.

Kekurangan Proses Seleksi Personel:

  1. Biaya dan Waktu: Proses seleksi yang komprehensif dapat memakan banyak waktu dan biaya, terutama jika melibatkan berbagai metode evaluasi, seperti tes, wawancara, dan pengecekan latar belakang.
  2. Potensi Bias: Proses seleksi dapat rentan terhadap bias, baik itu bias kesadaran (conscious bias) maupun bias tak sadar (unconscious bias). Ini dapat mempengaruhi keputusan seleksi dan mengarah pada ketidakadilan.
  3. Kesulitan Memprediksi Kinerja Masa Depan: Meskipun metode seleksi dapat memberikan gambaran tentang kualifikasi calon, mereka tidak selalu dapat memprediksi dengan akurat kinerja calon karyawan di masa depan.
  4. Ketidakpastian tentang Kepribadian dan Kultur Organisasi: Sulit untuk sepenuhnya menilai aspek kepribadian dan keterfittingan karyawan dengan budaya organisasi melalui proses seleksi. Hal ini bisa menjadi tantangan dalam memastikan kesesuaian karyawan dengan nilai-nilai perusahaan.
  5. Tantangan dalam Menilai Keterampilan Soft: Beberapa keterampilan yang penting dalam lingkungan kerja, seperti kemampuan berkomunikasi dan beradaptasi, sulit diukur secara objektif melalui metode seleksi.

Berikut beberapa buku dan artikel yang berkenaan dengan proses seleksi personel:

Buku:

  1. “Personnel Selection: A Theoretical Approach” oleh Frank L. Schmidt dan John E. Hunter (1998, Psychological Press)
    • Buku ini adalah salah satu referensi utama dalam literatur seleksi personel. Membahas dasar-dasar ilmiah dari proses seleksi, termasuk konsep validitas prediktif dan konstruk.
  2. “Employee Selection” oleh Robert D. Gatewood, Hubert S. Feild, dan Murray Barrick (2010, Cengage Learning)
    • Buku ini memberikan pandangan komprehensif tentang berbagai aspek seleksi personel, termasuk teknik-teknik, hukum, dan etika.
  3. “The Oxford Handbook of Personnel Assessment and Selection” diedit oleh Neal Schmitt dan Scott Highhouse (2012, Oxford University Press)
    • Kumpulan artikel yang mencakup berbagai topik dalam seleksi personel, termasuk teori-teori, metode, dan isu-isu terkini.

Artikel Jurnal:

  1. “The Validity and Utility of Selection Methods in Personnel Psychology: Practical and Theoretical Implications of 100 Years of Research Findings” oleh Frank L. Schmidt dan John E. Hunter (1998, Psychological Bulletin)
    • Artikel ini menyajikan hasil penelitian tentang validitas berbagai metode seleksi dan memberikan pandangan terperinci tentang efektivitasnya dalam memprediksi kinerja kerja.
  2. “Best Practices in Employee Selection” oleh David M. Jones dan Stephanie R. Klein (1998, Organizational Dynamics)
    • Artikel ini membahas prinsip-prinsip terbaik dalam seleksi personel dan memberikan panduan praktis bagi profesional HR.
  3. “Person-Job Fit: A Conceptual Integration, Literature Review, and Methodological Critique” oleh Amy L. Kristof (1996, Personnel Psychology)
    • Artikel ini mengulas konsep person-job fit dan pentingnya memastikan bahwa calon karyawan cocok dengan pekerjaan yang ditawarkan.
  4. “The Impact of Human Resource Management Practices on Turnover, Productivity, and Corporate Financial Performance” oleh Mark A. Huselid (1995, Academy of Management Journal)
    • Artikel ini mencantumkan penelitian empiris yang menghubungkan praktik manajemen sumber daya manusia, termasuk seleksi, dengan kinerja organisasi.

Beberapa Tulisan Ilmiah dari Penulis :

Prayudi, A., Zega, Y., & Nasution, I. (2023). Analisis Pengaruh Lingkungan Kerja, Disiplin Kerja, dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT Indonesia Abadi Jaya. Jurnal Sains Dan Teknologi5(1), 37-43. Retrieved from https://ejournal.sisfokomtek.org/index.php/sai

Sari, W., & Prayudi, A. (2023). Can Competitive Intensity Act a Bridge between Institutional Pressures and Corporate Financial Performance in Indonesia’s Footwear Industry? A Structural Equation Modelling Approach. Transnational Marketing Journal11(1), 199-212. Retrieved from http://transnationalmarket.com/menu-script/index.php/transnational/article/view/323

Pengaruh Kepemimpinan tranformasional, budaya organiasi, kopentensi karyawan terhadap loyalitas karyawan di Badan Usaha Milik Daerah – repo unpas. (2023). Retrieved 27 August 2023, from http://repository.unpas.ac.id/62662/

Pratiwi, H., PRAYUDI, A., SINAGA, K., MAHYUDANIL, M., & ADITI, B. (2022). PENGARUH HARGA DAN KUALITAS PELAYANAN SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN PT. HERFINTA FARM AND PLANTATION. Journal Of Global Business And Management Review4(2), 72. doi: 10.37253/jgbmr.v4i2.7268

Ahmad Prayudi, & Imas Komariyah. (2023). THE IMPACT OF WORK MOTIVATION, WORK ENVIRONMENT, AND CAREER DEVELOPMENT ON EMPLOYEE JOB SATISFACTION. Jurnal Visi Manajemen9(1), 100-112. doi: 10.56910/jvm.v9i1.268

Pratiwi, H., Mendrofa, S., Zega, Y., Prayudi, A., & Sulaiman, F. (2022). Budaya Organisasi Dan Stress Kerja: Pengaruh Terhadap Kinerja Karyawan PT. Herfinta Farm And Plantation. Ekonomi, Keuangan, Investasi Dan Syariah (EKUITAS)4(2), 505-511. doi: 10.47065/ekuitas.v4i2.2592

Amelia, W., Prayudi, A., Khairunnisak, K., Pratama, I., & Febrizaldy, F. (2022). Edukasi Warga Desa Sembahe Baru Dalam Rangka Peningkatan Penghasilan Melalui Ekonomi Kreatif Pengolahan Sampah Plastik. Pelita Masyarakat4(1), 92-100. doi: 10.31289/pelitamasyarakat.v4i1.7378

Sinaga, R., Sinaga, K., Prayudi, A., Pratiwi, H., & Sulaiman, F. (2022). Kepuasan Pelanggan sebagai Faktor Kualitas Pelayanan PT. Mada Graha Nagata dengan Multi Attribute Attitude Model. Ekonomi, Keuangan, Investasi Dan Syariah (EKUITAS)4(1), 198-202. doi: 10.47065/ekuitas.v4i1.2086

Chairunnisa, S., & Prayudi, A. (2022). Pengaruh Fluktuasi Kurs Mata Uang terhadap Harga Saham Pt. Bank Central Asia, Tbk di Indonesia. Economics, Business And Management Science Journal2(2), 108-116. doi: 10.34007/ebmsj.v2i2.293

Prayudi, A. (2022). ANALISIS PENGARUH PENGGAJIAN, FASILITAS KERJA DAN GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA BINJAI. JURNAL MANAJEMEN8(1), 17-30. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/154

Gea, N., Effendi, I., & Prayudi, A. (2021). Pengaruh Manajemen Modal Kerja Terhadap Kinerja Keuangan Pada Perusahaan Sektor Transportasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)2(2), 146-152. doi: 10.31289/jimbi.v2i1.456

Ritonga, S., Effendi, I., & Prayudi, A. (2021). Pengaruh Struktur Modal Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Consumer Goods di BEI. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)2(2), 86-95. doi: 10.31289/jimbi.v2i1.383

Prayudi, A. (2021). KEPUASAN KERJA DAN MOTIVASI KERJA PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA MEDAN. Jurnal Ilmu Manajemen METHONOMIX4(2), 75-84. Retrieved from https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/methonomix/article/view/1109

Latief, A., Ramadansyah, J., Wijoyo, H., Prayudi, A., & Putra, R. (2021). The Influence of Work Motivation and Organizational Culture to Employee Performance. Retrieved 27 August 2023, from https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=3926924

Sinaga, I., Lubis, A., & Prayudi, A. (2020). PENGARUH INTERNET FINANCIAL REPORTING (IFR) DAN TINGKAT PENGUNGKAPAN INFORMASI WEBSITE TERHADAP FREKUENSI PERDAGANGAN SAHAM PADA PERUSAHAAN PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BEI. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(2). doi: 10.31289/jimbi.v1i2.394

Br Lubis, H., Effendi, I., & Prayudi, A. (2020). PENGARUH TINGKAT MODAL KERJA TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN OTOMOTIF & KOMPONEN YANG TERDAFTAR DI BEI PERIODE 2014 – 2018. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(2). doi: 10.31289/jimbi.v1i2.396

Brahamana, N., & Prayudi, A. (2020). Analisis Profitabilitas Dalam Pemberian Kredit Pada Koperasi Kredit Unam Berastagi. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(1), 131-140. Retrieved from https://mail.jurnalmahasiswa.uma.ac.id/index.php/jimbi/article/view/376

Prayudi, A. (2020). PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP KINERJA KARYAWAN DENGAN MOTIVASI KERJA SEBAGAI VARIABEL INTERVENING (STUDI PADA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA BINJAI). JURNAL MANAJEMEN1(2), 63-72. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/128

Prayudi, A., & Tanjung, M. (2018). ANALISIS KINERJA PERUSAHAAN DENGAN METODE BALANCED SCORECARD PADA PT. RIA BUSANA MEDAN. JURNAL MANAJEMEN4(2), 126-130. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/33

Prayudi, A. (2017). PENGARUH KEPEMIMPINAN DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PT. RAJAWALI NUSINDO CABANG MEDAN. JURNAL MANAJEMEN3(2), 20-27. Retrieved from http://ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/10

Prayudi, A., & Ilhammi, N. (2015). ANALISIS RASIO UTANG ATAS MODAL DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP PENGEMBALIAN SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA. JURNAL AKUNTANSI DAN BISNIS : Jurnal Program Studi Akuntansi1(2). Retrieved from https://www.ojs.uma.ac.id/index.php/jurnalakundanbisnis/article/view/1723

Komariyah, I., Prayudi, A., Edison, E., & Laelawati, K. (2023). THE RELATIONSHIP BETWEEN ORGANIZATIONAL CULTURE AND COMPETENCE WITH ORGANIZATIONAL COMMITMENT IN EMPLOYEES OF BUMD BINJAI, NORTH SUMATRA. Jurnal Riset Bisnis Dan Manajemen16(2), 210-218. doi: 10.23969/jrbm.v16i2.7572

 

Designing Training and Development Systems

Pendekatan sistem dalam pelatihan dan pengembangan menganggap bahwa organisasi adalah sistem yang kompleks, dan pelatihan adalah salah satu komponen dalam sistem ini. Pendekatan ini memerlukan pemahaman yang holistik tentang kebutuhan, perencanaan, implementasi, evaluasi, dan pembaruan program pelatihan.

Berikut adalah perbedaan utama antara pelatihan dan pengembangan karyawan:

Pelatihan Karyawan:

  1. Fokus Utama: Pelatihan berfokus pada memberikan karyawan keterampilan dan pengetahuan yang spesifik untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka saat ini. Ini berkaitan dengan tugas dan pekerjaan yang sudah ada.
  2. Tujuan Utama: Tujuan utama pelatihan adalah meningkatkan kinerja segera dan membantu karyawan menjadi lebih kompeten dalam menjalankan pekerjaan mereka saat ini.
  3. Konten: Pelatihan biasanya mencakup materi yang praktis, seperti prosedur operasional standar, teknologi yang digunakan dalam pekerjaan sehari-hari, dan keterampilan spesifik yang dibutuhkan dalam posisi tertentu.
  4. Waktu Pelatihan: Pelatihan biasanya bersifat lebih singkat, terfokus, dan berorientasi tugas.

Pengembangan Karyawan:

  1. Fokus Utama: Pengembangan karyawan memiliki fokus yang lebih luas dan jangka panjang. Ini berusaha untuk mempersiapkan karyawan untuk peran dan tanggung jawab yang lebih besar dan kompleks di masa depan.
  2. Tujuan Utama: Tujuan utama pengembangan adalah membantu karyawan mengembangkan keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang akan mendukung kemajuan karier mereka dalam jangka panjang.
  3. Konten: Pengembangan mencakup aspek-aspek seperti kepemimpinan, manajemen waktu, keterampilan komunikasi, pemecahan masalah, serta pemahaman tentang visi dan strategi organisasi.
  4. Waktu Pengembangan: Pengembangan biasanya bersifat jangka panjang dan tidak selalu terkait dengan pekerjaan sehari-hari. Ini mencakup pelatihan, pembelajaran berkelanjutan, pembinaan, dan pengalaman proyek.

Dan dapat disimpulkan  pelatihan bertujuan untuk meningkatkan kinerja karyawan dalam tugas mereka saat ini, pengembangan bertujuan untuk mempersiapkan mereka untuk tugas dan tanggung jawab yang lebih besar di masa depan. Kedua konsep ini penting dalam manajemen sumber daya manusia, karena mereka membantu organisasi memenuhi kebutuhan saat ini sambil merencanakan pertumbuhan dan pengembangan jangka panjang

Gambar : Penulis dalam sebuah rapat di Kampus

Komponen-komponen utama dari pendekatan sistem ini meliputi:

  1. Penilaian Kebutuhan Pelatihan: Penentuan kebutuhan pelatihan adalah langkah awal dalam proses pelatihan. Ini melibatkan identifikasi masalah atau kekurangan dalam kinerja, baik individu maupun organisasi.
  2. Perencanaan Pelatihan: Setelah kebutuhan pelatihan diidentifikasi, langkah berikutnya adalah merancang program pelatihan, termasuk tujuan, metode, konten, dan sumber daya yang diperlukan.
  3. Implementasi Pelatihan: Tahap ini melibatkan penyampaian pelatihan sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Ini dapat melibatkan berbagai metode pelatihan, seperti kelas, pelatihan online, pelatihan praktis, dll.
  4. Evaluasi Pelatihan: Setelah pelatihan selesai, evaluasi diperlukan untuk menilai efektivitas program pelatihan dan mengidentifikasi perbaikan yang mungkin diperlukan.
  5. Pembaruan dan Pengembangan: Program pelatihan harus diperbarui secara berkala untuk menjawab perubahan dalam kebutuhan organisasi dan individu.

Komponen penilaian kebutuhan pelatihan mencakup:

  1. Identifikasi Masalah Kinerja: Memahami masalah yang ada dalam kinerja individu atau tim.
  2. Analisis Tugas: Mengidentifikasi tugas-tugas kunci yang harus dilakukan oleh individu atau tim.
  3. Identifikasi Gap Keterampilan: Menentukan perbedaan antara keterampilan yang dibutuhkan dan yang dimiliki individu.
  4. Konsultasi dengan Pihak Terkait: Mendengarkan umpan balik dari manajemen, karyawan, dan pemangku kepentingan lainnya.

Prinsip-prinsip pembelajaran yang umumnya digunakan dalam pelatihan mencakup:

  1. Aktif: Pembelajaran lebih efektif ketika peserta aktif terlibat dalam proses pembelajaran, bukan hanya sebagai penerima informasi.
  2. Relevan: Materi pelatihan harus relevan dengan tugas dan tujuan pekerjaan peserta.
  3. Kontekstual: Pembelajaran harus diletakkan dalam konteks situasi kerja yang nyata.
  4. Berorientasi Tujuan: Tujuan pembelajaran harus jelas dan terukur.
  5. Kolaboratif: Pembelajaran melalui kolaborasi dengan rekan kerja dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan.

Metode Pelatihan untuk Manajer dan Non-Manajer: Metode pelatihan yang digunakan dapat bervariasi tergantung pada konteks dan tujuan pelatihan. Beberapa metode yang umum digunakan untuk manajer dan non-manajer meliputi:

  1. Pelatihan Klasikal: Pelatihan kelas dengan instruktur yang dipimpin cocok untuk pembelajaran konseptual.
  2. Pelatihan Online: Penggunaan platform e-learning untuk memberikan pelatihan mandiri yang dapat diakses secara fleksibel.
  3. Pelatihan On-the-Job: Belajar melalui pengalaman langsung di tempat kerja.
  4. Pelatihan Simulasi: Penggunaan simulasi untuk melatih keterampilan dalam situasi yang aman.
  5. Pelatihan Mentoring dan Coaching: Manajer senior dapat mengarahkan dan memberi panduan kepada bawahan dalam bentuk mentoring atau coaching.

Pelaksanaan pelatihan dan pengembangan karyawan memiliki sejumlah kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan oleh organisasi. Berikut adalah beberapa dari mereka:

Kelebihan Pelaksanaan Pelatihan dan Pengembangan Karyawan:

  1. Peningkatan Kinerja: Pelatihan yang efektif dapat meningkatkan kinerja karyawan, membantu mereka menguasai keterampilan dan pengetahuan baru yang diperlukan untuk tugas mereka.
  2. Pengembangan Keterampilan: Memberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan karyawan yang relevan dengan pekerjaan mereka, yang dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
  3. Peningkatan Motivasi: Karyawan yang mendapatkan pelatihan yang baik cenderung lebih termotivasi karena mereka merasa dihargai dan memiliki peluang untuk pertumbuhan karier.
  4. Retensi Karyawan: Organisasi yang berinvestasi dalam pengembangan karyawan cenderung memiliki tingkat retensi yang lebih tinggi karena karyawan merasa terikat dengan peluang pengembangan yang ditawarkan.
  5. Kemampuan Beradaptasi: Pelatihan membantu karyawan untuk lebih mudah beradaptasi dengan perubahan dalam teknologi, proses kerja, dan strategi bisnis.
  6. Peningkatan Kualitas Produk/layanan: Karyawan yang terlatih dengan baik cenderung memberikan produk atau layanan yang lebih berkualitas kepada pelanggan.

Kekurangan Pelaksanaan Pelatihan dan Pengembangan Karyawan:

  1. Biaya: Pelatihan dan pengembangan memerlukan investasi finansial yang signifikan dalam bentuk biaya pelatihan, gaji instruktur, dan sumber daya lainnya.
  2. Waktu: Pelaksanaan pelatihan membutuhkan waktu, yang dapat mengganggu produktivitas saat karyawan harus absen dari pekerjaan mereka untuk mengikuti pelatihan.
  3. Tidak Pasti Hasil: Tidak ada jaminan bahwa semua karyawan akan merespons pelatihan dengan peningkatan kinerja yang signifikan.
  4. Penyesuaian Terhadap Perubahan: Karyawan yang telah mengikuti pelatihan mungkin perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi setelah pelatihan, yang dapat mengganggu stabilitas dalam jangka pendek.
  5. Pelepasan Karyawan: Kadang-kadang, hasil pelatihan mungkin mengungkapkan ketidaksesuaian antara karyawan dengan pekerjaannya, yang dapat mengakibatkan pelepasan karyawan.
  6. Pertimbangan Individual: Tidak semua karyawan mungkin memiliki minat atau kemampuan yang sama untuk mengikuti pelatihan tertentu, sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan semua orang secara merata.

Program pelatihan yang populer dapat bervariasi tergantung pada tren industri dan perkembangan terkini.  beberapa program pelatihan yang populer meliputi:

  1. Pelatihan Keterampilan Teknologi: Terkait dengan pengembangan keterampilan dalam pemrograman, analisis data, kecerdasan buatan, dan teknologi terkini.
  2. Pelatihan Keahlian Digital: Fokus pada pengembangan kompetensi dalam pemasaran digital, e-commerce, dan media sosial.
  3. Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen: Untuk pengembangan kepemimpinan, manajemen waktu, dan kemampuan manajerial.
  4. Pelatihan Dalam Keberlanjutan dan CSR: Terkait dengan tanggung jawab sosial perusahaan dan praktik bisnis berkelanjutan.
  5. Pelatihan Keterampilan Komunikasi: Meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal dan profesional.
  6. Pelatihan Keterampilan Digital dan Kecerdasan Buatan (AI): Keterampilan digital dan pemahaman tentang kecerdasan buatan semakin penting di berbagai industri. Program pelatihan yang fokus pada pemahaman AI, pemrosesan bahasa alami, dan pengembangan aplikasi AI semakin diminati.
  7. Pelatihan Remote dan Hibrida: Seiring dengan pertumbuhan bekerja dari jarak jauh, pelatihan online dan hibrida (gabungan pelatihan online dan offline) semakin umum. Program pelatihan yang dirancang untuk mendukung kemampuan bekerja dari jarak jauh, manajemen waktu, dan kolaborasi virtual menjadi penting.
  8. Pelatihan Keterampilan Lunak: Keterampilan lunak seperti kepemimpinan, manajemen konflik, keterampilan interpersonal, dan empati semakin diprioritaskan dalam pelatihan. Ini membantu individu dalam beradaptasi dengan perubahan dinamis dalam lingkungan kerja.
  9. Pelatihan Keamanan Cyber: Dalam era digital, pelatihan keamanan cyber menjadi krusial untuk melindungi data dan sistem informasi. Ini mencakup pelatihan tentang cara mengidentifikasi ancaman, mengelola risiko, dan melindungi organisasi dari serangan siber.
  10. Pelatihan Kebijakan Keberlanjutan: Seiring dengan meningkatnya kesadaran tentang isu-isu lingkungan dan keberlanjutan, program pelatihan yang berfokus pada pemahaman tentang kebijakan dan praktik keberlanjutan semakin penting bagi perusahaan.
  11. Pelatihan Berbasis Keterampilan Masa Depan: Program pelatihan yang berfokus pada keterampilan masa depan seperti pemrograman robotik, realitas virtual/augmented, dan teknologi blockchain juga mendapatkan perhatian lebih.
  12. Pelatihan Diversitas, Inklusi, dan Kesetaraan: Kesadaran akan pentingnya diversitas, inklusi, dan kesetaraan dalam tempat kerja semakin meningkat. Program pelatihan yang menekankan kebijakan dan praktik yang mendukung keragaman karyawan menjadi semakin populer

Penting untuk dicatat bahwa tren dalam pelatihan dan pengembangan terus berubah seiring perkembangan teknologi, perubahan dalam lingkungan bisnis, dan kebutuhan organisasi yang berkembang. Oleh karena itu, organisasi dan individu perlu tetap up-to-date dengan tren terbaru dan selalu siap untuk belajar dan beradaptasi.

Berapa Buku dan jurnal yang bekaitan dengan judul :

Buku:

  1. “Employee Training and Development” oleh Raymond A. Noe (Edisi terbaru). Buku ini adalah salah satu referensi utama dalam bidang pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia.
  2. “Designing Training and Development Systems” oleh Steven W. Schmidt. Buku ini memberikan panduan komprehensif tentang merancang sistem pelatihan yang efektif dalam organisasi.
  3. “Handbook of Training and Development” oleh Robert L. Craig (Edisi terbaru). Buku ini berisi artikel dan wawasan dari berbagai penulis tentang pelatihan dan pengembangan.

Jurnal:

  1. “Journal of Training and Development”: Jurnal ini mencakup berbagai topik terkait pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia. Jurnal ini terbit setiap kuartal dan berisi artikel penelitian terkini dalam bidang ini.
  2. “International Journal of Training and Development”: Jurnal ini fokus pada isu-isu global dalam pelatihan dan pengembangan. Artikelnya mencakup penelitian, studi kasus, dan ulasan literatur terkait.
  3. “Human Resource Development Quarterly”: Jurnal ini berfokus pada aspek-aspek pembelajaran dan pengembangan dalam konteks sumber daya manusia. Ini mencakup berbagai topik seperti desain pelatihan, pengukuran efektivitas, dan pengembangan karier

Beberapa Tulisan Ilmiah dari Penulis :

Prayudi, A., Zega, Y., & Nasution, I. (2023). Analisis Pengaruh Lingkungan Kerja, Disiplin Kerja, dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT Indonesia Abadi Jaya. Jurnal Sains Dan Teknologi5(1), 37-43. Retrieved from https://ejournal.sisfokomtek.org/index.php/sai

Sari, W., & Prayudi, A. (2023). Can Competitive Intensity Act a Bridge between Institutional Pressures and Corporate Financial Performance in Indonesia’s Footwear Industry? A Structural Equation Modelling Approach. Transnational Marketing Journal11(1), 199-212. Retrieved from http://transnationalmarket.com/menu-script/index.php/transnational/article/view/323

Pengaruh Kepemimpinan tranformasional, budaya organiasi, kopentensi karyawan terhadap loyalitas karyawan di Badan Usaha Milik Daerah – repo unpas. (2023). Retrieved 27 August 2023, from http://repository.unpas.ac.id/62662/

Pratiwi, H., PRAYUDI, A., SINAGA, K., MAHYUDANIL, M., & ADITI, B. (2022). PENGARUH HARGA DAN KUALITAS PELAYANAN SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN PT. HERFINTA FARM AND PLANTATION. Journal Of Global Business And Management Review4(2), 72. doi: 10.37253/jgbmr.v4i2.7268

Ahmad Prayudi, & Imas Komariyah. (2023). THE IMPACT OF WORK MOTIVATION, WORK ENVIRONMENT, AND CAREER DEVELOPMENT ON EMPLOYEE JOB SATISFACTION. Jurnal Visi Manajemen9(1), 100-112. doi: 10.56910/jvm.v9i1.268

Pratiwi, H., Mendrofa, S., Zega, Y., Prayudi, A., & Sulaiman, F. (2022). Budaya Organisasi Dan Stress Kerja: Pengaruh Terhadap Kinerja Karyawan PT. Herfinta Farm And Plantation. Ekonomi, Keuangan, Investasi Dan Syariah (EKUITAS)4(2), 505-511. doi: 10.47065/ekuitas.v4i2.2592

Amelia, W., Prayudi, A., Khairunnisak, K., Pratama, I., & Febrizaldy, F. (2022). Edukasi Warga Desa Sembahe Baru Dalam Rangka Peningkatan Penghasilan Melalui Ekonomi Kreatif Pengolahan Sampah Plastik. Pelita Masyarakat4(1), 92-100. doi: 10.31289/pelitamasyarakat.v4i1.7378

Sinaga, R., Sinaga, K., Prayudi, A., Pratiwi, H., & Sulaiman, F. (2022). Kepuasan Pelanggan sebagai Faktor Kualitas Pelayanan PT. Mada Graha Nagata dengan Multi Attribute Attitude Model. Ekonomi, Keuangan, Investasi Dan Syariah (EKUITAS)4(1), 198-202. doi: 10.47065/ekuitas.v4i1.2086

Chairunnisa, S., & Prayudi, A. (2022). Pengaruh Fluktuasi Kurs Mata Uang terhadap Harga Saham Pt. Bank Central Asia, Tbk di Indonesia. Economics, Business And Management Science Journal2(2), 108-116. doi: 10.34007/ebmsj.v2i2.293

Prayudi, A. (2022). ANALISIS PENGARUH PENGGAJIAN, FASILITAS KERJA DAN GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA BINJAI. JURNAL MANAJEMEN8(1), 17-30. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/154

Gea, N., Effendi, I., & Prayudi, A. (2021). Pengaruh Manajemen Modal Kerja Terhadap Kinerja Keuangan Pada Perusahaan Sektor Transportasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)2(2), 146-152. doi: 10.31289/jimbi.v2i1.456

Ritonga, S., Effendi, I., & Prayudi, A. (2021). Pengaruh Struktur Modal Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Consumer Goods di BEI. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)2(2), 86-95. doi: 10.31289/jimbi.v2i1.383

Prayudi, A. (2021). KEPUASAN KERJA DAN MOTIVASI KERJA PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA MEDAN. Jurnal Ilmu Manajemen METHONOMIX4(2), 75-84. Retrieved from https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/methonomix/article/view/1109

Latief, A., Ramadansyah, J., Wijoyo, H., Prayudi, A., & Putra, R. (2021). The Influence of Work Motivation and Organizational Culture to Employee Performance. Retrieved 27 August 2023, from https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=3926924

Sinaga, I., Lubis, A., & Prayudi, A. (2020). PENGARUH INTERNET FINANCIAL REPORTING (IFR) DAN TINGKAT PENGUNGKAPAN INFORMASI WEBSITE TERHADAP FREKUENSI PERDAGANGAN SAHAM PADA PERUSAHAAN PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BEI. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(2). doi: 10.31289/jimbi.v1i2.394

Br Lubis, H., Effendi, I., & Prayudi, A. (2020). PENGARUH TINGKAT MODAL KERJA TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN OTOMOTIF & KOMPONEN YANG TERDAFTAR DI BEI PERIODE 2014 – 2018. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(2). doi: 10.31289/jimbi.v1i2.396

Brahamana, N., & Prayudi, A. (2020). Analisis Profitabilitas Dalam Pemberian Kredit Pada Koperasi Kredit Unam Berastagi. Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Bisnis (JIMBI)1(1), 131-140. Retrieved from https://mail.jurnalmahasiswa.uma.ac.id/index.php/jimbi/article/view/376

Prayudi, A. (2020). PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP KINERJA KARYAWAN DENGAN MOTIVASI KERJA SEBAGAI VARIABEL INTERVENING (STUDI PADA KARYAWAN PD. PEMBANGUNAN KOTA BINJAI). JURNAL MANAJEMEN1(2), 63-72. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/128

Prayudi, A., & Tanjung, M. (2018). ANALISIS KINERJA PERUSAHAAN DENGAN METODE BALANCED SCORECARD PADA PT. RIA BUSANA MEDAN. JURNAL MANAJEMEN4(2), 126-130. Retrieved from http://www.ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/33

Prayudi, A. (2017). PENGARUH KEPEMIMPINAN DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PT. RAJAWALI NUSINDO CABANG MEDAN. JURNAL MANAJEMEN3(2), 20-27. Retrieved from http://ejournal.lmiimedan.net/index.php/jm/article/view/10

Prayudi, A., & Ilhammi, N. (2015). ANALISIS RASIO UTANG ATAS MODAL DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP PENGEMBALIAN SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA. JURNAL AKUNTANSI DAN BISNIS : Jurnal Program Studi Akuntansi1(2). Retrieved from https://www.ojs.uma.ac.id/index.php/jurnalakundanbisnis/article/view/1723

Komariyah, I., Prayudi, A., Edison, E., & Laelawati, K. (2023). THE RELATIONSHIP BETWEEN ORGANIZATIONAL CULTURE AND COMPETENCE WITH ORGANIZATIONAL COMMITMENT IN EMPLOYEES OF BUMD BINJAI, NORTH SUMATRA. Jurnal Riset Bisnis Dan Manajemen16(2), 210-218. doi: 10.23969/jrbm.v16i2.7572

https://scholar.google.co.id/citations?user=7Lb6gbUAAAAJ&hl=id&authuser=2